Artikel Langkah Tata Memecah Stigma, Papar 4.000 Anak Muda NTT dengan Isu Kesehatan Reproduksi pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Hal itu diungkapkan Tata (32) yang akrab disapa Mariana Yunita Hendriyani Opat saat bercerita tentang pengalamannya melahirkan anak dan remaja di wilayahnya, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ia mengatakan, mungkin seperti daerah lain di Indonesia, diskusi terbuka mengenai kesehatan reproduksi masih dianggap tabu di NTT. Padahal, kata Tata, tidak harus demikian.
Baca juga: Bidan Terus Jadi Amanah Perempuan dalam Kesehatan Reproduksi
“Beberapa orang tua, misalnya, masih bertanya, ‘Apa gunanya mengajari anak berciuman? Kenapa ngomongin menstruasi, mimpi basah, atau memperlihatkan alat kelamin? Kenapa ngomongin pacaran?’
Padahal, kata Tata, belum tentu demikian. Ia percaya bahwa pendidikan seks harus diajarkan sejak usia muda untuk membantu mempersiapkan anak-anak menghadapi masa depan yang lebih baik.
Tata pun berkomitmen untuk terus berupaya mengubah persepsi tersebut.
Sejak tahun 2016, melalui pembentukan Southeast Youth Society, Tata berupaya menjangkau anak-anak dan remaja di berbagai daerah di NTT untuk belajar bersama tentang kesehatan seksual dan reproduksi. Pentingnya pendidikan seksual
Tata, pendidikan seksual sangat penting untuk dibicarakan antara anak dan remaja.
Perempuan kelahiran Kiupukan, Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT ini mengatakan, banyak masyarakat yang mungkin menganggap enteng persoalan kesehatan seksual dan reproduksi.
Tapi, menurutnya, persoalan ini berdampak besar dan penting bagi kehidupan generasi muda saat ini dan masa depan.
Misalnya, ditemukan banyak anak dan remaja yang tidak mendapat pemahaman dari orang tuanya di rumah tentang bagaimana mempersiapkan diri menuju masa dewasa.
“Saat kami buka distribusinya di beberapa tempat, kami menemukan banyak remaja putri yang mengaku terkejut saat mengetahui ada darah saat haid. Lalu, sang adik pun kebingungan, terbangun seperti baru saja mengompol, yang sebenarnya itu pertanda mimpi basah,” jelasnya.
Baca juga: Para Ahli dan BPOM Evaluasi Apakah Kontaminasi BPA pada Galon Polikarbonat Dapat Membahayakan Kesehatan Reproduksi
Tata bahkan menemukan beberapa anak muda sedang merokok atau menggosok alat kelaminnya dengan pasangannya (hewan) tanpa banyak mengetahui bahayanya.
Di sana, ia menilai memberikan edukasi kesehatan seksual dan reproduksi kepada anak dan remaja sangat penting untuk mengedukasi mereka tentang tubuh.
“Kurikulum ini membantu anak-anak memahami perubahan fisik, mental, dan emosional yang terjadi pada masa pubertas. Siswa muda akan lebih siap menghadapi perubahan tersebut dengan lebih percaya diri dan tanpa merasa terlalu malu atau cemas,” ujarnya.
Selain itu, menurut Tata, anak yang mendapat pendidikan seksual dan reproduksi yang memadai akan lebih memahami risiko yang terkait dengan perilaku seksual, seperti kehamilan dini, Infeksi Menular Seksual (IMS), HIV, dan risiko lainnya.
“Setelah mereka paham, mudah-mudahan mereka lebih waspada dan mampu mengambil keputusan dengan aman,” ujarnya.
Tata mengatakan pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi juga dapat mengajarkan anak tentang batasan pribadi, pentingnya menghargai tubuh sendiri dan orang lain, serta cara mengenali dan melaporkan perilaku yang tidak pantas.
“Pengetahuan ini dapat melindungi anak dari pelecehan atau kekerasan seksual dan membantu mereka mencari pertolongan jika mengalaminya,” ujarnya.
Dapat dikatakan bahwa pendidikan seksual dan reproduksi merupakan cikal bakal pendidikan keluarga yang mempunyai arti sangat penting.
Tenggara sendiri melakukan survei tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi generasi muda di NTT pada tahun 2017.
Akibatnya, sebagian besar dari sekitar 500 anak muda yang ditanyai pendapatnya menemukan bahwa mereka tidak memiliki akses terhadap sumber informasi atau komunitas pendidikan seksualitas untuk mendiskusikan topik pendidikan seksualitas.
Angka tersebut kami nilai sejalan dengan meningkatnya angka pelecehan seksual atau kehamilan ektopik di kalangan generasi muda di NTT, ujarnya prihatin.
Menurut data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) NTT, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di NTT terus terjadi selama bertahun-tahun.
Pada tahun 2023, 323 kasus dilaporkan dari Januari hingga Desember. Kebanyakan kasus melibatkan kekerasan terhadap anak. Sedangkan pada tahun ini jumlahnya mencapai 227 kasus hingga Agustus 2024.
Berdasarkan data BPS tahun 2022, NTT memiliki jumlah kabupaten miskin terbesar kedua di Indonesia. Misalnya saja di Kupang, angka partisipasi sekolah laki-laki usia 7 hingga 24 tahun hanya 74,96 persen, dan perempuan 85,01 persen.
Baca juga: Mempertanyakan Peraturan Pelayanan Kesehatan Reproduksi PP 28/2024
Dalam konteks ini, terbatasnya akses terhadap pendidikan dan informasi kesehatan reproduksi dikhawatirkan akan membahayakan banyak anak yang putus sekolah atau tinggal di daerah terpencil di NTT.
“Padahal setiap generasi muda berhak mengetahui tubuhnya sendiri dan mengambil keputusan reproduksi yang matang,” kata Tata. Baccarita Kespro
Tata memutuskan mendirikan Tenggara delapan tahun lalu setelah melihat belum ada komunitas yang terdiri dari generasi muda dan generasi muda yang fokus pada isu kesehatan seksual dan reproduksi, khususnya di Kota Kupang.
Awalnya, saya hanya berharap Asia Tenggara bisa menjadi tempat yang aman bagi generasi muda untuk berbagi kisah pribadinya, mulai dari pengalaman menstruasi, mimpi basah pertama, hingga penyintas pelecehan seksual.
Namun dalam perjalanannya, Tata ingin memberikan dampak yang lebih besar di wilayah Tenggara dengan mendidik anak-anak dan remaja tentang kesehatan seksual dan reproduksi, serta mencegah kekerasan berbasis gender. Pertimbangan utamanya adalah mereka prihatin dengan tingginya tingkat kekerasan terhadap anak di NTT.
Dari situlah Tenggara memunculkan Bacitata Kespro sebagai program unggulan. Dalam bahasa Melayu Kupang, Bacarita berarti sejarah. Sedangkan Kespro merupakan singkatan dari kesehatan reproduksi. Jadi Bacarita Kespro itu cerita tentang kesehatan reproduksi.
Southeast secara konsisten menyelenggarakan Bacitata Kespro setiap hari Sabtu, bahkan secara online di masa pandemi Covid-19. Namun dengan mempertimbangkan sejumlah faktor, termasuk persiapan kelompok sasaran yang semakin membaik, Southeast tidak menutup kemungkinan akan digelar di lain hari.
Dengan melaksanakan program pendidikan ini, Southeast mempunyai tujuan penting. Sasaran utamanya adalah kaum muda berusia antara 10 dan 24 tahun dari kelompok miskin, minoritas, kelompok yang terpinggirkan secara sosial, dan kelompok yang tidak diperlukan atau direduksi menjadi PMSEU.
Tenggara memilih hal tersebut karena melihat beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau pemerintah NTT mulai melakukan komunikasi dengan dunia sekolah mengenai berbagai permasalahan kesehatan seksual dan reproduksi.
Sebaliknya, anak-anak yang tidak bersekolah, generasi muda yang putus sekolah, generasi muda yang dikeluarkan karena tidak menikah, generasi muda aktif yang tinggal di komunitas di luar sekolah, bahkan generasi muda di tempat. ibadah merasakannya. Jangan terlalu banyak terpapar informasi tentang topik penting ini.
Untuk mengenal lebih dekat anak-anak tersebut, Tata dan relawan asal Tenggara lainnya rela menjelajahi desa-desa, berpindah-pindah kota, bahkan menyeberangi lautan hingga mencapai pulau-pulau di sekitar NTT.
Baca juga: Pendidikan Seksual, Kunci Perlindungan Kesehatan Reproduksi dan Pencegahan Kejahatan
Jika berhasil bertemu dengan anak-anak, Tenggara akan mengajak mereka berdiskusi banyak hal seputar kesehatan seksual dan produktivitas.
Artikel Langkah Tata Memecah Stigma, Papar 4.000 Anak Muda NTT dengan Isu Kesehatan Reproduksi pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Artikel Pentingnya Pendidikan Seksualitas sejak Dini untuk Tangani HIV/AIDS pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Hal itu diungkapkan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Ina Agustina Isturini dalam jumpa pers di Jakarta, dilansir Antara, Kamis (28/11/2024).
Ina menjelaskan, pendidikan seksualitas sebaiknya dimulai pada usia 10 tahun atau kelas 5 SD. Sebab pada usia ini, anak mulai terbiasa dengan perubahan-perubahan yang berkaitan dengan seksualitas, misalnya menstruasi.
Baca juga: Minuman apa yang menurunkan gula darah? Berikut 7 daftarnya…
Menurutnya, pengetahuan ini penting untuk menjaga kesehatan reproduksi mereka dan mencegah penyakit menular seksual seperti HIV/AIDS.
Pentingnya edukasi ini juga mencakup penyampaian pemahaman untuk tidak melakukan diskriminasi atau stigmatisasi terhadap orang yang hidup dengan HIV (ODHIV).
Menurut Ina, hal ini bisa menjadi kendala dalam penemuan kasus dan pengobatan.
Mengutip data Indeks Stigma 2023, ia menyebutkan sekitar 19,5 persen pasien HIV mengalami diskriminasi dari petugas kesehatan saat mengakses layanan kesehatan terkait HIV dalam 12 bulan terakhir.
Sementara itu, 15,9 persen pasien lainnya mengalami diskriminasi dalam mengakses layanan kesehatan non-HIV pada periode yang sama.
Bella Aubree, Koordinator Nasional Inti Muda Indonesia, mengatakan selain pendidikan kesehatan reproduksi, penting untuk mengajarkan anak konsep persetujuan dalam berinteraksi dan kebersihan diri serta mengenalkan mereka pada bagian tubuh sensitif yang tidak disentuh orang lain hingga melakukan kekerasan. mencegah seksual.
Selain itu, Bella menjelaskan, edukasi harus tetap dilanjutkan dengan pengetahuan tentang cara menjaga kesehatan organ reproduksi dan bahaya perilaku seksual tidak sehat, termasuk risiko tertular HIV/AIDS, saat memasuki masa pubertas, jelas Bella.
Baca juga: Pentingnya Membaca Label Kemasan untuk Mencegah Konsumsi Gula Berlebih
Ia juga menyebutkan bahwa modul Pendidikan Seksualitas (SEE) yang komprehensif tersedia untuk digunakan di dalam dan di luar sekolah.
“Memang banyak pihak yang berperan, termasuk keluarga. Keluarga inilah yang harus berperan dalam pendidikan seks,” kata Bella.
Sementara itu, Direktur UNAIDS Indonesia Muhammad Saleem menegaskan, kebijakan pendidikan seks di setiap negara mungkin berbeda tergantung budaya dan agama.
Namun, menurutnya, pendidikan seks idealnya dimulai pada usia remaja.
“Pengalaman dan penelitian menunjukkan bahwa kemungkinan timbulnya masalah kesehatan reproduksi, yakni. HIV/AIDS, jauh lebih rendah jika anak perempuan, termasuk anak laki-laki, terutama anak perempuan, bersekolah selama 10 tahun dan menyelesaikan setidaknya sekolah menengah atas,” kata Salem.
Selain itu, pendidikan ini terbukti mampu mengurangi kekerasan berbasis gender pada perempuan yang melanjutkan pendidikan.
Baca juga: Manfaat Bunga Kupu-Kupu untuk Penyakit? Ini daftar 10… Dengarkan berita terkini dan berita pilihan kami langsung ke ponsel Anda. Pilih saluran berita favorit Anda untuk mengakses saluran WhatsApp Kompas.com: https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp.
Artikel Pentingnya Pendidikan Seksualitas sejak Dini untuk Tangani HIV/AIDS pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>