Live score

sekolah ternak

puskesmas sumberrejo

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

benihtoto

advanced building ltd

7 brenovation

whatsapp marketing yusoftware

Projects | LJR28 Realty

dagelan4d

Featured Trips & Itineraries - Gulliver Trips

Import & Export of premium Beverages

limonuk

Alert Care Ltd

Professional Service for Your Assets

Best Drop and Scratch Protection

The Best Valentine’s Gifts 2026

Комплексные поставки промышленного сырья

Барс - Каталог прицепов

ZBM Collections

IT SOLUTIONS & SERVICES

TEKNAS

ormastoto

venus beauty spa

near to me

Rapid Oilfield Services

Physio Rehabilitation

KeyZone

Best Healthy Meal Plans Provider in Dubai

Aakriti Infraa Solutions

pomeri

Superior cuts

dagelan4d

Erura

dagelan4d

Mystic Sea Brewing

Transformasi Rivalitas Jokowi-Prabowo dan Polarisasi Politik yang Masih Membekas - SP NEWS GLOBAL INDONESIA

SP NEWS GLOBAL INDONESIA

Berita Seputar Global Indonesia

Nasional

Transformasi Rivalitas Jokowi-Prabowo dan Polarisasi Politik yang Masih Membekas

JAKARTA, KOMPAS.com – Presiden Joko Widodo telah memimpin Indonesia selama 10 tahun, mulai 2014 hingga 2024.

Read More : Pemerintah Diam-diam Rapat Bareng DPR soal Revisi UU TNI, Ada yang Diperbaiki

Pada masa kepemimpinannya, Indonesia mengalami beberapa dinamika politik yang signifikan, salah satunya adalah ketatnya persaingan pada pemilu 2019.

Pada pemilu 2019, Jokowi kembali berhadapan dengan Prabowo Subianto, melanjutkan rivalitas politik yang dimulai sejak pemilu presiden tahun 2014.

Pertarungan ini mencerminkan tingginya polarisasi politik di Indonesia, dimana masyarakat terbagi menjadi dua wilayah yang berlawanan.

Baca juga: Pemberantasan Korupsi 10 Tahun Jokowi: Antara Janji dan Kenyataan

CEO Trias Politika Strategis Agung Baskoro mengatakan hubungan antara Jokowi dan Prabowo mengalami pasang surut sejak pemilu Jakarta tahun 2012.

Persaingan ini semakin nyata pada Pilpres 2014, Pilkada Jakarta 2017, dan semakin kuat pada Pilpres 2019.

“Secara pribadi, karena hubungan Prabowo-Jokowi mengalami pasang surut pasca Pilkada Jakarta 2012. Kemudian masing-masing mempunyai peluang politik yang berbeda dari Pilpres 2014, Pilkada Jakarta 2017, dan Pilpres 2019,” kata Agung. Kepada Kompas.com, Minggu (13/10/2024).

Polarisasi ini bukan sekadar perbedaan pandangan politik, namun sudah menjadi fenomena yang merusak hubungan personal antar individu.

Faktanya, istilah “cebong” ditujukan untuk pendukung Jokowi, dan “kampret” untuk pendukung Prabowo.

Baca Juga: TKN: Jokowi dan Prabowo Bersatu, Cebong-Kampret Menyingkir

Menurut Agung, dinamika politik dan antagonisme yang muncul dalam kontestasi ini merupakan buah dari strategi politik masing-masing kelompok yang berhasil.

“Di sisi elektoral, dinamika politik sepanjang perjuangan politik pemilu merupakan hasil dari strategi politik yang dilakukan masing-masing kelompok oposisi/konsultan,” kata Agung.

Read More : BNPB: Hujan di Jabodetabek Berhasil Dikendalikan dengan Modifikasi Cuaca

Prabowo sendiri pernah mengakui masyarakat Indonesia saat itu sedang terpecah belah. Ia menambahkan, situasi saat itu sangat serius, apalagi setelah Jokowi dinyatakan sebagai pemenang.

Sebab, kata Prabowo, ia melihat para pendukungnya sangat marah dengan situasi yang terjadi. Prabowo kemudian menyadari bahwa jika dirinya turut memperburuk situasi, potensi perpecahan bangsa akan semakin besar.

“Saya melihat para pengikut saya di ambang kemarahan saat itu. Saya ingat, saya sadar, saya paham, hati-hati, Indonesia selalu menjadi korban perpecahan, selalu menjadi korban adu domba. Selalu menjadi korban perpecahan. Impera, kata Prabowo, Selasa (2023/07/11) saat menghadiri Rakernas Lembaga Dakwah Indonesia (LDII) di Jakarta Timur.

Saling serang dengan kampanye negatif

Polarisasi yang terjadi tak lepas dari saling serang antara kubu Jokowi dan Prabowo saat kampanye.

Partai besutan Jokowi kerap melontarkan pertanyaan terkait dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan Prabowo di era Orde Baru.

Selain itu, Partai Gerindra pimpinan Prabowo juga menuding Jokowi sebagai partai dengan mantan calon legislatif paling korup, mengutip data Indonesia Corruption Watch (ICW).

“Tanda tangan caleg sebagai ketua umum berarti Pak Prabowo yang menandatangani. Bagaimana penjelasannya?” tanya Jokowi saat debat pertama calon Pilpres 2019, Kamis (17/1/2019).

Baca juga: Dua Pertemuan Jokowi-Prabowo Jelang Pelantikan Presiden Baru,

Kasus ini dimanfaatkan Jokowi untuk mempertanyakan kredibilitas Prabowo sebagai calon pemimpin nasional.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *