Sudah menjadi rahasia umum dalam beberapa hari terakhir bahwa orang yang “bekerja keras” untuk menggulingkan keluarga Assad di Suriah adalah Recep Tayyip Erdogan dan Turkiye.
Hayat Tahrir al-Sham atau HTS, “kelompok terdepan” dalam “serangan mendadak” di Damaskus, selama ini menjadi agen Turkiye, hal ini membuat Erdogan sejak tahun 2016 (sejak HTS berpisah dari ISIS) memiliki hubungan yang rumit di Suriah, baik dengan Rusia, Iran, Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Qatar, serta dengan Amerika Serikat (termasuk tentu saja Israel).
Persetujuan HTS untuk memperluas domain militernya ke provinsi Aleppo pada Oktober 2024 datang dari Ankara, dengan dukungan logistik dan pemberian akses untuk menggunakan perbatasan Suriah-Turki.
Harapannya, pasukan HTS dan sekutunya, khususnya Tentara Nasional Suriah (SNA), bisa beroperasi tanpa harus khawatir bentrok dengan penjaga perbatasan Turki.
Bahkan ketika HTS berkuasa di provinsi Idlip, Turkiye adalah pelindung utama HTS dari serangan rezim (Assad).
Dengan kata lain, permainan kekuatan besar di Suriah cukup rumit. Oleh karena itu, bisa dikatakan keberhasilan Turkiye dan agennya, diakui atau tidak, kali ini cukup cerdas.
Pertandingan besar ini terjadi setelah “Musim Semi Arab” berubah menjadi perang saudara di Suriah, Libya, dan Irak. Faktanya, kedua negara hingga saat ini belum menunjukkan tanda-tanda stabilitas.
Di Suriah, selama sepuluh tahun terakhir, Bashar al-Assad tidak lagi efektif dalam mengelola pemerintahan akibat guncangan tersebut.
Legitimasi kewenangannya sangat minim, bukan hanya akibat konflik dan pemboman yang terjadi sepuluh tahun terakhir, namun juga akibat krisis ekonomi yang sangat akut di Suriah.
Hampir 90 persen penduduk Suriah tergolong miskin secara ekonomi, sehingga harapan akan perubahan ke arah yang lebih baik perlahan memudar.
Dalam jumlah besar, warga Suriah menjadi pencari suaka dan imigran di negara maju Eropa, bahkan Amerika Serikat.
Dalam beberapa hari terakhir, mereka merayakan kemenangan “kebebasan” Suriah di beberapa wilayah negara tersebut.
Yang membuat Assad tetap bertahta selama ini sebenarnya adalah Iran dan Rusia. Ketika rezim Assad hampir runtuh dan hampir dikepung oleh ISIS pada tahun 2015, Rusia adalah penyelamat Assad yang sebenarnya, bukan sekedar narasi.
Pasukan Rusia memasuki Suriah untuk membantu Assad dalam perang melawan ISIS, yang menyebabkan Barack Obama terbujuk untuk “bermain” secara langsung melawan Suriah, setahun setelah “tentara hijau kecil” Rusia mengambil alih Krimea, Ukraina.
Tindakan Vladimir Putin pada tahun 2015 jelas mendiskreditkan posisi Erdogan, karena beberapa kelompok yang didukung Turki mengambil posisi yang menentang Assad.