Artikel Kemenkes Imbau Skrining Kesehatan Jiwa Minimal Setahun Sekali pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Penilaian ini merupakan salah satu cara untuk mengetahui keadaan kejiwaan seseorang, sehingga jika terdapat tanda-tanda penyakit jiwa dapat segera dan tepat diobati.
“Fokus skrining kesehatan jiwa adalah seluruh rentang umur, mulai dari ibu hamil, nifas, anak-anak, remaja, dewasa, dan lanjut usia,” kata Imran. Imran berkata:
“Bagi masyarakat dengan gangguan kesehatan seperti penderita penyakit kronis, tujuan utamanya adalah setahun sekali, namun jika diperlukan dapat dilakukan lebih dari satu kali.”
Baca Juga: Pameran Karya Rehabilitasi: Melawan Stigma di Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2024
Tes kesehatan diperbolehkan lebih sering jika diperlukan. Khusus bagi ibu hamil, disarankan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan sebanyak tiga kali.
Imran melanjutkan, “Rinciannya dua kali selama kehamilan, yaitu pada saat pemeriksaan kehamilan pada trimester pertama, kunjungan ANC pertama (ANC) dan pada trimester ketiga kunjungan ANC ke-5”.
Kemudian diulangi pada masa nifas, yaitu pelayanan bersalin ketiga yang diselesaikan 8-28 hari setelah melahirkan (KF-3).
Selain itu, Imran Pambudi mengatakan, layanan pemeriksaan kesehatan dapat diberikan kepada masyarakat di puskesmas. Cara ini tidak hanya terdapat di puskesmas di kota besar, namun juga di puskesmas daerah.
“Pemeriksaan kesehatan jiwa dan tindak lanjut hasil asesmen merupakan bagian dari program pencegahan kesehatan jiwa yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di puskesmas, sehingga puskesmas dapat menjadikan semua puskesmas melakukan pemeriksaan tersebut, tidak hanya puskesmas saja. di kota-kota besar.
Baca Juga: Mempromosikan Kesehatan Mental Melalui Media Sosial
Upaya Kementerian Kesehatan dalam mendukung pengkajian kesehatan
Kementerian Kesehatan berupaya lebih keras dalam layanan pemeriksaan kesehatan. Pertama, memberikan penilaian kesehatan digital melalui aplikasi, baik di Sistem Informasi Kesehatan Mental (SIMCESWA) atau SATUSEHAT Mobile.
SIMKESWA adalah aplikasi berbasis web untuk mengumpulkan, mengolah dan menganalisis data terkait kesehatan mental. SIMKSWA bertujuan untuk membantu perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi program kesehatan jiwa.
Kedua, meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan melalui skrining kesehatan jiwa dan tindak lanjut hasil tes berbasis kesehatan.
Ketiga, melakukan koordinasi lintas sektor untuk mendukung pelaksanaan asesmen kesehatan dan tindak lanjut hasil asesmen. Keempat, melaksanakan kajian evaluasi kesehatan jiwa menurut tim Primary Service Integration (ILP) di Kota Manado, Sulawesi Utara.
Imran menyimpulkan, “Kekuatan kelima adalah teknik monitoring, evaluasi dan manajemen dalam asesmen kesehatan jiwa dan tindak lanjut hasil asesmen.” Dengarkan berita dan pilihan terbaru kami di ponsel Anda. Pilih saluran baru yang ingin Anda ikuti di saluran WhatsApp Kompas.com: https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan Anda telah menginstal aplikasi WhatsApp.
Artikel Kemenkes Imbau Skrining Kesehatan Jiwa Minimal Setahun Sekali pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Artikel NEWS INDONESIA Mendorong Skrining Kesehatan Jiwa lewat Media Sosial pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran akan pemeriksaan kesehatan mental yang efektif adalah melalui media sosial.
Dalam eksperimen sosial yang dilakukan oleh tim Collaborative Health Center (HCC), ditemukan hasil skrining meningkat tiga kali lipat dalam sebulan setelah kampanye diluncurkan.
“Kampanye ini telah terbukti berhasil memberikan pengaruh 3 kali lipat dan tingkat partisipasi penyaringan telah meningkat secara signifikan,” kata Presiden dan Penyelidik Utama HCC, Dr. Ray Wagiu Basrowi.
Melalui kampanye #checkyourneighborhood di Instagram, pengguna media sosial diajak untuk secara sukarela memeriksakan status kesehatan mentalnya dan mengajak orang-orang di sekitarnya untuk melakukan hal serupa.
Baca juga: Banyak Pertanyaan Soal Jalur Kesehatan Jiwa 119 yang Tak Bisa Dihubungi, Kemenkes: Ada Tapi Butuh Waktu Lama
Ray menjelaskan, penggunaan media sosial dilakukan karena masyarakat Indonesia memiliki interaksi yang tinggi di media sosial. Instagram merupakan salah satu media sosial dengan pengguna terbanyak di Indonesia, hampir 100 juta pada tahun 2023.
Selama tiga minggu kampanye kesehatan mental melalui Instagram ini, ditemukan bahwa parameter koneksi yang paling banyak digunakan adalah kata “percaya” dan “tanyakan kabar Anda”.
“Melalui kampanye #CekTemanSebelah, kami memadukan konten edukasi yang dikemas secara menarik dengan partisipasi sukarela masyarakat yang memiliki akses melalui akun Instagram HCC, sehingga pesan kami dapat tersebar luas dan cepat,” ujarnya.
Baca juga: 4 Cara Menjaga Kesehatan Mental di Tempat Kerja Menurut Kementerian Kesehatan
Kampanye ini diikuti oleh 688 peserta berusia 16-53 tahun di 14 provinsi. Ibu rumah tangga merupakan kelompok tertinggi yang berpartisipasi dalam kampanye (65 persen), disusul pekerja lain (17 persen) dan pegawai swasta (15 persen).
Selain meningkatkan leverage screening hingga 3 kali lipat, eksperimen sosial melalui kampanye jejaring sosial #CekTemanSebelah ini juga berhasil menciptakan gelombang diskusi di dunia maya tentang pentingnya menjaga kesehatan mental melalui percakapan dan berhubungan dengan orang lain atau koneksi sosial.
Hingga 30 persen netizen berbagi pengalaman mereka dalam pemutaran film tersebut, dan ini memotivasi orang lain untuk berpartisipasi.
“Melalui bukti eksperimen sosial, HCC merekomendasikan agar seluruh pemangku kepentingan memanfaatkan media sosial secara optimal sebagai media stimulus pemeriksaan kesehatan mental,” ujarnya.
Dengarkan berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponsel Anda. Pilih saluran berita favorit Anda untuk mengakses saluran WhatsApp Kompas.com: https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp.
Artikel NEWS INDONESIA Mendorong Skrining Kesehatan Jiwa lewat Media Sosial pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>