Live score

sekolah ternak

puskesmas sumberrejo

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

benihtoto

advanced building ltd

7 brenovation

whatsapp marketing yusoftware

Projects | LJR28 Realty

Featured Trips & Itineraries - Gulliver Trips

Import & Export of premium Beverages

limonuk

Alert Care Ltd

Professional Service for Your Assets

Best Drop and Scratch Protection

The Best Valentine’s Gifts 2026

Комплексные поставки промышленного сырья

Барс - Каталог прицепов

ZBM Collections

IT SOLUTIONS & SERVICES

TEKNAS

ormastoto

venus beauty spa

near to me

Rapid Oilfield Services

Physio Rehabilitation

Penjualan Mobil Nasional Terancam Kembali ke Level Pandemi Covid-19 - SP NEWS GLOBAL INDONESIA

SP NEWS GLOBAL INDONESIA

Berita Seputar Global Indonesia

Otomotif

Penjualan Mobil Nasional Terancam Kembali ke Level Pandemi Covid-19

JAKARTA, KOMPAS.com – Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo) menyebutkan penjualan mobil di dalam negeri pada tahun depan terancam kembalinya pandemi Covid-19, sekitar 500.000.

Read More : Kesalahan Pengemudi Mobil Manual Saat Melintas di Tanjakan

Sekretaris Jenderal Gaikindo Kukuh Kumara menjelaskan, hal itu mungkin terjadi jika Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dinaikkan menjadi 12 persen.

Ada pula opsi perpajakan tambahan, antara lain Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Tunjangan Balik Kendaraan (BBNKB).

Baca Juga: Toyota mendapat permintaan mobil hybrid murah

“Jika kebijakan ini diterapkan, penurunannya akan signifikan. Tahun ini saja, target penjualan direvisi dari 1 juta unit menjadi 850.000 unit. “Dengan tambahan opsi pajak dan PPN 12 persen, penjualan bisa turun ke level epidemi, sekitar 500.000 unit,” kata Kukuh baru-baru ini.

Ia menambahkan, perkiraan menunjukkan bahwa setiap kenaikan opsi pajak sebesar 1 persen dapat menurunkan penjualan mobil sebesar 10 persen. Hal ini menjadi tantangan besar, apalagi mengingat menurunnya daya beli masyarakat.

Selain itu, Kukuh juga menegaskan, fenomena menurunnya kelas menengah, sekitar 10 juta jiwa yang tergerus di sektor ini, juga menjadi penyebab menurunnya daya beli mobil.

“Kelas menengahlah yang menggerakkan pasar mobil. “Kalau daya beli mereka turun dampaknya sangat signifikan,” ujarnya.

Baca juga: Efek Samping Pencampuran Bahan Bakar Beroktan Tinggi

Read More : Hyundai Harap Insentif Hybrid Dorong Penjualan Mobil Nasional

Dalam suatu kesempatan, Ketua Umum Gaikindo Jongkie Sugiarto mengatakan dampak kenaikan PPN sebesar 12 persen akan lebih besar bagi pembeli mobil kelas bawah. Pasalnya mobil seharga Rp 300 jutaan akan mendapat kenaikan harga sekitar Rp 3 jutaan.

Oleh karena itu, Gaikindo menegaskan industri otomotif memerlukan dukungan pemerintah, misalnya dengan menggunakan insentif finansial seperti pembebasan PPnBM yang terbukti efektif dalam masa pemulihan pandemi.

Sebagai perbandingan, Malaysia mampu mempertahankan pertumbuhan pasar mobil dengan kebijakan insentif yang kuat, bahkan melampaui Thailand dalam penjualan mobil.

Perekonomian Indonesia yang hanya tumbuh 5 persen, di bawah perkiraan awal sebesar 6 persen, memperburuk keadaan.

“Jika langkah-langkah strategis tidak diambil, posisi Indonesia di pasar mobil ASEAN mungkin terancam, sementara negara lain seperti Malaysia terus mengalami kemajuan yang signifikan,” kata Kukuh. Dengarkan berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponsel Anda. Pilih saluran media favorit Anda untuk mengakses saluran Kompas.com di WhatsApp: https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan Anda telah menginstal aplikasi WhatsApp.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *