Artikel Pentingnya Dukungan Keluarga dalam Pemulihan Kanker Paru Stadium 4 pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Penelitian yang diterbitkan oleh National Center for Biotechnology Information pada tahun 2023 menunjukkan bahwa pasien kanker yang mendapat dukungan sosial dan emosional yang kuat memiliki tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi. Dukungan ini tidak hanya membantu mengurangi stres dan kecemasan, tetapi juga meningkatkan kepatuhan pengobatan.
Hal ini terlihat dari perjalanan Adrian melawan kanker. Pada Juni 2023, warga negara Singapura ini memutuskan untuk menjalani pemeriksaan kesehatan. Keputusannya dipicu oleh batuk parah yang tidak kunjung sembuh meski telah berkonsultasi dengan beberapa dokter umum.
“Saya sudah mencoba berbagai pengobatan, mulai dari obat flu biasa hingga pengobatan asma (karena saya punya riwayat penyakit ini di masa kanak-kanak) dan penyakit ini terus muncul kembali, namun tidak ada yang berhasil menghentikan batuk saya,” kata Adrian.
Baca juga: Eksklusif Kompas.com: Ahli Onkologi Ungkap Bahaya Vaping dan Kaitannya dengan Kanker Paru-Paru
Hasil rontgen dada Adrian menunjukkan ada bintik-bintik mencurigakan. Temuan ini membawanya menjalani serangkaian pemeriksaan lebih lanjut hingga akhirnya bertemu dengan Konsultan Senior Ahli Onkologi Medis di Parkway Cancer Centre (PCC), Dr Tanujaa Rajasekaran. Diagnosisnya telah dikonfirmasi. Adrian menderita adenokarsinoma non-sel kecil stadium 4.
“Saya kaget dan tidak percaya. Saya sama sekali tidak melihat diri saya dikaitkan dengan kanker, terutama kanker paru-paru. Saya tidak merokok, saya tidak kelebihan berat badan. Saya termasuk orang yang relatif aktif dan sehat saat itu,” katanya.
Sejak diagnosis tersebut, kehidupan Adrian berubah total. Kanker yang ditemukan di paru-paru, kelenjar getah bening, dan tulang belakangnya mengharuskannya menjalani kemoterapi serta terapi oral yang ditargetkan setiap hari.
Di tengah cobaan beratnya, Adrian beruntung mendapat dukungan penuh dari ibunya yang rela terbang dari Sibu, Sarawak, Malaysia, hingga Singapura.
Baca juga: Waspada, Ini Gejala Kanker Paru yang Perlu Diwaspadai
“Kehadiran ibu membuat hidupku lebih tenang,” ujarnya.
Dukungan tidak hanya datang dari keluarga. Unggahan diagnosisnya di media sosial, Adrian mengundang simpati, termasuk dari rekan-rekan lamanya saat menjadi awak kabin di sebuah maskapai penerbangan sebelum beralih profesi menjadi agen real estate. Bahkan salah satunya adalah penyintas kanker stadium 4 yang kini menjadi teman yoga Adrian.
“Bantuan kecil yang diberikan teman sangat berarti. Misalnya saja menjemputmu setelah kemoterapi atau mengajakmu berbelanja kebutuhan sehari-hari,” kata Adrian.
Padahal, bagi Adrian, nasehat terpenting saat itu datang dari teman-temannya.
Baca juga: Eksklusif Kompas.com: Kanker Paru Tak Hanya Ancam Perokok, Penjelasan Dr Ang Peng Tiam dalam Wawancara Khusus
“Mereka menasihati saya untuk memberikan afirmasi pada diri sendiri setiap pagi ‘Saya hebat, saya hebat’. Awalnya terkesan konyol, tapi sangat membantu, apalagi kondisi fisik saya sedang tidak maksimal,” jelasnya.
