Artikel Eliminasi Kanker Serviks 2030: Vaksinasi HPV Gratis dan Skrining Dini Jadi Solusi pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Direktur (PTM) dari Kementerian Kesehatan (PTM), City Nadia Tarmesi, mengatakan Rencana Nasional (RAN), yang dimulai dengan vaksin HPV 2, menjadi bagian darinya.
“Kami mengambil Rencana Nasional (RAN) di 1 dan menyaksikan target 3 persen anak -anak oleh 5 persen anak -anak untuk mendapatkan vaksin HPV pada usia 3 tahun yang lalu,” kata Nadia di pesta jaket pers, Kamis (1/4).
Baca Juga: Dokter Mendorong HPV dan Vaksin Papsmier Untuk Mencegah Kanker Serviks
Dia menjelaskan bahwa orang yang lahir pada tahun 1999 memiliki hak untuk menerima vaksin HPV gratis dari pemerintah.
Sementara itu, serviks atau awal 1999 dapat diperiksa.
“Tapi apa yang bisa dilakukan di bawah ini (1999999), apa yang bisa dilakukan?
Baca Juga: Tes Kanker Payudara Dini dapat meningkatkan kesempatan untuk sembuh 80 persen
Nadia juga beralih ke publik untuk mengambil keuntungan dari layanan skrining gratis HPV yang disediakan oleh fasilitas kesehatan, salah satunya adalah Tes Kesehatan Gratis (CKG).
Tes ini meliputi tes DNA IVA dan HPV, yang tidak hanya untuk kanker uterus tetapi juga penyakit non-identifikasi lainnya.
“Di masa lalu, ulang tahun ini belum diunggah kepada wanita, tetapi sekarang kita tinggal di Rusksma pada hari ulang tahun, kita hanya perlu analisis DNA HPV dan gratis,” kata Nadia.
Menggunakan penyaringan HPV, wanita dapat menerima perlindungan dalam sepuluh tahun ke depan, yang dapat dibalik lagi.
Selain itu, Nadia menekankan bahwa wanita yang dapat melakukan tes HPV yang sudah menikah atau berhubungan seks.
Tidak hanya itu, Nadia juga menawarkan orang untuk mempertahankan gaya hidup sehat, karena faktor ini memiliki efek yang signifikan pada perkembangan kanker.
Dengan langkah -langkah ini, Kementerian Kesehatan menyatakan harapan untuk meningkatkan kesadaran pada tahun 2030 dan mendapatkan penghapusan kanker serviks. Lihat pilihan berita kami secara langsung di Breaking News dan ponsel kami. Pilih pendekatan utama Anda ke saluran dasar untuk kompaas.com. Pastikan Anda telah menginstal aplikasi WhatsApp.
Artikel Eliminasi Kanker Serviks 2030: Vaksinasi HPV Gratis dan Skrining Dini Jadi Solusi pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Artikel Cegah Kanker Leher Rahim, Pemerintah Perluas Cakupan Imunisasi HPV pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>“Kanker serviks merupakan penyakit yang mematikan dan menjadi salah satu beban pendanaan nasional yang paling tinggi,” kata Direktur Pengelolaan Imunisasi Kementerian Kesehatan dr Prima Yosephine di Denpasar, Bali, Selasa (12/10/2024) seperti ditulis oleh Antara.
Ia menjelaskan, kanker serviks dapat dicegah salah satunya melalui imunisasi HPV.
Baca juga: Terobosan Kesehatan: Skrining Kanker Serviks dengan Uji Coba DNA HPV Dimulai
Sementara itu, upaya perluasan sedang dilakukan dengan program imunisasi catch-up yang menyasar anak perempuan berusia 15 tahun yang belum menerima imunisasi HPV, baik mereka masih bersekolah maupun tidak.
Pemberian vaksin catch up salah satunya diberikan kepada puluhan siswa Kelas IX SMP Dwijendra Denpasar yang mendapat imunisasi HPV sebagai langkah awal program catch up imunisasi HPV di Bali.
Untuk mempercepatnya, lanjut Prima, diberikan imunisasi gratis bersamaan dengan Bulan Imunisasi Sekolah (BIAS) bagi anak perempuan usia 11 dan 12 tahun kelas V dan VI SD sederajat.
Meski ia mengakui imunisasi HPV berjalan dengan baik, namun penjangkauan masih menjadi tantangan dalam menangani penyakit tersebut.
Untuk itu, pemerintah bekerjasama dengan perusahaan biofarmasi MSD Indonesia yang memulai kampanye edukasi kepada masyarakat untuk meningkatkan pemahaman akan pentingnya pencegahan kanker serviks.
“Kami berharap setiap langkah kecil yang dilakukan dapat memberikan ketenangan pikiran sehingga kita bisa bersama-sama menang melawan penyebaran kanker serviks di Indonesia,” ujar Managing Director MSD Indonesia, George Stylianou.
Baca juga: Vaksin HPV Pria Bisa Cegah Kanker Serviks pada Pasangan Saat Berhubungan Seksual
Sementara itu, dokter anak Ketut Dewi Kumara menjelaskan imunisasi HPV tidak hanya memberikan perlindungan terhadap infeksi HPV, tetapi juga dapat menurunkan risiko kanker serviks secara signifikan.
Katanya, sesuai rekomendasi Badan Kesehatan Dunia (WHO), imunisasi HPV lebih efektif diberikan pada remaja perempuan, atau mereka yang belum berisiko terpapar virus tersebut.
“Penelitian juga menunjukkan bahwa imunisasi HPV aman dan efektif dalam mencegah penyebaran kanker serviks,” ujarnya.
Sejak tahun 2023, pemerintah Indonesia telah melaksanakan rencana aksi nasional (RAN) eliminasi kanker serviks di Indonesia pada tahun 2023-2030.
Sementara Kementerian Kesehatan melalui Aplikasi Indonesiaku Sehat (Asik) pada 6 Oktober 2024 menyatakan Provinsi Bali merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki cakupan imunisasi HPV tertinggi bagi siswa perempuan kelas V dan VI sederajat.
Di sisi lain, Kementerian Kesehatan menyebutkan kanker serviks merupakan kanker kedua paling berbahaya bagi perempuan di Indonesia dengan 36.964 kasus baru pada tahun 2022.
Angka kematian akibat penyakit ini cukup tinggi, sekitar 50 persen wanita yang terdiagnosis kanker serviks meninggal karena terdeteksi pada stadium lanjut.
Tanpa intervensi, diperkirakan lebih dari 1,7 juta perempuan di Indonesia akan meninggal karena kanker serviks pada tahun 2070 dan hampir empat juta perempuan pada tahun 2120. Dengarkan berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponsel Anda. Pilih saluran berita favorit Anda untuk mengakses Saluran WhatsApp Kompas.com: https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp.
Artikel Cegah Kanker Leher Rahim, Pemerintah Perluas Cakupan Imunisasi HPV pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Artikel Terobosan Kesehatan: Skrining Kanker Serviks dengan HPV DNA Mulai Diuji Coba pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya utama untuk mengintegrasikan layanan kesehatan masyarakat ke dalam puskesmas, yang bertujuan untuk memfasilitasi akses terhadap skrining melalui metode skrining mandiri dan berbasis pusat.
Langkah kolaboratif ini mendukung tujuan Kementerian Kesehatan dalam menghilangkan kanker serviks pada tahun 2030, terutama dengan meningkatkan akses deteksi dini bagi perempuan di seluruh Indonesia. Program percontohan ini pertama kali diluncurkan di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur, dan mencakup sekitar 6.800 perempuan berusia antara 30 dan 69 tahun.
Konsep self-sampling memungkinkan perempuan untuk mengumpulkan sampel mereka sendiri, sehingga proses penyaringan menjadi lebih sederhana dan mudah.
Model hub and spoke diterapkan untuk mengoptimalkan efisiensi layanan. Model inti menggunakan alat otomatis untuk wilayah berpenduduk besar, sedangkan model radial mengandalkan alat manual untuk wilayah berpenduduk kecil.
Model ini membantu tenaga kesehatan dari puskesmas, pos pelayanan terpadu (posyandu) dan rumah sakit untuk bekerja sama secara efektif, sehingga perempuan di seluruh pelosok Indonesia dapat mengakses layanan kesehatan.Deteksi, kata Dr. Siti Nadia Tarmizi, Direktur Pencegahan. dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan. Tantangan dan solusi
Mengingat keberagaman geografis Indonesia dan terbatasnya tenaga kesehatan, pendekatan ini diharapkan dapat menjadi solusi untuk mempercepat pencapaian tujuan nasional. Lee Poh Seng, Direktur Divisi Diagnostik Roche Indonesia, menyoroti komitmen Roche dalam mendukung deteksi dini kanker serviks.
“Deteksi HPV berbasis DNA yang fleksibel dan efektif adalah kuncinya. Kami percaya dengan meningkatkan cakupan skrining dan meningkatkan kesadaran masyarakat, maka angka kematian akibat kanker serviks dapat diturunkan,” jelasnya.
Dalam program ini, Roche Indonesia menyediakan 5.800 alat Cobas dan 6.500 alat tes HPV DNA, sedangkan Bio Farma menyediakan 1.300 alat Cerviscan untuk area radiasi. Petugas kesehatan juga akan dilatih untuk mengoptimalkan layanan dan meningkatkan registrasi dan pelaporan.
Maryjane Lacoste, Ketua Partai MOMENT USAID, menyatakan inisiatif ini didukung oleh program Integrasi Pelayanan Primer (ILP) Kementerian Kesehatan. “Kami berharap informasi yang diperoleh dari program ini dapat membantu pemerintah merancang pendekatan screening yang lebih efisien dan efektif,” ujarnya. Menuju eliminasi kanker serviks pada tahun 2030
Dengan 36.633 kasus pada tahun 2021 (data Profil Kesehatan Indonesia), kanker serviks masih menjadi penyebab kematian kedua di kalangan perempuan. Deteksi dini melalui skrining DNA HPV merupakan langkah tepat untuk menurunkan angka tersebut.
Inisiatif ini mencerminkan pentingnya kerja sama antara pemerintah, sektor dan organisasi swasta untuk mendukung kesehatan perempuan di Indonesia. Jika diterapkan secara luas, model ini diharapkan menjadi tonggak besar dalam pemberantasan kanker serviks pada tahun 2030. Dengarkan berita terkini dan pilihan berita kami langsung di ponsel Anda. Pilih saluran berita favorit Anda untuk mengakses saluran whatsapp Kompas.com: https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D Pastikan aplikasi WhatsApp sudah terinstal.
Artikel Terobosan Kesehatan: Skrining Kanker Serviks dengan HPV DNA Mulai Diuji Coba pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Artikel Kemenkes: Kanker Serviks Bisa Sembuh Bila Dideteksi Lebih Dini pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Namun permasalahannya di Indonesia, mayoritas kasus kanker ditemukan pada tingkat yang tinggi sehingga 70 persen penyakitnya, terutama kanker serviks, menyebabkan kematian.
Di sisi lain, kanker yang terdiagnosis pada stadium lebih tinggi juga membuat biaya pengobatan menjadi lebih mahal.
“Makanya tujuan WHO adalah menghentikan kanker serviks. Karena kanker jenis ini bertujuan untuk menggabungkan 90-75-90, artinya kita benar-benar bisa menghilangkannya. Kasus-kasus ini bisa kita turunkan,” kata direktur pencegahan dan pengendalian penyakit tersebut. -penyakit menular di Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, China (28/11/2024), seperti dicatat Antara.
Baca juga: Bisakah Kanker Serviks Dicegah? Berikut penjelasan teknisnya…
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan pemberantasan kanker serviks pada tahun 2030 dengan target 90-70-90, yang menyatakan bahwa 90 persen anak perempuan di bawah usia 15 tahun menerima vaksin HPV, 70 persen perempuan berusia di bawah 15 tahun menerima vaksin HPV, dan 70 persen perempuan berusia di bawah 15 tahun menerima vaksin HPV. 35 dan 45 harus disaring menggunakan tes lanjutan, dan 90 persen wanita dengan luka kronis menerima pengobatan konvensional. Pengangkatan kanker serviks
Menanggapi tujuan WHO tersebut, Nadia mengatakan pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah menyiapkan rencana aksi nasional (RAN) pemberantasan kanker serviks sebagai deklarasi penerapan rencana komprehensif dalam pemberantasan kanker serviks yang merupakan pilarnya. memberikan layanan untuk meningkatkan kualitas diagnosis.
Terkait skrining, pemerintah menginginkan 70% perempuan berusia 30-69 tahun melakukan skrining menggunakan tes DNA HPV pada tahap pertama, dan 75% perempuan berusia 30-69 tahun melakukan skrining dengan tes DNA HPV setiap 10 tahun. untuk bagian kedua.
Nadia percaya bahwa angka kejadian kanker serviks di Indonesia dapat ditekan serendah mungkin bahkan dihilangkan dengan kombinasi strategi untuk meningkatkan akses terhadap skrining, pencegahan HPV dan pengobatan tepat waktu bagi wanita dengan lesi kronis.
“Melalui scan kita melihat apa yang terjadi pada rahim kita. Kalau masih dini, kerusakannya masih bisa sekecil 10%, kita bisa mengatasinya agar tidak berlanjut ke tingkat berikutnya. untuk diperiksa lalu diobati agar kombinasi itu bisa kita hilangkan,” kata Nadia.
Baca juga: Vaksin HPV untuk Pria Bisa Cegah Kanker Serviks pada Pasangan Intim
Pada tanggal 17 November tahun lalu, Hari Pemberantasan Kanker Serviks Sedunia diperingati. Nadia mengingatkan, peringatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat dalam mencegah penyakit kanker, khususnya kanker serviks yang merupakan penyakit kanker kedua terbanyak pada perempuan Indonesia. Malu
Namun, Indonesia masih menghadapi tantangan etika dalam skrining kanker serviks, dimana perempuan lanjut usia sering merasa malu saat mengambil sampel serviks mereka dan sering meminta izin pasangannya untuk melakukan tes terlebih dahulu.
Untuk itu, Nadia juga menegaskan bahwa perempuan berhak melihat atau mengambil keputusan mengenai pemeriksaan diri dan melanjutkan pengobatan kanker serviks tanpa bergantung pada persetujuan suami.
“Tidak dapat dipungkiri bahwa tren penyakit dari waktu ke waktu (yang semakin meningkat) adalah penyakit tidak menular, salah satunya kanker. Hal ini sebenarnya perlu kita lakukan untuk terus memberikan informasi dan edukasi kepada seluruh perempuan. “Dan jika kita bicara persoalan perempuan, salah satu hak yang harus diperjuangkan perempuan adalah hak atas kesehatan,” kata Nadia. Dengarkan berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponsel Anda. Pilih saluran berita favorit Anda untuk menemukan Saluran WhatsApp Kompas.com: https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp.
Artikel Kemenkes: Kanker Serviks Bisa Sembuh Bila Dideteksi Lebih Dini pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>