Live score

sekolah ternak

puskesmas sumberrejo

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

benihtoto

advanced building ltd

7 brenovation

whatsapp marketing yusoftware

Kakinada Institute of Engineering and Technology

Projects | LJR28 Realty

Featured Trips & Itineraries - Gulliver Trips

Import & Export of premium Beverages

limonuk

Alert Care Ltd

Professional Service for Your Assets

Best Drop and Scratch Protection

The Best Valentine’s Gifts 2026

Комплексные поставки промышленного сырья

Барс - Каталог прицепов

ZBM Collections

IT SOLUTIONS & SERVICES

TEKNAS

ormastoto

venus beauty spa

near to me

wegen india

fucan - Your Ultimate Sports Hub

tradedial

Mizoram Ground Water Authority

Whoogle Expo

GLOBAL NEWS Dilema Mongolia: Diapit Rusia-China, Dituntut Ukraina - SP NEWS GLOBAL INDONESIA

SP NEWS GLOBAL INDONESIA

Berita Seputar Global Indonesia

Global

GLOBAL NEWS Dilema Mongolia: Diapit Rusia-China, Dituntut Ukraina

JAKARTA, KOMPAS.com – Presiden Rusia Vladimir Putin tidak ditangkap meskipun ia berkunjung ke Mongolia, negara anggota Pengadilan Kriminal Internasional (ICC), di mana ia seharusnya ditangkap berdasarkan surat perintah penangkapan.

Read More : Kebijakan Trump yang Kontroversial: Keluar dari Paris Agreement dan WHO, Bebaskan 1.583 Perusuh Gedung Capitol

Putin mengunjungi Mongolia pada awal September 2024. Alih-alih ditangkap, ia malah dihadiahi karpet merah di ibu kota, Ulan Bator.

Duta Besar Ukraina untuk Indonesia Vasyl Hamianin mengatakan strategi Rusia adalah untuk menunjukkan bahwa surat perintah penangkapan ICC tidak ada artinya dan tidak memiliki kekuatan untuk menangkapnya.

Baca juga: Bukannya Ditangkap, Putin Berjalan di Karpet Merah di Mongolia

Itu sebabnya pemerintah Rusia sudah lama mengincarnya, sejak mereka (ICC) mengeluarkan perintah (penangkapan), bagaimana mereka (Rusia) melawannya, bagaimana membuatnya tidak berguna, kata Hamianin. Wawancara Kompas.com, Selasa (8/10/2024).

Hamianin mengklaim Rusia juga berupaya mendekati Afrika Selatan, tuan rumah KTT BRICS Agustus 2023. Afrika Selatan juga merupakan anggota ICC.

BRICS adalah sekelompok negara yang kuat secara ekonomi dengan Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan sebagai anggota utamanya.

Pada akhirnya Putin tidak datang. Ia hanya memberikan pidato biasa, digantikan oleh Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov.

ICC telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Putin, menuduh presiden Rusia tersebut melakukan kejahatan perang dengan mendeportasi secara ilegal 20.000 anak-anak Ukraina ke Rusia.

“(Anak-anak tersebut) termasuk anak yatim piatu dan anak-anak penyandang disabilitas, termasuk anak-anak yang orang tuanya dibunuh oleh pasukan Rusia,” kata Hamianin.

Read More : Zelensky: Ukraina Tertarik pada Perdamaian, Siap Berunding dengan AS Minggu Depan

Namun dalam praktiknya, ICC tidak bisa berbuat banyak jika Mongolia tidak memenuhi kewajibannya.

“Mongolia pasti akan dituntut oleh Pengadilan Kriminal Internasional karena melanggar kewajiban kerja samanya,” kata Tamas Hoffmann, peneliti senior di Institute for Legal Studies, seperti dikutip Politico.

“ICC dapat memutuskan untuk merujuk kasus ini ke Majelis Negara-Negara Pihak, yang mungkin mengutuk pelanggaran yang dilakukan Mongolia berdasarkan prosedur yang tidak dipatuhi. Namun, tidak ada konsekuensi serius seperti sanksi bagi negara-negara yang melanggar,” tambah Hoffman.

Baca juga: Judi “Online”: Jebakan Indonesia, Rangkul Perang di Ukraina Dilema Mongolia

Menurut Hamianin, keputusan Mongolia untuk tidak menangkap Putin dapat dipahami karena posisi antara China dan Rusia, dua negara yang belum menandatangani Perjanjian Roma dan keduanya merupakan sekutu dekat.

Mongolia, negara demokrasi yang terletak di antara Rusia dan Tiongkok, memiliki hubungan budaya yang erat dengan Moskow dan hubungan dagang yang penting dengan Beijing, seperti dikutip kantor berita AFP.

Mongolia berada di bawah kekuasaan Moskow selama era Soviet dan telah memelihara hubungan baik dengan Kremlin dan Beijing sejak pecahnya Uni Soviet pada tahun 1991.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *