Artikel Apa yang Dimaksud dengan Induksi Laktasi? Ini Ulasannya… pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Zaskia Sungkar adalah salah satu contoh perempuan Indonesia yang mengikuti program ini untuk memberikan kebutuhan dasar kepada anak angkatnya.
Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, ASI merupakan makanan terbaik untuk bayi.
Nilai gizi tertinggi terdapat pada makanan bayi yang dibuat oleh manusia atau berasal dari susu hewani atau makanan nabati.
ASI disebut-sebut dapat mempengaruhi kesehatan anak seumur hidup.
Kandungan ASI berperan penting dalam pembentukan mikrobioma usus dan penyakit anak.
Lantas, apa yang dimaksud dengan induksi laktasi? Lanjutkan membaca artikel ini untuk mempelajari lebih lanjut tentang induksi menyusui.
Baca Juga: Zaskia Sungkar Ambil Anak dan Beri ASI Tanpa Hamil, Bagaimana Caranya? Apa yang dimaksud dengan induksi laktasi?
Diungkapkan Mayo Clinic, produksi ASI (laktasi) terjadi akibat interaksi kompleks antara tiga hormon, yakni estrogen, progesteron, dan laktogen plasenta manusia.
Prosedur ini dilakukan pada bulan-bulan terakhir kehamilan.
Saat melahirkan, kadar estrogen dan progesteron menurun, sehingga hormon prolaktin meningkat dan mengaktifkan produksi ASI.
Menyusui berarti memproduksi ASI dengan membalikkan interaksi hormonal tanpa menjadi hamil.
Ini adalah proses yang melibatkan pemberian estrogen dan progesteron selama beberapa bulan untuk meniru efek kehamilan.
Ini akan membantu mempersiapkan payudara Anda untuk menyusui.
Sekitar dua bulan sebelum Anda berencana untuk mulai menyusui, dokter Anda mungkin menghentikan terapi hormon dan mulai memompa payudara Anda dengan pompa payudara elektrik tingkat rumah sakit.
Langkah ini mendukung produksi dan pelepasan prolaktin.
Baca juga: Para Ahli Jelaskan Beberapa Cara agar Bayi Dapat Diberikan Pengganti ASI
Artikel Apa yang Dimaksud dengan Induksi Laktasi? Ini Ulasannya… pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Artikel Zaskia Sungkar Adopsi Bayi dan Beri ASI Tanpa Melalui Kehamilan, Bagaimana Caranya? pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>“Bismillah dokter @drtiwi membantu, program asi, ikuti anjuran dokter dengan ikhlas, istirahat, berbahagia, jangan berkecil hati dan banyak berdoa. ASI mulai keluar pelan-pelan, doakan,” tulisnya dalam postingannya. pesan. . Di Cerita Insta.
Sebelumnya, pada Selasa (14/1/2025), Zaskia mengunggah foto putri Humaira di Instagram, @zaskiasungkar15.
Banyak yang menduga Zaskia dan Irwansyah mengasuh anak setelah kelahiran anak pertama mereka, Muhammad Ukkasya pada tahun 2021, dan Zaskia tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
Baca selengkapnya: Para ahli menjelaskan berbagai kondisi di mana bayi dapat menerima susu formula
Dalam map Instagram, Zaskia merahasiakan wajahnya dan tidak membeberkan identitas anak Humaira.
Namun dalam keterangan di mapnya, Zaskia menyebut anak-anak tersebut adalah bagian dari keluarga kecilnya.
“Humaira
? Anak mami Abi, kakak Ukkasya sayang Huma,” tulis Zaskia di akun Instagramnya.
Meski tidak hamil, wanita berusia 34 tahun ini berusaha memberikan ASI kepada putrinya.
Caranya adalah dengan menerapkan program menyusui, yaitu induksi menyusui yang lebih tepat. Apa stimulasi laktasi?
Lanjutkan membaca artikel ini yang akan memberikan ulasan mengenai program induksi laktasi.
Baca selengkapnya: Apakah ASI Mengurangi Risiko Kanker Payudara? Apa stimulasi laktasi?
