Artikel BPJS Ketenagakerjaan Tanggung Biaya Perawatan Peserta Hingga Rp 12 Miliar, Uya Kuya : Itu Luar Biasa pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Uya mencontohkan seorang peserta yang mengalami kecelakaan kerja dan mengeluarkan biaya pengobatan lebih dari Rp 12 miliar yang seluruhnya ditanggung oleh BPJS Ketenagakerjaan.
“Tidak biasa. Karena ada asuransi sosial atau asuransi swasta yang bisa melakukan itu dengan biaya yang saya yakini realistis dan adil,” ujarnya dalam Konferensi Asuransi Sosial 2024 di Jakarta Selatan, Selasa (26/11/2024).
Selain itu, Uya menuturkan, masih banyak manfaat lain yang tak kalah luar biasa dari pekerjaan BPJS, yaitu manfaat sebesar 48 kali gaji jika ada peserta meninggal dunia karena kecelakaan kerja dan beasiswa untuk dua orang anak senilai kurang lebih 1,5 juta orang. Rp 174 juta.
Baca Juga: 38.982 Pejabat Ad Hoc Dapat Fasilitas Usaha BPJS Pilkada Kabupaten Malang 2024
Meskipun jaminan sosial ketenagakerjaan sudah diketahui oleh pekerja formal, namun masih banyak pekerja informal seperti artis, influencer, pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), petani dan nelayan yang belum memahami pentingnya dan cakupan manfaatnya. jaminan sosial.
Melihat permasalahan tersebut serta besarnya manfaat dan perlindungan yang diberikan kepada para pekerja, termasuk pekerja informal, Uya Kuya diutus untuk mendaftar dan mengikuti sosialisasi pentingnya ketenagakerjaan di BPJS.
Ia mengatakan BPJS Ketenagakerjaan menawarkan berbagai program yang pasti bermanfaat bagi pekerja di Indonesia.
Berbagai macam rencana tersebut mulai dari asuransi kecelakaan kerja, asuransi kematian hingga asuransi hari tua.
“Saya khawatir bagaimana saya akan melakukannya sendiri tanpa diminta oleh BPJS Ketenagakerjaan. Saya akan perkenalkan kepada seluruh pekerja di Indonesia,” tegasnya.
Tak berhenti sampai disitu, Uya juga berjanji akan mendaftarkan seluruh pekerja di sekitar rumahnya, seperti supir dan pembantu rumah tangga, untuk menjadi peserta BPJS Pekerjaan.
“Kalaupun mereka membayar gajinya secara mandiri, saya beri contoh. Bayangkan saya membayar mereka sebagai bos atas nama mereka, padahal mereka pekerja informal.”
Baca Juga: Pengertian Rekrutmen JKP BPJS: Pengertian, Syarat Pembayaran dan Cara Klaim
Melihat banyaknya pekerja informal berpenghasilan rendah, Uya menegaskan, konstitusi menyatakan seluruh rakyat Indonesia berhak atas jaminan sosial untuk hidup sejahtera.
“Kami juga tahu bahwa masih banyak orang yang bisa hidup dengan upah yang lebih rendah,” ujarnya.
Untuk itu, Uya menekankan pentingnya komunikasi melalui dialog dengan masyarakat.
“Bolehkah kami meminta kepada pemerintah untuk mengidentifikasi siapa saja yang menerima bantuan iuran BPJS Ketenagakerjaan,” ujarnya.
Dengarkan berita dan pilihan berita kami langsung ke ponsel Anda. Pilih saluran berita favorit Anda untuk mengakses Saluran WhatsApp Kompas.com: https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan Anda telah menginstal aplikasi WhatsApp.
Artikel BPJS Ketenagakerjaan Tanggung Biaya Perawatan Peserta Hingga Rp 12 Miliar, Uya Kuya : Itu Luar Biasa pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Artikel BPJS Ketenagakerjaan dan Budaya Gotong Royong, Secercah Harapan bagi Generasi Sandwich Indonesia pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Generasi sandwich adalah orang-orang yang akan menafkahi anggota keluarganya di atas dan/atau di bawah generasinya.
Perencana keuangan Erlina Juwita menjelaskan, asal mula generasi sandwich dimulai pada tahun 1981, ketika pekerja sosial Dorothy Miller dan ahli geografi Elaine Brody mempelajari kondisi perempuan berusia tiga puluhan dan mereka yang harus mengasuh anak-anak mereka sambil mengasuh anak mereka. orang tua.
Baca Juga: Putuskan rantai sandwich, proyek BPJS bisa jadi solusinya
Erlina melanjutkan, “Seiring berjalannya waktu, kenyataan ini tidak hanya terjadi pada perempuan, tetapi juga pada laki-laki.
Menurut Erlina, budaya gotong royong di Indonesia dapat membantu generasi sandwich untuk mendapatkan kesabaran atau bantuan dari orang-orang tercinta.
“Saya melihat di Indonesia kita memang punya budaya kerja sama yang tidak ditemukan di negara lain, misalnya di Jepang, Hong Kong,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Rabu (13/11/2024).
“Dan jika saya melihat Jepang, mungkin karena mereka memilih untuk tidak memiliki anak, jadi ada beberapa generasi sandwich.”
Selain itu, pendiri lembaga Smart Financial ini juga mengatakan, setidaknya permasalahan keuangan generasi sandwich di Indonesia dapat diselesaikan dengan bantuan keluarga atau kerabat.
“Juga kalau kita terjebak dalam masalah pinjaman (pinjaman online), misalnya di Indonesia seperti ini, ada yang namanya dialog, diskusi, bagaimana kita menebusnya, dan seperti itu. , kan? Kami tidak bisa memastikan apakah ada yang benar, “tambahnya.
Menurut Erlina, krisis keuangan merupakan salah satu masalah keuangan yang paling berbahaya bagi generasi sandwich, apalagi jika gaji mereka tidak mencukupi dan mereka masih lajang karena tidak ada yang bisa membantu mereka.
“Kesulitan kedua, kalau dia terlilit utang, lebih parah lagi. Pinjaman yang berhasil dan bebas hutang tidak diperlakukan sebagai pinjaman. “Katakan saja kartu kreditnya masih berlaku, bunganya masih lebih rendah dari pinjaman, dan kalau dikaitkan dengan pinjaman, harus ada yang membantu,” jelas Erlina.
Baca juga: Langkah-langkah perlindungan tenaga kerja mengurangi jumlah generasi sandwich di Indonesia
Kesulitan mengatur sistem keuangan adalah Lintang, ibu dua anak di Yogyakarta. Setiap hari, ia akan membagi uang yang diperolehnya untuk menunjang kebutuhan rumah tempat orang tuanya tinggal, bersama dirinya, kedua anaknya, dan suaminya.
Ia mengungkapkan, ia dan suaminya selalu mendapatkan uang – meski ada kenaikan, tidak perlu – namun terkadang ada pengeluaran yang tidak terduga.
“Misalnya ada undangan, ada kegiatan sekolah. Di sekolah, suka atau tidak, anak-anak tetap mengeluarkan banyak uang kan?” itu belum masuk anggaran lho,” kata perempuan berusia 29 tahun yang bekerja kepada Kompas.com, Kamis (14/11/2024) sebagai pegawai swasta. Pagi.
Sementara itu. GH, seorang wiraswasta di Malang, kesulitan menabung karena uangnya harus dibagi untuk pengeluaran rumah tangga seperti listrik dan internet.
Artikel BPJS Ketenagakerjaan dan Budaya Gotong Royong, Secercah Harapan bagi Generasi Sandwich Indonesia pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>