Dukungan terutama dari keluarga memberikan energi lebih bagi Adrian untuk melawan kanker paru-paru. Hal ini juga terbukti secara medis.
Pada Kamis (14/11/2024), tim Kompas.com berkesempatan mewawancarai Dr Tanujaa tentang pentingnya peran dukungan keluarga dalam perjalanan pengobatan kanker paru. Berikut hasil wawancara selengkapnya.
Bagaimana dukungan keluarga mempengaruhi pengobatan dan pemulihan pasien kanker paru stadium lanjut?
Dukungan keluarga mempunyai dampak yang signifikan terhadap pengobatan dan pemulihan kanker paru stadium lanjut. Sistem dukungan yang kuat telah terbukti berhubungan dengan tingkat kelangsungan hidup dan hasil pengobatan yang lebih baik.
Baca juga: Haruskah Perokok Mendapat Diagnosis Dini Kanker Paru-Paru?
Pasalnya, dukungan tersebut tidak hanya meningkatkan kesejahteraan emosional, tetapi juga kepatuhan selama menjalani pengobatan dan kualitas hidup pasien.
Selain membantu mengurangi stres dan memberikan motivasi, keluarga juga berperan penting dalam aktivitas, seperti transportasi dan perawatan sehari-hari. Keterlibatan keluarga sangat membantu dalam pengambilan keputusan, penanganan gejala, serta pengawasan dan kebutuhan fasilitas kesehatan.
Pola ideal dalam menolong pasien kanker dapat dicapai dengan memberikan dukungan emosional, menjaga komunikasi tetap terbuka, melibatkan pasien dalam pengambilan keputusan, serta memberikan ruang dan dukungan yang seimbang kepada pasien.
Tim medis juga dapat melibatkan keluarga dalam perawatan melalui diskusi pengobatan, pelatihan keterampilan perawatan primer, dan konsultasi rutin. Mereka juga memberikan edukasi tentang efek samping pengobatan dan cara mengelolanya.
Baca Juga: Kasus yang sangat jarang terjadi, seorang wanita mengalami kebutaan mendadak akibat kanker paru-paru
Parkway Cancer Centre memiliki program dukungan komprehensif untuk pasien dan keluarga pasien yang disebut CanHOPE. Program ini mencakup sesi konseling dan kelompok dukungan.
Bagaimana keluarga menyeimbangkan pemberian dukungan dan perawatan untuk kesehatan mereka sendiri?
Tidak dapat dipungkiri bahwa tantangan utama yang sering dihadapi keluarga antara lain stres emosional, perubahan peran, tuntutan waktu dan tenaga, beban keuangan, kesulitan komunikasi, serta kurangnya keterampilan dan pendidikan dalam merawat pasien.
Kelelahan pengasuh juga umum terjadi sehingga penting untuk menyertakan jaringan dukungan yang lebih luas ketika berbagi tanggung jawab pengasuhan dan pendampingan.
Baca juga: Tak Sama Bahayanya, Vaping dan Rokok Sebabkan Kanker Paru-Paru
Untuk itu, keseimbangan dapat dicapai dalam memberikan dukungan dan menjaga kesehatan diri melalui manajemen waktu yang efektif dan berbagi tugas dengan anggota keluarga lainnya.
Keluarga perlu menjaga kesehatan fisik dan mental dengan terus melakukan aktivitas sehat, menjaga pola tidur, dan mengonsumsi makanan seimbang.
Apa peran kelompok dukungan dan dukungan profesional dalam membantu keluarga mengelola stres dan mendampingi pasien?
Keluarga juga perlu mengembangkan jaringan dukungan komunitas yang lebih luas dan memanfaatkan dukungan komunitas yang tersedia. Keluarga tidak boleh ragu dan terbuka untuk meminta bantuan bila diperlukan, baik itu dari saudara, teman, atau tenaga kesehatan.
Baca juga: Perokok pasif memiliki risiko empat kali lipat terkena kanker paru-paru dibandingkan bukan perokok
Kelompok dukungan dan dukungan profesional memberikan banyak manfaat bagi keluarga dan pasien kanker. Mereka menyediakan tempat yang aman untuk berbagi pengalaman, mendapatkan dukungan emosional, dan mempelajari strategi praktis untuk menghadapi tantangan. Program ini juga membantu mengembangkan keterampilan mengasuh anak dan menghubungkan keluarga dengan sumber daya penting. Diagnosis dan gejala
Mengapa diagnosis kanker paru sering tertunda?
Keterlambatan evaluasi biasanya terjadi karena beberapa tantangan besar. Pertama, gejala awal kanker paru-paru, seperti batuk dan kelelahan, sering kali dianggap ringan dan dianggap sebagai penyakit yang tidak terlalu serius. Kedua, terdapat stigma dan kesalahpahaman, khususnya di kalangan bukan perokok, yang menganggap risiko mereka rendah.
Faktor lainnya termasuk terbatasnya akses terhadap skrining, seperti CT scan dosis rendah, terutama di wilayah dengan sumber daya terbatas. Selain itu, gejala kanker paru-paru seringkali tumpang tindih dengan gejala kondisi lain, seperti penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) atau TBC. Hal ini sering menyebabkan kesalahan diagnosis.
Baca Juga: Mengenali Gejala Kanker Paru-Paru yang Muncul di Jari Tangan
Apa saja gejala awal yang sering diabaikan, namun sebenarnya bisa menjadi tanda kanker paru-paru?
Gejala awal kanker paru seringkali diabaikan karena sering dianggap sebagai masalah kesehatan ringan. Batuk yang tidak kunjung sembuh merupakan salah satu gejala yang paling umum dan sering diabaikan. Begitu pula sesak napas yang muncul, meski melakukan aktivitas ringan, sering kali dianggap sebagai kelelahan umum.
Nyeri atau rasa tidak nyaman di dada juga sering disalahartikan sebagai akibat dari ketegangan otot, padahal ini bisa menjadi pertanda penting.
Kelelahan terus-menerus tanpa sebab yang jelas sering kali dianggap hanya efek samping dari stres atau kurang istirahat sehingga jarang disadari. Perubahan suara, seperti suara serak atau suara serak, sering kali dianggap sepele, padahal bisa saja mengindikasikan adanya masalah serius.
Baca juga: 10 Gejala Kanker Paru Stadium 4, Jangan Diabaikan
Penurunan berat badan yang terjadi tanpa sebab yang jelas juga sering kali terabaikan. Juga dengan hilangnya nafsu makan.
Infeksi saluran pernapasan berulang, seperti bronkitis atau pneumonia, seringkali dianggap normal. Faktanya, ini mungkin merupakan tanda awal kanker paru-paru.
Batuk darah, meski dalam jumlah kecil, juga bisa menjadi gejala yang berbahaya, namun biasanya tidak langsung dikenali sebagai sesuatu yang serius.
Jika gejala tersebut menetap dalam jangka waktu lama atau memburuk, sangat penting untuk segera memeriksakan diri ke dokter untuk mengetahui penyebabnya.
Baca Juga: Ahli Onkologi Parkway Cancer Centre Singapura Ungkap Kombinasi Pengobatan Tepat Untuk Pasien Kanker Paru Tren dan Perkembangan di Asia Tenggara
Bagaimana tren kejadian kanker paru-paru di Asia Tenggara, khususnya di kalangan bukan perokok seperti Adrian? Apakah ada perubahan demografis yang signifikan?
Di Asia Tenggara, tren kanker paru-paru menunjukkan perubahan yang signifikan, terutama dengan meningkatnya prevalensi di kalangan bukan perokok. Fenomena ini dipengaruhi oleh beberapa faktor unik di wilayah tersebut.
