Artikel Waspadai Efek Samping Obat Saat Mengemudi, Ini Penjelasan PAFI pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Menurut Moses, beragam obat dapat mempengaruhi konsentrasi dan refleks seseorang saat mengemudi sehingga meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas.
“Obat-obatan seperti antihistamin, obat penenang, dan obat pereda nyeri jenis tertentu dapat menyebabkan kantuk, menurunkan kewaspadaan, dan memperlambat respons tubuh terhadap situasi darurat,” kata Moses, dilansir laman https://pafikajen org.
Selain itu, ia menjelaskan, efek samping obat bisa berbeda-beda pada setiap orang, tergantung jenis asupan dan dosisnya. Antihistamin yang biasa digunakan untuk mengatasi alergi, misalnya, sering menyebabkan kantuk.
Baca Juga: PAFI ingatkan bahaya minum obat tanpa petunjuk dosis yang jelas
Begitu pula dengan obat batuk yang mengandung dekstrometorfan atau kodein. Kedua zat aktif tersebut berpotensi mempengaruhi kewaspadaan pengemudi.
Obat penenang dan antidepresan juga berbahaya jika dikonsumsi sebelum berkendara. Zat aktif di dalamnya dapat mempengaruhi sistem saraf pusat sehingga mengganggu kemampuan mengambil keputusan dengan cepat, jelas Moses.
PAFI juga menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya penggunaan narkoba. Sebab keselamatan jalan bukan hanya menjadi tanggung jawab individu saja, namun juga menyangkut keselamatan pengguna jalan lainnya.
“Kami ingin memastikan semua orang memahami bahaya penggunaan narkoba saat berkendara. Ini bukan hanya soal keselamatan pribadi, tapi keselamatan orang lain di jalan,” kata Musa. Dengarkan berita terhangat dan kumpulan berita langsung di ponsel Anda. Pilih saluran berita favorit Anda untuk mengakses saluran WhatsApp Kompas.com: https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan Anda telah menginstal aplikasi WhatsApp.
Artikel Waspadai Efek Samping Obat Saat Mengemudi, Ini Penjelasan PAFI pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Artikel Rutin Minum Obat? Begini Cara Aman Mengonsumsinya Saat Puasa pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Dilansir https://pafiandolo.org/, Ketua Umum Persatuan Apoteker Indonesia Pusat (PAFI) Moses Wambraw Simbiak mengatakan, salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan pasien adalah pasien makan pagi atau sekadar berpuasa.
“Padahal, banyak obat yang harus diminum dalam interval tertentu agar bahan aktifnya dapat bekerja dengan baik. Jika diabaikan, efektivitas pengobatan bisa berkurang,” kata Musa.
Ia menjelaskan, tidak bisa diatur semua obat diminum dua kali sehari pada pagi hari dan saat perut kosong. Baca penjelasan PAFI
Misalnya antibiotik perlu diminum pada waktu tertentu.
Oleh karena itu, Musa menyarankan masyarakat yang rutin minum obat untuk berkonsultasi dengan dokter atau apoteker sebelum berpuasa Ramadhan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan penyesuaian yang tepat terhadap jadwal pengobatan.
“Yang terpenting jangan berhenti minum obat tanpa berkonsultasi dengan dokter hanya karena sedang berpuasa,” tegas Musa.
Selain mengatur jadwal, ia juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga air tubuh pada waktu makan hingga makan malam. Hal ini diperlukan untuk menjamin berjalannya proses metabolisme obat dalam tubuh secara optimal. Dengarkan berita terbaru kami dan pilih langsung di ponsel Anda. Pilih saluran baru yang ingin Anda ikuti saluran WhatsApp Kompas.com: https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan Anda telah menginstal aplikasi WhatsApp.
Artikel Rutin Minum Obat? Begini Cara Aman Mengonsumsinya Saat Puasa pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>