Sebagian besar masyarakat Indonesia mungkin belum familiar dengan program menyusui.
Program ini sangat bermanfaat bagi wanita yang tidak mampu hamil dan menyusui sendiri, namun memiliki keinginan untuk memberikan ASI sebagai kebutuhan dasar anak untuk disusui.
Dalam proses alami tubuh wanita, menurut Mayo Clinic, produksi ASI disebabkan oleh hubungan kompleks antara tiga hormon (estrogen, progesteron, dan laktogen plasenta manusia) pada bulan terakhir kehamilan.
Saat melahirkan, kadar estrogen dan progesteron menurun, sehingga hormon prolaktin meningkat dan merangsang produksi ASI.
Induksi laktasi bergantung pada keberhasilan replikasi proses ini.
Artikel Zaskia Sungkar Adopsi Bayi dan Beri ASI Tanpa Melalui Kehamilan, Bagaimana Caranya? pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Artikel Pemberian MPASI Harus Penuhi 4 Syarat Utama, Apa Saja? pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Pertama, tepat waktu. MPASI diberikan ketika ASI saja tidak dapat memenuhi kebutuhan energi bayi, dimulai pada usia 6 bulan.
“Kementerian Kesehatan menganjurkan pemberian MPASI sejak usia 6 bulan ke atas, karena pada usia 6 bulan terdapat kesenjangan antara kebutuhan energi anak dengan yang diperoleh dari ASI saja. “Secara global, banyak pedoman di Amerika Serikat dan Eropa yang juga merekomendasikan pemberian MPASI pada usia 6 bulan,” kata Daisy di Jakarta, dalam keterangan Kementerian Kesehatan.
Baca juga: MPASI Kaya Nutrisi, Kunci Cegah Anemia pada Bayi
Namun perlu diperhatikan bahwa memulai MPASI terlalu dini akan meningkatkan risiko infeksi patogen. Sebaliknya, jika terlambat memulai MPASI, akan mengakibatkan anak tidak mendapatkan nutrisi yang diperlukan untuk tumbuh kembangnya.
Menurut pedoman WHO tentang Makanan Pendamping ASI pada Bayi dan Anak tahun 2023, pemberian MPASI secara dini pada anak di bawah usia 6 bulan menimbulkan dampak buruk.
“Perkembangan kesiapan anak dalam mengonsumsi makanan yang buruk (organ anak belum siap mencerna makanan) meningkatkan risiko tumbuhnya penyakit akibat penyakit saluran cerna, seperti diare dan risiko alergi,” jelas Daisy.
“Kemudian kualitas MPASI lebih rendah dibandingkan ASI, apalagi jika makanannya berbentuk cair, kandungan gizinya rendah dan risiko obesitas meningkat,” ujarnya lagi.
Kedua, cukup. Pentingnya pemberian MPASI yang cukup adalah MPASI harus memberikan energi, protein, dan zat gizi mikro yang cukup untuk mencapai tumbuh kembang anak yang optimal. Pemberian MPASI memerlukan pertimbangan usia anak, jumlah, frekuensi, konsistensi/tekstur dan perbedaan variasi makanan.
Ketiga, berhati-hatilah. Artinya MPASI disiapkan dan disimpan secara higienis, diproduksi dengan tangan dan peralatan yang bersih.
Kunci dari pola makan yang aman adalah dengan memisahkan makanan mentah dari makanan matang dan menggunakan makanan mentah dan makanan matang, seperti daging, unggas, telur, dan ikan.
Keempat, diberikan dengan cara yang benar. Artinya MPASI harus memenuhi persyaratan yang direncanakan, lingkungan yang mendukung dan prosedur penerimaan yang sesuai.
Kebutuhan yang direncanakan adalah jadwal makan, termasuk jajanan yang teratur dan terencana. Kebutuhan lingkungan yang menstimulasi, misalnya hindari pemaksaan walaupun hanya makan 1-2 suap, perhatikan tanda-tanda anak lapar dan kenyang, adalah jelas Daisy Cantik.
Baca juga: 7 Rekomendasi WHO untuk Pemberian MPASI pada Anak
“Selanjutnya, syarat proses pemberian makan yang baik antara lain makan dalam porsi kecil dan mendorong anak untuk makan sendiri, dimulai dengan snack yang bisa dipegangnya,” imbuhnya.
Pada tahun 2024, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menerbitkan “Pedoman Teknis Pemantauan Praktik MP-ASI pada Anak Usia 6-23 Bulan”.
Panduan teknis ini bertujuan untuk meningkatkan pemantauan dan memperbaiki praktik MPASI pada anak usia 6 hingga 23 bulan di Indonesia. MPASI harus berbeda
Menurut Daisy, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan MPASI, yaitu kebersihan dan higienitas, pemilihan bahan makanan yang mengandung karbohidrat, protein hewani, protein nabati, lemak, vitamin dan mineral, terutama zat besi dan seng.
Penting juga untuk mempertimbangkan pemberian lemak/minyak dalam jumlah tertentu sebagai sumber energi yang sangat baik. Hal ini membuat suplemen MPASI lebih padat tanpa menambah jumlah MPASI yang diberikan. Kemudian strukturnya berfokus pada keterampilan motorik (otot bibir dan mulut), pemanfaatan gula dan garam dibatasi,” ujarnya.
Baca juga: MPASI Terbukti Pengaruhi Perkembangan Emosi Anak, Bagaimana?
Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak, lanjut Daisy, MPASI perlu dilakukan secara berbeda. Dalam hal ini minimal mengandung 5 dari 8 kelompok makanan, yaitu ASI, makanan pokok, kacang-kacangan, produk susu, daging, telur, buah-buahan dan sayur-sayuran bervitamin A serta buah-buahan dan sayur-sayuran lainnya.
“Keberagaman bahan dalam MPASI diperlukan karena tidak ada satu makanan pun yang merupakan makanan lengkap. Selain itu, MPASI juga harus memastikan mengandung telur, ikan, dan/atau daging.” dalam risiko, katanya. Dengarkan berita terkini dengan pilihan berita kami langsung di ponsel Anda. Untuk mengakses saluran WhatsApp Kompas.com. https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D Periksa apakah Anda telah menginstal aplikasi WhatsApp.
Artikel Pemberian MPASI Harus Penuhi 4 Syarat Utama, Apa Saja? pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Artikel Penambahan Gula Garam pada MPASI Harus Dibatasi, Ini Alasannya pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Pertanyaan yang sering muncul di kalangan orang tua adalah apakah gula dan garam diperbolehkan dalam MPASI?
Kementerian Kesehatan RI (Kemankes), Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu Dr. Daisy Indah, MKM menjelaskan MPAC untuk anak sebaiknya membatasi asupan gula dan garam.
Sesuai ‘Pedoman Makanan Bayi dan Anak’ yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan tahun 2020, konsumsi gula dan garam pada MPASI sebaiknya dibatasi,” Daisy Health, Jakarta beberapa waktu lalu. Pernyataan dari kementerian terungkap.
Baca Juga: Hibah MPASI Harus Penuhi 4 Syarat Utama, Apa Saja?
Asupan gula dalam bentuk gula dibatasi kurang dari 5 persen dari total kalori untuk anak di bawah usia 2 tahun. Ia kembali menegaskan, Asupan gula yang dianjurkan adalah gula alami seperti buah segar, jus buah atau gula alami. Tidak ada produk yang diberi pemanis,” tegasnya.
Permenkes tahun 2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang mengatur pesan gizi seimbang pada anak usia 6-24 bulan, yaitu MPASI yang baik tanpa tambahan perasa, pewarna atau pengawet, gula dan garam.
“Harap diingat bahwa gula terdapat pada makanan lain yang mengandung karbohidrat sederhana, sehingga MPASI tidak memerlukan tambahan gula.” Untuk menambah rasa, bisa menggunakan bumbu tambahan lainnya, misalnya tomat, bawang bombay, jahe, atau bumbu alami lainnya, lanjut Daisy.
Terkait konsumsi garam, sesuai Peraturan Kesehatan Nomor 28 Tahun 2019 tentang Rekomendasi Kecukupan Gizi Bagi Penduduk Indonesia, anak usia 6-12 bulan membutuhkan natrium 370 mg per hari, sedangkan anak usia 1-3 tahun membutuhkan natrium sebanyak 370 mg per hari. 800 mg setiap hari untuk anak-anak.
Oleh karena itu, anak usia 6-23 bulan membutuhkan garam kurang dari 1 gram per hari, lanjut Lovely Daisy.
Baca Juga: MPASI Kaya Nutrisi Kunci Cegah Anemia pada Anak
Kebutuhan garam sebenarnya bisa dipenuhi dari kandungan natrium pada makanan segar.
Berdasarkan ‘Tabel Komposisi Pangan Indonesia’ yang diterbitkan Kementerian Kesehatan pada tahun 2020, beberapa bahan pangan baru yang mengandung natrium antara lain:
100 gram daging ayam segar mengandung 109 mg natrium
100 gram hati ayam segar mengandung 1.068 mg natrium
100 gram ikan teri segar mengandung 554 mg natrium
100 gram bawal mengandung 129 mg natrium
Artikel Penambahan Gula Garam pada MPASI Harus Dibatasi, Ini Alasannya pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Artikel Ahli Beberkan Beberapa Kondisi Bayi Bisa Diberi Pengganti ASI pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>ASI memiliki banyak keunggulan dibandingkan susu formula, antara lain karbohidrat, asam lemak esensial, dan protein whey, termasuk mendukung perkembangan sistem kekebalan tubuh otak, dan memperkuat ikatan emosional antara ibu dan anak.
Baca juga: Apakah ASI Mengurangi Risiko Kanker Payudara? Di bawah ini adalah deskripsi profesional.
Sedangkan pemberian susu formula berisiko menimbulkan komplikasi seperti alergi, gangguan pencernaan, obesitas, masalah infeksi, dan jika diberikan terlalu banyak, malnutrisi.
Namun, ada kondisi tertentu yang membolehkan bayi diberikan susu formula sebagai pengganti ASI.
“Ada banyak kondisi yang membuat pemberian ASI tidak mungkin dilakukan, mulai dari kematian ibu hingga penyakit yang membuat pemberian ASI tidak mungkin dilakukan”. Melanie Rukhmi Minto, SP. A, seperti ditulis Antara, Jumat (25/10/2024).
Selain itu, menurut Melanie, bagi ibu yang menjalani pengobatan kemoterapi untuk melawan kanker, ada obat kuat yang bisa masuk ke dalam ASI dan tidak dianjurkan untuk menyusui.
“Ibu yang terinfeksi HIV dan belum mendapat pengobatan untuk mencegah penularan virus juga tidak disarankan untuk menyusui.”
Melanie juga mengatakan, keadaan khusus lainnya dimana ibu tidak bisa menyusui adalah jika ibu meninggal saat melahirkan, dan tidak ada nasehat segera untuk ibu.
Melanie yakin susu formula untuk bayi dapat mengatasi situasi ini. Harapannya, bayi tetap mendapat nutrisi yang dapat membantunya tumbuh dan berkembang.
Baca Juga: Kementerian Kesehatan mengimbau para ibu untuk sering menyusui bayinya agar produksi ASInya lebih banyak
Dilansir dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ide pemberian susu formula bayi cukup bulan lainnya antara lain:
Bayi berisiko mengalami hipoglikemia jika gula darahnya tidak naik, baik disapih tanpa program yang baik atau diberi ASI tambahan.
Bayi yang menunjukkan tanda klinis dehidrasi, antara lain keluaran urin kurang dari empat kali lipat pada hari kedua setelah lahir, buang air besar atau mekonium setelah lebih dari 5 hari.
Berat badan bayi turun 8-10%, terutama jika ibu mengalami laktogenesis lambat (ASI tidak mudah keluar).
Bayi dengan cacat lahir yang menyulitkan pemberian ASI langsung, seperti bibir sumbing atau kelainan genetik lainnya.
IDAI menganjurkan agar pengganti ASI diberikan dengan sendok, cangkir, atau selang orogastrik, agar tidak terjadi kebingungan di pihak bayi saat menyusu kembali di kemudian hari. Dengarkan berita terkini dan pilihan berita kami langsung di ponsel Anda. Pilih saluran berita favorit Anda untuk mengakses saluran WhatsApp Kompas.com: https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan Anda telah menginstal WhatsApp.
Artikel Ahli Beberkan Beberapa Kondisi Bayi Bisa Diberi Pengganti ASI pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Artikel 7 Rekomendasi WHO Soal Pemberian MPASI pada Bayi pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Demikian dilansir Penasihat Regional UNICEF untuk Asia Timur dan Pasifik Alyssa Preece, seperti ditulis Antara.
Pertama, kata Alyssa, inti pemberian MPASI adalah menyusui. Oleh karena itu, selain pemberian MPASI, pemberian ASI juga harus dilanjutkan hingga anak berusia dua tahun atau lebih untuk memenuhi kebutuhan energi dan nutrisi anak.
“Hal ini didasarkan pada bukti bahwa ASI terus menyediakan energi yang dibutuhkan bayi selama dua tahun kehidupannya,” kata Alyssa.
Baca Juga: Para Ahli Mengatakan Beberapa Situasi Di Mana Bayi Dapat Mendapatkan Manfaat Dari Menyusui
Kedua, bayi yang mendapat ASI sudah bisa mengonsumsi susu formula dan susu hewani pada usia 6-11 bulan. Namun pada usia 12-23 bulan, susu hewani saja yang boleh diberikan, sedangkan susu formula atau susu bayi tidak dianjurkan.
Ketiga, bayi yang mendapat ASI sebaiknya diperkenalkan MPASI pada usia 180 hari atau 6 bulan. Alyssa mengatakan, menunda MPASI dapat menghambat tumbuh kembang anak.
“Keterlambatan (pemberian) MPASI bisa berbahaya, sehingga disarankan pengiriman MPASI enam bulan sekali,” kata Alisa.
Keempat, anak usia 6-23 bulan sebaiknya mendapat MPASI dalam bentuk lain. Ia fokus pada 3 jenis makanan sebagai sumber energi dan nutrisi, makanan hewani seperti daging, ikan atau telur yang diberikan setiap hari.
Lalu ada buah-buahan dan sayur-sayuran yang diberikan setiap hari serta kacang-kacangan yang dikonsumsi sebanyak-banyaknya, apalagi jika sumber makanan hewani pada pola makan anak rendah.
Kelima, Alyssa mengingatkan kita untuk tidak mengonsumsi makanan dan minuman tidak sehat yang tinggi gula, garam, dan lemak trans.
Baca juga: Apakah ASI Mengurangi Risiko Kanker Payudara? Di bawah ini adalah penjelasan profesional
Alyssa mengatakan konsumsi makanan dan minuman tidak sehat meningkatkan risiko malnutrisi, kelebihan berat badan, dan pola makan tidak sehat.
“Ada bukti bahwa produk-produk tersebut terkait dengan kekurangan gizi, kelebihan berat badan, dan dapat menimbulkan preferensi rasa yang berujung pada kebiasaan makan tidak sehat dalam jangka panjang,” jelasnya.
Keenam, apabila kebutuhan gizi anak tidak tercukupi melalui makanan padat, maka anak usia 6-23 bulan dapat memperolehnya dari makanan pendamping ASI atau makanan padat.
“Mengonsumsi makanan pendamping ASI berbahan dasar biji-bijian dan makanan yang difortifikasi dapat meningkatkan indikator status zat besi, termasuk meningkatkan kemampuan mental dan motorik dibandingkan tidak mengonsumsinya,” kata Elisa.
Ketujuh, pemberian makan pada anak usia 6-23 bulan harus dilakukan secara bertanggung jawab, yaitu dengan menerapkan praktik pemberian makan yang mendorong anak untuk makan secara mandiri.
“Hal ini untuk merespons kebutuhan fisik dan perkembangan yang dapat mendorong pengaturan diri dalam pangan dan mendukung fungsi kognitif perkembangan emosional dan sosial,” ujarnya. Dengarkan pilihan berita dan berita kami langsung ke ponsel Anda. Pilih saluran berita favorit Anda untuk mengakses saluran WhatsApp Kompas.com: https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan Anda telah menginstal aplikasi WhatsApp.
Artikel 7 Rekomendasi WHO Soal Pemberian MPASI pada Bayi pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Artikel SP NEWS GLOBAL Apakah ASI Mengurangi Risiko Kanker Payudara? Berikut Penjelasan Ahli pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Ya. Menyusui bisa menjadi salah satu langkah pencegahan kanker payudara.
Penelitian menunjukkan bahwa kanker payudara lebih sering terjadi pada wanita yang tidak menyusui anaknya, belum menikah, dan tidak memiliki anak.
Untuk informasi lebih lanjut, lihat informasi ahli berikut:
Baca Juga: 10 Gejala Kanker Payudara yang Mudah Dikenali, Apa Saja? Apakah menyusui mengurangi risiko kanker payudara?
Dr. Dokter Spesialis Bedah Konsultan Onkologi dari Universitas Indonesia. dokter. Diani Kartini Sp.B Subsp Onk (K) mengungkapkan pemberian ASI eksklusif selama dua tahun dapat menurunkan risiko kanker payudara.
“Tidak menyusui dan tidak memiliki anak dapat menyebabkan kanker payudara. Menyusui minimal dua tahun adalah pemberian ASI eksklusif,” tulis Diani, Antara, Selasa (16/10/2024).
Dokter di RS Chito Mangunkusumo mengatakan, ibu yang tidak bisa langsung menyusui anaknya atau belum menikah dan tidak punya anak lebih berisiko terkena kanker payudara dibandingkan ibu menyusui.
Ini adalah risiko berbahaya yang tidak dapat dicegah tanpa memandang genetika, usia, dan jenis kelamin.
Namun Diani mengatakan hal itu bisa dikurangi dengan mengikuti gaya hidup sehat yang mengendalikan risikonya.
“Gaya hidup, seperti makanan misalnya, adalah sesuatu yang bisa kita kendalikan. “Tetapi jika Anda tidak memiliki anak, usia, jenis kelamin, dan genetika mungkin di luar kendali kami,” katanya.
Namun, Diani mengatakan hal itu bisa terjadi meski sudah memberikan ASI eksklusif. Menurut Diani, bisa jadi karena ASI yang membesar atau bisa juga karena tumor.
Baca selengkapnya: Plastik dan kertas yang terpapar bahan kimia membuat Anda berisiko terkena kanker payudara. Tes apa yang digunakan untuk mendiagnosis kanker payudara?
Dr. Diani menyarankan para wanita untuk selalu memeriksa kondisi payudara dengan meraba selama hamil atau menyusui.
Jika Anda melihat ada massa yang bergerak atau bergerak saat Anda memegangnya, mungkin itu adalah tumor jinak.
Namun jika terasa ada benjolan namun tak kunjung bergerak, Diani menyarankan untuk memeriksakan diri ke dokter karena dikhawatirkan bisa menjadi tanda kanker payudara.
Tes tambahan termasuk USG payudara atau tes menggunakan gelombang radio frekuensi tinggi.
Pemindaian payudara ditujukan untuk mendeteksi kelainan payudara, seperti kista, tumor, dan fibroadenoma, menurut Klinik Cleveland. Jenis skrining kanker payudara lainnya termasuk mamografi, MRI, dan biopsi.
Dengarkan berita terkini dan berita yang dipilih dengan cermat langsung di ponsel Anda. Untuk bergabung dengan saluran WhatsApp Kompas.com, pilih saluran baru favorit Anda: https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan Anda telah menginstal aplikasi WhatsApp.
Artikel SP NEWS GLOBAL Apakah ASI Mengurangi Risiko Kanker Payudara? Berikut Penjelasan Ahli pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>