1. Faktor lingkungan dan pekerjaan
Paparan polusi dalam ruangan, seperti asap memasak dari bahan bakar biomassa, serta bahaya pekerjaan yang terkait dengan zat karsinogenik, seperti asbes, arsenik, dan hidrokarbon aromatik polisiklik, merupakan kontributor utama terhadap risiko kanker paru-paru di kalangan bukan perokok di wilayah ini .
2. Predisposisi genetik
Mutasi genetik, terutama pada gen estimasi laju filtrasi glomerulus (EGFR), lebih sering ditemukan pada pasien kanker paru di Asia (40-55 persen) dibandingkan populasi di Barat (15-20 persen). Mutasi ini terkait erat dengan perkembangan adenokarsinoma, jenis kanker paru-paru yang paling umum terjadi pada wanita dan bukan perokok.
Baca juga: Perokok Rentan Terkena Kanker Paru-paru Sel Kecil, Lebih Berbahaya?
3. Asap rokok pasif dan TBC
Paparan asap rokok pasif yang lebih tinggi dan tingginya prevalensi tuberkulosis di Asia Tenggara juga merupakan faktor penyebabnya. Keduanya berhubungan dengan kerusakan paru-paru kronis yang meningkatkan risiko terkena kanker paru-paru.
4. Keterlambatan diagnosis dan hasil yang terlambat
Gejala awal seringkali diabaikan oleh orang yang bukan perokok sehingga diagnosis sering kali baru ditegakkan ketika kanker sudah menyebar. Hal ini berkontribusi pada rendahnya tingkat kelangsungan hidup lima tahun (10-15 persen) di wilayah tersebut.
Apa perkembangan terkini dalam pengobatan kanker paru-paru di kawasan Asia Tenggara? Bagaimana cara memberikan harapan baru kepada pasien?
Ada beberapa kemajuan dalam pengobatan kanker paru-paru. Perkembangan ini berfokus pada pengobatan presisi, terapi inovatif, dan metode deteksi dini yang lebih baik.
Baca Juga: Apa Saja yang Dihindari Penderita Kanker Paru?
Pertama, terapi sasaran dengan menggunakan obat-obatan, misalnya sotorasib. Pendekatan ini menargetkan mutasi KRAS-G12C dan menunjukkan hasil yang menjanjikan. Terutama dalam terapi kombinasi untuk kanker paru-paru non-sel kecil (NSCLC).
Kedua, imunoterapi. Penggunaan inhibitor pos pemeriksaan imun seperti durvalumab kini menjadi umum, terutama untuk pengobatan kanker paru-paru sel kecil (SCLC).
Ketiga, vaksin kanker. Penelitian terhadap vaksin terapeutik kanker terus berkembang, termasuk vaksin berbasis RNA dan vaksin spesifik neoantigen. Tujuan dari vaksin ini adalah untuk melatih sistem imun tubuh dalam mengenali dan menyerang sel kanker, terutama bila dikombinasikan dengan imunoterapi.
Keempat, biopsi cair. Kemajuan dalam teknologi sirkulasi DNA tumor (ctDNA) memungkinkan deteksi non-invasif terhadap sel kanker yang tersisa setelah operasi. Teknologi ini mendukung perencanaan pengobatan yang lebih personal dan deteksi dini kemungkinan kekambuhan.
Baca juga: Bisakah Kanker Paru Disembuhkan?
Kelima, kecerdasan buatan (AI) dan biomarker. Kecerdasan buatan semakin banyak digunakan saat ini untuk menganalisis biomarker dan mempersonalisasi pengobatan. Strategi berbasis biomarker, seperti menargetkan mutasi EGFR dan ALK, telah terbukti memperpanjang kelangsungan hidup sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien kanker paru-paru.
Semua perkembangan ini mencerminkan transformasi pengobatan kanker paru menjadi lebih personal, tepat dan efektif. Para peneliti juga terus mengembangkan kombinasi terapi baru dan teknologi inovatif untuk memberikan hasil pengobatan yang lebih baik bagi pasien.
Bagi Anda yang mengalami gejala seperti batuk berkepanjangan, sesak napas, atau keluhan pernafasan lainnya, jangan ragu untuk segera berkonsultasi ke dokter. Deteksi dini dapat memberikan kontribusi besar terhadap keberhasilan pengobatan.
Untuk berkonsultasi mengenai layanan kesehatan terkait kanker paru, Anda dapat menghubungi Parkway Cancer Center di 0811-1934-673 atau mengunjungi www.parkwaycancercentre.com.
Artikel Pentingnya Dukungan Keluarga dalam Pemulihan Kanker Paru Stadium 4 pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Artikel Ahli Onkologi Parkway Cancer Centre Singapura Ungkap Kombinasi Pengobatan Tepat untuk Pasien Kanker Paru-Paru pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Data dariverywellhealth.com menunjukkan bahwa pada tahun 2020, tingkat kelangsungan hidup lima tahun untuk semua jenis kanker yang didiagnosis pada berbagai tahap akan mencapai 26,7 persen.
Sementara itu, menurut artikel berita Kompas.com, Jumat (23/3/2024), separuh dari seluruh pasien kanker di Inggris dan Wales mampu bertahan hidup selama 10 tahun atau lebih dengan peningkatan angka harapan hidup lebih dari separuhnya dengan deteksi dini penyakit paru-paru. kanker. Hal ini disebabkan oleh aplikasi. kanker.
Selain itu, kemajuan dalam diagnosis kanker, pengobatan kanker, pembedahan invasif minimal, terapi radiasi yang lebih baik, dan penemuan obat baru telah membantu meningkatkan pengobatan dengan efek samping yang lebih sedikit.
Namun, kanker paru-paru tidak bisa diobati dengan cara yang sama untuk setiap pasien.
Setiap orang membutuhkan pengobatan yang tepat dan disesuaikan dengan jenis kankernya. Pendekatan ini juga harus disesuaikan berdasarkan karakteristik molekuler, stadium kanker saat diagnosis, dan nyeri pasien secara keseluruhan.
Pada Selasa (3/12/2024), tim Kompas.com berkesempatan mewawancarai Dr. Wong Siew Wei dari Parkway Cancer Centre Singapura. Dalam wawancara ini, Dr. Wong menjelaskan berbagai pengobatan kanker paru-paru dan teknologi terkini yang dapat meningkatkan peluang kesembuhan pasien.
Berikut hasil wawancara selengkapnya.
Apa faktor risiko utama kanker?
Merokok merupakan faktor risiko utama kanker paru-paru baik bagi perokok aktif maupun non-aktif. Selain itu, banyak faktor lingkungan yang juga meningkatkan risiko kanker.
Faktor-faktor tersebut antara lain polusi udara, pembakaran bahan bakar fosil, paparan mineral seperti asbes dan silika, serta radiasi alam seperti radon.
Baca juga: Spesial Kompas.com: Ahli Onkologi Jelaskan Bahaya vaping dan Kaitannya dengan Kanker Paru-Paru
Selain itu, faktor genetik juga memegang peranan penting, terutama pada masyarakat Asia. Terkadang, kanker ditemukan berkelompok dalam satu keluarga, meskipun anggota keluarga tersebut tidak memiliki kebiasaan merokok tertentu.
Terakhir, orang dengan riwayat penyakit paru kronis seperti emfisema dan tuberkulosis juga memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker paru.
Bisakah kanker didiagnosis dengan tes darah?
Kanker paru-paru seringkali dapat dideteksi dengan rontgen dada atau CT scan. Untuk memastikan diagnosis, dokter juga akan sering melakukan biopsi jarum kecil.
Pada pasien dengan kanker paru-paru non-sel kecil, dokter sering melakukan pengujian molekuler tambahan untuk mengidentifikasi karakteristik tumor.
Selain itu, peralatan tes darah kini lebih banyak digunakan karena dapat mendeteksi perubahan genetik yang mengarah pada berkembangnya kanker paru-paru.
Informasi yang diperoleh dari hasil analisis ini dapat membantu dokter menentukan jenis pengobatan yang paling sesuai untuk setiap pasien.
Namun tes darah untuk mendeteksi kanker paru-paru saat ini belum seefektif metode utama diagnosis kanker paru-paru.
Di sisi lain, tes darah berbasis teknologi terkini, seperti deteksi dini kanker (MCED), menunjukkan harapan besar.
Tes ini memiliki potensi karena dapat mendeteksi DNA dan RNA abnormal yang berhubungan dengan berbagai jenis kanker, termasuk kanker payudara, sehingga dapat menjadi alat skrining berikutnya.
Namun, mengingat perbedaannya, tes MCED harus digunakan bersamaan dengan tes konvensional, seperti CT paru dosis rendah, mamografi, Pap smear, dan kolonoskopi.
Apa perbedaan antara kanker paru stadium awal dan stadium lanjut?
Pada stadium awal, kanker paru-paru biasanya tidak menimbulkan gejala berarti. Inilah sebabnya mengapa skrining kanker dianjurkan, terutama bagi mereka yang berisiko.
Baca juga: Eksklusif Kompas.com: Kanker Paru Bukan Hanya Ancaman Perokok, Kata Dokter Ang Peng Tiam dalam Wawancara Eksklusif
Sebaliknya, pada stadium lanjut, kanker sering kali muncul dengan gejala seperti batuk darah, nyeri dada, penurunan berat badan, kesulitan bernapas, dan pembengkakan di leher.
Skrining kanker paru-paru menggunakan CT dosis rendah telah terbukti efektif dalam mendeteksi kanker paru-paru pada tahap awal dan mengurangi angka kematian akibat penyakit tersebut. Skrining ini direkomendasikan untuk individu berusia 50–80 tahun yang memiliki riwayat perokok berat atau memiliki anggota keluarga yang menderita kanker.
Seperti jenis kanker lainnya, pengobatan kanker paru-paru bergantung pada stadium kanker saat diagnosis.
Misalnya, tingkat kelangsungan hidup lima tahun untuk kanker payudara stadium 1 bisa mencapai 90 persen. Namun, angka ini mungkin turun hingga 10-20 persen. 4-up di dalam) 4 maju , sebesar 10-20 persen.
Meskipun sekarang sudah banyak pengobatan yang efektif, bagian terpenting dari pengobatan terletak pada pengobatan kanker pada tahap awal.
Tujuan pengobatan berbeda pada setiap tahap. Pengobatan pada tahap awal terdiri dari penyembuhan penyakit secara menyeluruh. Sedangkan pada stadium lanjut, pengobatan bertujuan untuk mengendalikan tumor dalam jangka panjang dan mengurangi gejala yang ditimbulkannya.
Apakah pasien kanker paru-paru selalu membutuhkan operasi untuk sembuh?
Pasien dengan kanker stadium 1 hingga 3A dapat diobati dengan pembedahan yang dikombinasikan dengan pengobatan lain, seperti kemoterapi, terapi radiasi, dan terapi radiasi.
Namun, tidak semua pasien cocok untuk menjalani operasi. Sebab, beberapa di antaranya memerlukan fungsi paru-paru yang memadai setelah operasi kecil, yang bisa ditangani dengan metode lain seperti terapi radiasi tubuh (SBRT).
Baca juga: Berhenti Merokok, Mantan Dokter di Inggris Menderita Kanker dengan Gejala Sakit Punggung
Pada kanker paru stadium 3 stadium lanjut yang telah menyebar ke kelenjar getah bening, pengobatan tanpa operasi biasanya merupakan pilihan terbaik.
Pendekatan ini sering kali melibatkan kombinasi tindakan pengobatan medis seperti kemoterapi, radiasi, dan antibiotik. Tingkat kelangsungan hidup pasien dengan kombinasi ini mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.
Faktanya, pada kanker stadium awal, sebagian besar pasien memerlukan kombinasi berbagai jenis perawatan untuk mencapai hasil yang baik.
Apa efek samping kemoterapi dan radioterapi untuk kanker paru-paru?
Pasien kanker paru mungkin disarankan untuk menerima jenis pengobatan yang berbeda dan setiap pengobatan memiliki manfaat yang berbeda.
Sedangkan untuk kemoterapi, pengobatan ini melibatkan jenis obat yang berbeda-beda dan setiap jenisnya memiliki profil yang berbeda.
Tidak semua kemoterapi menyebabkan mual atau rambut rontok. Kebanyakan obat pereda nyeri, seperti rasa lelah, perubahan rasa, kulit kering, dan penurunan sirkulasi darah, bersifat sementara dan akan membaik setelah pengobatan selesai.
Ada juga banyak kemajuan dalam radioterapi dalam beberapa tahun terakhir. Pasien yang menerima prosedur baru, seperti penggunaan terapi radiasi (IMRT) dan terapi sinar proton, memiliki risiko efek samping yang lebih rendah.
Efek samping radioterapi juga bergantung pada lokasi kanker. Penyakit ini terbagi menjadi beberapa tahap.
Yang pertama adalah efek samping seperti kelelahan dan mual. Setelah itu timbul efek samping jangka panjang, seperti jaringan parut pada organ tertentu.
Kemajuan teknologi elektronik memungkinkan hasil yang lebih baik dengan lebih sedikit gangguan pada pasien.
Berapa tingkat keberhasilan pengobatan kanker paru-paru?
Keberhasilan pengobatan kanker paru-paru bergantung pada banyak faktor, seperti stadium kanker pada saat diagnosis dan kebugaran pasien untuk menjalani pengobatan.
Akses dini terhadap pengobatan oleh tim multidisiplin termasuk ahli onkologi, ahli bedah toraks, dan ahli radiologi sangat penting untuk mendapatkan hasil terbaik.
Baca juga: Hati-hati, Ini Gejala Kanker Paru yang Patut Anda Waspadai.
Misalnya, kanker paru-paru non-sel kecil stadium 1 memiliki tingkat kelangsungan hidup lima tahun hingga 90 persen. Namun pengobatan ini menurunkan tingkat kelangsungan hidup hingga 30-50 persen pada kanker stadium 3.
Bisakah kanker paru-paru disembuhkan tanpa kambuh lagi? Jika hal ini bisa terjadi lalu bagaimana cara menghentikannya?
Kanker dianggap sebagai jenis kanker yang mematikan. Namun, dengan deteksi dini dan akses terhadap pengobatan terbaik, jalan menuju pemulihan bisa selesai.
Kebanyakan pasien memerlukan kombinasi perawatan berbeda untuk mencapai hasil terbaik. Metode tambahan yang direkomendasikan adalah penggunaan kemoterapi sebelum operasi, yang disebut terapi neoadjuvan.
Pendekatan neoadjuvan memungkinkan kanker paru-paru dikurangi dan dikendalikan dengan lebih cepat.
Dengan cara ini pembedahan akan menjadi lebih mudah dan risiko kanker pasca operasi dapat dikurangi. Langkah ini merupakan bagian penting dari strategi pengobatan demi kesembuhan pasien.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai layanan kesehatan terkait kanker, Anda dapat menghubungi Parkway Cancer Centre di 0811-1934-673 atau mengunjungi www.parkwaycancercentre.com.
Artikel Ahli Onkologi Parkway Cancer Centre Singapura Ungkap Kombinasi Pengobatan Tepat untuk Pasien Kanker Paru-Paru pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>