Artikel Pakar Keamanan FIFA: Indonesia Sangat Bisa Jamin Keselamatan Pemain Bahrain pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Asosiasi Sepak Bola Bahrain (Bahrain FA) sebelumnya telah mengumumkan niatnya untuk mengajukan permintaan kepada FIFA dan AFC untuk mengubah venue kualifikasi Piala Dunia 2026 menjadi venue netral.
Hal ini sejalan dengan ancaman kaum nasionalis terhadap komentar pribadi pemain Bahrain di media sosial, serta serangan siber terhadap situs resmi asosiasi usai pertandingan Bahrain melawan Indonesia pekan lalu.
PSSI sendiri menyatakan akan menyurati AFC untuk melanjutkan pertandingan di Jakarta, dengan tetap menjamin keamanan dan kenyamanan para pemain Bahrain.
Baca Juga: Bahrain usulkan perubahan venue ke FIFA untuk menghadapi Indonesia
Menurut pakar keselamatan dan keamanan berlisensi FIFA, Nugroho Setiawan, federasi sudah siap melakukan hal tersebut bersama lembaga terkait.
“Harusnya sangat mungkin. Hanya perlu keseriusan seluruh aktor keamanan,” kata Nugroho kepada Kompas.com, Kamis (17 Oktober 2024).
“Jika ada VVIP, konfigurasi keamanan tidak boleh digunakan untuk menguntungkan individu atas nama VVIP.”
Tentu saja dimulai dari keseriusan PSSI sendiri dalam melakukan koordinasi awal dengan pihak kepolisian dan instansi lainnya.
“Keamanan dan keselamatan PIC saat ini tidak memadai. Mereka jauh dari kemampuan.”
Menurutnya, menjamin keselamatan timnas Bahrain di Jakarta akan sangat penting bagi wajah Indonesia di mata dunia.
Baca juga: Pengamat: Tuntutan Federasi Bahrain membuat Indonesia terpojok
Pria yang menjabat sebagai petugas keamanan PSSI antara tahun 2008 hingga 2020 itu bahkan tidak ingin melihat Bahrain dan harus menggunakan barakuda atau kendaraan taktis lainnya untuk menuju stadion.
“Ini harusnya langsung ditindaklanjuti Ketum/Exco PSSI untuk menjaga nama baik Indonesia dan melanjutkan diplomasi olahraga (sepak bola) untuk kepentingan nasional dan internasional,” lanjutnya.
“Buka jalan dan lanjutkan ke level di bawahnya. Pengamanan harus dimulai dari kedatangan tim kunjungan. Keamanan jalan untuk pergerakan tim dan ofisial, pemukiman warga, dan tempat latihan juga disertakan.”
“Tentu saja harus bisa. Tanpa penggunaan kendaraan taktis, itulah sepak bola, bukan perang (ini sepak bola, bukan perang). Biaya seharusnya tidak menjadi masalah, kali ini biaya yang mahal harus sesuai dengan nama baik. dari Indonesia. .” Himbauan kepada para pengikut Garuda
Terkait suporter yang meninggalkan jejak digital dalam jumlah besar di akun pemain dan FA Bahrain, Nugroho meminta federasi lebih proaktif menjangkau jaringan Indonesia.
Artikel Pakar Keamanan FIFA: Indonesia Sangat Bisa Jamin Keselamatan Pemain Bahrain pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Artikel Peran Besar Staff Papua Football Academy Sebagai “Orang Tua” Siswa pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Anak Safeguarding (CSG) adalah program efektif dan ramah anak yang menerapkan langkah-langkah preventif untuk melindungi siswa ketika mereka berada di komunitas FA yang diambil oleh FIFA Guardian.
Saat ini terdapat 60 mahasiswa PFA dari seluruh Papua hasil ajang Pencarian Bakat PFA di 18 kabupaten/kota. Keempatnya lahir pada tahun 2010 dan 2011.
Ada tujuh prinsip perlindungan anak yang dianut dalam PFA: Senantiasa memberikan yang terbaik sesuai kebutuhan pemain Menghargai hak dan kepentingan anak melalui permainan sepak bola Semua peraturan perundang-undangan berlaku tanpa terkecuali Bangunan, sarana dan pelayanan keagamaan Semua pihak yang terkait dengan sepak bola harus. bertanggung jawab atas Pemeliharaan PFA Pastikan peran dan tanggung jawab didefinisikan dengan jelas
Dalam Perlindungan Anak, staf PFA berperan sebagai pengganti keluarga siswa ketika mereka tinggal di asrama PFA.
Mulai dari Direktur Akademi, pelatih kepala dan asisten pelatih, staf PFA, Kepala Asrama, manajer gym, hingga kitman yang menjalankan tugas tersebut.
Orang-orang ini dapat dipilih sebagai orang yang paling dapat diandalkan dan mampu menjaga kerahasiaan siswa ketika membicarakan permasalahannya.
Baca juga: Program Perlindungan Anak Standar FIFA di Akademi Sepak Bola Papua
PFA menggunakan sistem ‘wali’ di mana lima staf PFA menjaga 30 anak dan satu ‘wali’ melatih enam anak.
“Karena kami penerus keluarga, permasalahan anak sehari-hari juga kami tangani,” kata Nugroho.
Mulai dari membolos sekolah, berkelahi, kehilangan barang, khawatir, nakal, hingga bersikap jahat pada perempuan.
“Salah satu fungsi utama konservasi adalah mencegah, bukan mengobati.”
Selain itu, konselor juga memantau penggunaan media sosial oleh anak. Para siswa ini diberi pendidikan pertama mereka di media sosial termasuk apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Siswa di PFA hanya diperbolehkan menggunakan telepon pada hari Minggu.
Misalnya disarankan untuk memposting hal-hal positif kepada anak-anak Papua lainnya, seperti aktivitas saat olahraga atau gambar gol di pertandingan persahabatan,” kata peneliti tim M Farhan Atmawinanda kepada Kompas.com.
Baca juga: Bagaimana Akademi Sepak Bola Papua Jamin Siswanya Fokus pada Pendidikan Sepak Bola
“Antara lain, mereka tidak boleh mengunggah foto atau video dari ruangan yang merupakan area privat.”
Artikel Peran Besar Staff Papua Football Academy Sebagai “Orang Tua” Siswa pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>