Live score

sekolah ternak

puskesmas sumberrejo

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

benihtoto

advanced building ltd

7 brenovation

whatsapp marketing yusoftware

Projects | LJR28 Realty

Featured Trips & Itineraries - Gulliver Trips

Import & Export of premium Beverages

limonuk

Alert Care Ltd

Professional Service for Your Assets

Best Drop and Scratch Protection

The Best Valentine’s Gifts 2026

Комплексные поставки промышленного сырья

Барс - Каталог прицепов

ZBM Collections

IT SOLUTIONS & SERVICES

TEKNAS

ormastoto

venus beauty spa

near to me

Rapid Oilfield Services

Physio Rehabilitation

KeyZone

Best Healthy Meal Plans Provider in Dubai

LignoSat, Satelit Kayu Pertama di Dunia Mengorbit Bumi - SP NEWS GLOBAL INDONESIA

SP NEWS GLOBAL INDONESIA

Berita Seputar Global Indonesia

Internasional

LignoSat, Satelit Kayu Pertama di Dunia Mengorbit Bumi

KOMPAS.com – Pada Selasa (11-05-2024), satelit kayu pertama di dunia bernama LignoSat dikirim ke luar angkasa. Satelit yang dikembangkan oleh ilmuwan dari Jepang ini telah menyelesaikan pengujian di masa lalu.

Read More : Israel Gempur Pangkalan Militer Suriah, Tak Akan Toleransi Pemerintahan Baru

Setelah masa pengujian berakhir, satelit ini dikirim ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) menggunakan roket milik perusahaan luar angkasa milik Elon Musk, SpaceX.

Roket ini diluncurkan dari Kennedy Space Center, fasilitas peluncuran luar angkasa NASA di Florida, AS. Sesampainya di ISS, satelit ini diluncurkan ke luar angkasa untuk mengorbit Bumi pada ketinggian sekitar 400 kilometer di atas permukaan bumi.

Setelah diluncurkan, LignoSat akan tetap berada di orbit selama enam bulan. Komponen elektronik di dalamnya akan mengukur ketahanan kayu terhadap lingkungan luar angkasa yang ekstrem, di mana suhu berfluktuasi antara minus 100 hingga 100 derajat Celcius setiap 45 menit, dari gelap hingga terang.

Baca Juga: BUMN China siapkan 15.000 satelit untuk bersaing dengan Starlink

Satelit ini juga akan menguji kemampuan kayu dalam mengurangi dampak sinar kosmik pada semikonduktor, yang dapat berguna dalam pembangunan pusat data di masa depan.

Satelit LignoSat dikembangkan oleh tim peneliti di Universitas Kyoto bekerja sama dengan perusahaan kayu Sumitomo Forestry.

Biasanya satelit terbuat dari bahan logam karena lebih kedap air dan tahan terhadap radiasi serta suhu ekstrem di luar angkasa. Hal ini penting karena satelit biasanya memiliki komponen elektronik.

Sehingga para peneliti sengaja memilih kayu karena ingin melihat potensi kayu sebagai bahan alternatif untuk misi eksplorasi luar angkasa ke Bulan dan Mars.

Takao Doi, mantan astronot dan pakar aktivitas luar angkasa di Universitas Kyoto yang terlibat dalam pengembangan satelit ini mengatakan, pohon tersebut lebih berpotensi menciptakan kehidupan di bulan atau Mars.

Read More : Budiman Sudjatmiko Sebut 20 Persen Bansos Tak Tepat Sasaran

“Dengan kayu, bahan yang bisa kita produksi sendiri, kita bisa membangun rumah, tinggal dan bekerja di luar angkasa selamanya,” kata Doi seperti dirangkum KompasTekno dari CNN.

Timnya memiliki visi membangun rumah kayu di bulan atau Mars dalam 50 tahun ke depan. Untuk lebih menyelesaikan rencana mereka, Doi dan timnya mendaftarkan satelit kayu ke NASA sebagai bukti bahwa kayu dapat menjadi material yang siap digunakan di luar angkasa.

Satelit LignoSat berbentuk kubus dan berukuran mini, hanya seukuran telapak tangan orang dewasa. Satelit ini dikembangkan dengan menggunakan kayu honoki, sejenis kayu magnolia yang terkenal dengan kekuatannya yang tinggi.

Kayu ini juga sering digunakan untuk dudukan pedang. Honoki juga telah melakukan eksperimen di ISS selama 10 bulan.

Baca juga: Studi: Satelit Starlink Bisa Merusak Lapisan Ozon

Pemilihan material kayu tidak hanya didasarkan pada keawetannya saja, namun juga pertimbangan keberlanjutan dan dampak lingkungan yang lebih rendah dibandingkan material logam.

Selain itu, kayu tersebut akan terbakar habis ketika masuk kembali ke atmosfer, sehingga tidak meninggalkan puing-puing luar angkasa.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *