Live score

sekolah ternak

puskesmas sumberrejo

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

benihtoto

advanced building ltd

7 brenovation

whatsapp marketing yusoftware

Projects | LJR28 Realty

Featured Trips & Itineraries - Gulliver Trips

Import & Export of premium Beverages

limonuk

Alert Care Ltd

Professional Service for Your Assets

Best Drop and Scratch Protection

The Best Valentine’s Gifts 2026

Комплексные поставки промышленного сырья

Барс - Каталог прицепов

ZBM Collections

IT SOLUTIONS & SERVICES

TEKNAS

ormastoto

venus beauty spa

near to me

Rapid Oilfield Services

Physio Rehabilitation

KeyZone

Best Healthy Meal Plans Provider in Dubai

BESS, Teknik Minim Sayatan untuk Operasi Tulang Belakang - SP NEWS GLOBAL INDONESIA

SP NEWS GLOBAL INDONESIA

Berita Seputar Global Indonesia

Kesehatan

BESS, Teknik Minim Sayatan untuk Operasi Tulang Belakang

KOMPAS.com – Saat ini pilihan pengobatan bagi pasien gangguan tulang belakang semakin banyak. Salah satu yang semakin diminati adalah bedah minimal invasif, yakni melibatkan sayatan minimal atau minimally invasif endoskopi tulang belakang (BESS). Teknik ini memberikan harapan baru bagi penderita berbagai penyakit tulang belakang.

Read More : Eksklusif Kompas.com: Kanker Paru Tak Hanya Ancam Perokok, Penjelasan dr Ang Peng Tiam lewat Wawancara Khusus

Menurut Dr.S Dohar A.L Tobing Sp.OT(K) Spine, BESS adalah prosedur pembedahan, disebut juga bedah terbuka, yang menggunakan teknologi endoskopi untuk mengakses tulang belakang dengan minimal invasif.

“Teknik ini melibatkan penggunaan instrumen yang sangat kecil dan kamera, yang memungkinkan dokter melakukan prosedur melalui sayatan kecil sederhana yang tidak lebih dari satu sentimeter,” ujarnya dalam siaran pers.

Keunggulan utama BESS dibandingkan metode bedah konvensional adalah mengurangi trauma jaringan di sekitar tulang belakang, mengurangi rasa sakit, dan mempercepat pemulihan.

BESS dapat digunakan untuk mengatasi masalah tulang belakang, salah satu cara yang paling umum adalah menghilangkan herniated disc, atau cakram tulang belakang yang menonjol dan memberikan tekanan pada area sekitarnya dan menyebabkan rasa sakit yang parah.

Baca juga: Penyebab Sakit Punggung Kronis

“Dengan menggunakan teknik BESS, dokter dapat menghilangkan cakram yang menggembung tanpa memerlukan sayatan besar, sehingga meminimalkan risiko dan mempercepat pemulihan,” kata Dr. Dohar yang berpraktik di RS Siloam Mampang Jakarta.

Selain menghilangkan hernia diskus, BESS juga dapat digunakan untuk mendekompresi saraf, yang penting dalam mengobati kondisi di mana saraf tulang belakang tertekan.

Menurut Dr. Di Doha, banyak pasien yang merasa lebih nyaman dengan hasil operasi BESS karena lebih cepat pulih.

“Dalam waktu sekitar dua hingga tiga hari, pasien biasanya sudah bisa berjalan dan melakukan gerakan ringan setelah prosedur,” ujarnya.

Namun, tidak semua pasien merupakan kandidat untuk operasi BESS. Menjelaskan Dr. Jephtah F. L. Tobing, Sp.OT (K) Tergantung pada kondisi pasien, ada beberapa pertimbangan penting seperti usia, kesehatan umum, dan tingkat keparahan masalah tulang belakang.

Read More : Pasien Harus Didampingi Saat Periksa USG Kehamilan

Baca juga: Pilihan pengobatan saraf terjepit di leher

“Misalnya, pasien yang lebih muda, lebih sehat dengan masalah tulang belakang yang tidak terlalu rumit mungkin lebih cocok untuk menjalani BESS dibandingkan pasien dengan banyak kondisi medis lainnya,” kata Dr. Iftah.

Pasien dengan infeksi aktif, kelainan anatomi tertentu, atau pasien yang memerlukan prosedur yang lebih rumit mungkin bukan kandidat yang baik untuk BESS.

Meskipun BESS menawarkan banyak keuntungan, seperti prosedur bedah lainnya, terdapat risiko dan komplikasi yang harus diwaspadai.

Tingkat komplikasi BESS biasanya lebih rendah dibandingkan operasi konvensional, namun tetap ada kemungkinan terjadinya infeksi, pendarahan, atau kerusakan jaringan saraf.

Oleh karena itu, evaluasi menyeluruh terhadap kondisi pasien diperlukan sebelum memutuskan prosedur ini.

Baca Juga: Bolehkah Berolahraga Saat Sakit Punggung?

  Dengarkan berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponsel Anda. Pilih saluran berita favorit Anda untuk mengakses saluran WhatsApp Kompas.com: https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan Anda telah menginstal WhatsApp.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *