Artikel Dukung Transisi Energi Berkelanjutan di Indonesia, PLN Fokus pada Pendanaan Hijau pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>“Komitmen ini dimaksudkan untuk mendukung niat pemerintah Indonesia untuk menentukan pemeliharaan pemerintah Indonesia,” katanya pada sebuah pernyataan dari Kompas.com Rabu (11/13/2024).
Dalam desain ini, PLN adalah organisasi organisasi publik. Kedua negara
Pihak (Polisi), Baku, Baku, Baku, Bako,
Selain itu, dukungan keuangan hijau HSBC telah mengusir US $ 30 juta bersama -sama
Untuk memastikan pendanaan yang tepat, PLN yang dirancang untuk menyediakan uang hijau, termasuk mempersiapkan hubungan yang langgeng dan kerangka kerja Garis Besar Dana Hijau (SLIFT).
Ini dimaksudkan untuk bertindak sesuai dengan prinsip -prinsip dana abadi dan investasi hijau sesuai dengan prinsip -prinsip utama yang mendukung investasi baru dalam investasi baru di Indonesia.
Sinhyya mengatakan PLN menargetkan pengembangan 75% sumber daya untuk berubah.
Diperkirakan dia harus memenuhi tujuan ini.
Selain itu, waktu yang parah karena kehilangan $ 2 triliun dalam dekade terakhir
Siny harus yakin bahwa PLN harus memastikan bahwa proyek energi yang direncanakan direncanakan dan siap.
“Yang paling penting, yang paling penting dalam transfer transisi adalah menyiapkan proyek yang benar. Kemitraan; broadband termasuk perjalanan.
Sinhyya PLN dikaitkan dengan penyedia pinjaman internasional dan sumber daya lokal. Dia juga mengatakan bahwa kolaborasi yang berbeda akan diperiksa.
Lembaga keuangan bank yang mendukung transisi ini termasuk Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia (ADB) dan Mitra Transisi Energi (JETP).
Selain itu, Bank Dunia IDR 1,8 triliun IDR 1,8 triliun IDR 1,8 triliun
Sinhyya mengatakan Sinhhyya mengumpulkan sekitar $ 2,9 miliar untuk proyek transisi energi dalam dua tahun terakhir.
Sekarang, penawaran PLN dengan ADB untuk mendanai $ 4,8 miliar. Selain itu, kami juga menegosiasikan dana dana umum yang menerima dana keseluruhan sebesar $ 46,9 miliar. Aliansi Global di Indonesia
Artikel Dukung Transisi Energi Berkelanjutan di Indonesia, PLN Fokus pada Pendanaan Hijau pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Artikel Akselerasi Transisi Energi, Pertamina Fokus Tingkatkan Kapasitas Pembangkit Panas Bumi pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Eniya Listiani Dewi, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian Energi dan Mineral (ESDM), menegaskan Indonesia tetap teguh dalam mencapai tujuan Net Zero (NZE).
Energi panas bumi merupakan sumber energi penting untuk penambahan pasokan listrik negara secara efisien dan stabil.
“Indonesia memiliki kapasitas energi panas bumi terbesar dengan lebih dari 23 gigawatt (GW). Dalam keterangannya yang dipublikasikan, Kamis (14/11/2024), Kompas.com menyebutkan: “Kapasitas ini hanya terpakai sebesar 2,5 GW atau hanya 11%”.
Baca juga: Program PGN Harum Manis, Konversi Limbah Medis dan Radiasi Matahari
Hal itu disampaikan Eniya dalam pidatonya pada Konferensi Transisi Energi: Inovasi, Pendekatan Berkelanjutan, Strategi dan Strategi untuk Mencapai Tujuan Iklim Indonesia pada Conference of the Parties (COP) on Climate Change ke-29 di Baku, Azerbaijan pada Rabu (13/11/2024). ). ).
Enya menegaskan, pemanfaatan energi panas bumi dapat menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 22 juta ton karbon dioksida (CO2) pada tahun 2030.
Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mendukung pembangunan dalam negeri dan menjadikannya pilar transisi energi.
“Presiden Indonesia Prabowo Subianto telah berulang kali menekankan pentingnya energi panas bumi dan kita memerlukan dukungan internasional untuk menjadikan Indonesia pemimpin dunia dalam penggunaan listrik,” kata Eniya.
Baca Juga: Geo Dipa Energi Targetkan Campuran Panas Bumi Capai 260 GW pada 2026
Ia mengatakan, selain itu, pemerintah juga telah melonggarkan aturan perizinan dan menaikkan tingkat pengembalian investasi (IRR) menjadi 1,5 persen untuk menarik lebih banyak investasi. Panas bumi dapat menjadi sumber listrik
Sementara itu, CEO PT Pertamina Geothermal Energi Tbk (PGEO), Julfi Hadi menjelaskan, panas bumi dapat berperan sebagai sumber listrik yang stabil dan berkelanjutan.
Sumber daya energi merupakan kunci untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi sebesar 8% yang dicanangkan pemerintah Indonesia.
Baca juga: Ilmuwan Eksplorasi Rumput Laut Sebagai Sumber Energi dan Pakan Ternak
Julfi mengatakan: “Energi panas bumi merupakan salah satu sumber energi yang terbukti menjadi baseload. Hal ini perlu mulai kita lakukan sekarang, terutama dalam program pembangunan ekonomi berbasis industri dan manufaktur, yang membutuhkan listrik yang stabil dan bersih.”.
Ia juga mengatakan, PGEO menargetkan pengembangan kapasitas listrik Pertamina mencapai 1,5 GW pada tahun 2030 dengan investasi sekitar US$50 juta.
Untuk mendukung hal tersebut, Pertamina menerapkan berbagai strategi, termasuk strategi investasi.
Baca Juga: Violet Sun System Memungkinkan Perusahaan Italia Berinvestasi di PLTS di Kupang, NTT
Salah satu implementasi baru adalah penggunaan pompa listrik (ESP), sebuah teknologi yang dapat mengurangi dampak pengembangan lahan.
Dia berkata: “Pompa ini akan menghasilkan produksi yang tinggi bahkan di sumur berukuran sedang dan pembangkit listrik tenaga air. Alhasil, proyek-proyek sebelumnya memakan waktu 10 tahun dalam lima tahun, jelas Julfi.
Sebagai perusahaan yang memimpin transisi energi, Pertamina berkomitmen mendukung pencapaian Agenda 2060 dan terus mendorong program-program yang berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Baca Juga: Kurangi Pengangguran Melalui Sektor Swasta, Dompet Dhuafa Raih SDG Award
Seluruh upaya tersebut tidak lepas dari penerapan prinsip-prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) di seluruh lini bisnis Pertamina. Dengarkan berita terbaru dan pilih berita di ponsel Anda. Pilih saluran berita favorit Anda untuk mengakses saluran WhatsApp Kompas.com: https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan Anda telah menginstal WhatsApp.
Artikel Akselerasi Transisi Energi, Pertamina Fokus Tingkatkan Kapasitas Pembangkit Panas Bumi pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Artikel Percepat Transisi Energi Berkelanjutan, Pertamina Perkuat Bisnis Rendah Karbon pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Upaya ini juga mempertegas komitmen Pertamina untuk terus berinovasi dan menggunakan teknologi terkini untuk mengurangi emisi dari seluruh proses operasional.
Utusan Khusus Indonesia pada Konferensi Para Pihak Perubahan Iklim (COP 29) ke-29, Hashim Djojohadikusumo mengungkapkan, pemerintah mendukung penuh upaya Badan Usaha Milik Negara (BUMN), termasuk Pertamina, untuk mencapai target transisi energi.
Baca juga: Pertamina Tegaskan Komitmen Transisi Energi Berkelanjutan Melalui Zero Flaring Secara Rutin
Ia menekankan pentingnya kerja sama global untuk menghadapi tantangan perubahan iklim.
“Kami bersatu dengan satu tujuan, yakni menyelamatkan planet ini untuk generasi mendatang,” kata Hashim dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (12/11/2024).
“Di bawah kepemimpinan Presiden Republik Indonesia (RI) Prabowo Subianto, Indonesia berkomitmen penuh untuk mempercepat transisi energi, tidak hanya untuk menurunkan emisi, tetapi juga untuk mencapai keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan,” lanjutnya. . .
Baca juga: Dukung kelestarian lingkungan, Wikasatrian diakui sebagai pusat pengelolaan berbasis alam
Mendukung dekarbonisasi dan mencapai target NZE 2060
Dalam kesempatan yang sama, CEO Pertamina New and Renewable Energy (PNRE) John Anis menggarisbawahi komitmen Pertamina untuk mendukung dekarbonisasi dan mencapai tujuan net zero emisi (NZE) pada tahun 2060.
Pertamina, kata dia, telah mengambil langkah nyata untuk mengembangkan bisnis energi bersih dan rendah karbon.
“Pertamina mendapat mandat kuat dari pemerintah untuk menjadi penggerak bisnis rendah karbon dan dekarbonisasi di Indonesia. Ini bukan tugas yang mudah, namun kami telah mengambil langkah nyata untuk mengurangi emisi dengan berinvestasi pada energi ramah lingkungan dan memperkuat bisnis yang lebih ramah lingkungan. ,” ujar John Anis dalam presentasi CEO Climate Talks di hari pertama COP 29.
Baca juga: Peserta COP 29, Pertamina Tegaskan Komitmen Dukung Transisi Energi Nasional
Sejak tahun 2010, Pertamina telah berhasil menurunkan emisi sebesar 8,5 juta ton karbon dioksida (CO2) (Scope 1 dan 2) dan berencana untuk terus meningkatkan pencapaian tersebut melalui kolaborasi dan inovasi teknologi.
Berbagai upaya telah dilakukan, antara lain pengembangan biofuel, energi panas bumi, dan teknologi rendah karbon seperti penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS) dan penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon (CCUS). Pertamina memperluas portofolio energi terbarukan
John Anis juga menjelaskan, Pertamina terus memperluas portofolio energi terbarukan, antara lain pengembangan bioetanol, baterai kendaraan listrik, dan ekosistem pengisian daya sepeda motor listrik.
Baca juga: Persaingan Berat, ABC Lithium Optimis dengan Pasar Sepeda Motor Listrik
“Kita juga mempunyai potensi besar di sektor panas bumi, dengan output terpasang saat ini mencapai 672 megawatt (MW). “Anak perusahaan kami, PGE, terus berupaya meningkatkan kapasitas terpasang menjadi 1,4 GW pada tahun 2029. Kami yakin energi panas bumi akan menjadi pilar utama transisi energi,” ujarnya.
Di sektor hidrogen, Pertamina menerapkan inovasi teknologi untuk menekan biaya produksi, termasuk mengoptimalkan penggunaan listrik pada proses elektrolisis. Hal ini diharapkan dapat mengurangi biaya produksi hidrogen hijau hingga 30% pada tahun 2025.
“Kami berharap teknologi ini bisa diimplementasikan pada tahun depan, sehingga kita bisa memproduksi hidrogen hijau dengan harga yang lebih terjangkau”, jelas John Anis.
Baca juga: PLN Gandeng Sembcorp Garap Proyek Hidrogen Ramah Lingkungan Terbesar di Asia Tenggara
John Anis juga menekankan bahwa untuk mencapai tujuan transisi energi bersama, diperlukan dukungan akses pembiayaan yang inklusif dan kerja sama semua pihak.
“Untuk mencapai transisi energi ini, kita tidak bisa bekerja sendiri. Kerja sama adalah kuncinya dan kita memerlukan dukungan pemerintah, termasuk insentif untuk mendorong investasi pada energi terbarukan dan rendah karbon,” ujarnya.
Pertamina sebagai pemimpin di sektor transisi energi berkomitmen mendukung target NZE 2060 dan terus melaksanakan program-program yang mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Baca juga: Kurangi Pengangguran Lewat Lembaga Kemerdekaan, Dompet Dhuafa Raih Penghargaan Aksi SDG
Seluruh upaya tersebut selaras dengan penerapan prinsip-prinsip lingkungan hidup, sosial dan tata kelola (ESG) dalam seluruh operasional bisnis Pertamina. Dengarkan berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponsel Anda. Pilih saluran berita favorit Anda untuk mengakses saluran WhatsApp Kompas.com: https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan Anda telah menginstal aplikasi WhatsApp.
Artikel Percepat Transisi Energi Berkelanjutan, Pertamina Perkuat Bisnis Rendah Karbon pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Artikel Kado HUT Ke-67 untuk Masyarakat, Pertamina Perluas Program Desa Energi Berdikari pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Salah satu upaya besar yang dilakukan adalah pengembangan program Desa Mandiri Energi (DEB). Hingga Desember 2024, sudah terdapat 149 DEB yang aktif, dengan penambahan 64 desa baru pada tahun 2024 yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Vice President (VP) Corporate Communications Pertamina Fadjar Djoko Santoso menjelaskan program DEB bertujuan untuk memberikan akses energi bersih kepada masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya terbarukan, seperti tenaga surya, angin, mikrohidro, dan biogas.
Desa-desa peserta kini dapat memanfaatkan energi terbarukan untuk mendukung berbagai kegiatan produktif, seperti pengolahan hasil peternakan, produksi kerajinan lokal, dan pengembangan usaha kecil dan menengah (UMKM).
Baca Juga: Menteri Meutya Hafid Dorong UMKM di Yogyakarta Rangkul AI
“Program ini tidak hanya memberikan energi, tetapi mendukung kegiatan produktif untuk meningkatkan perekonomian masyarakat,” kata Fadjar dalam keterangannya yang dirilis Kompas.com, Rabu (12/11/2024).
Misalnya, lanjutnya, di sektor pertanian dan pengolahan pangan, serta energi bersih yang murah, desa dapat mengembangkan peralatan pabrik pengolahan dan sistem irigasi.
Salah satu contoh keberhasilan program DEB adalah di Desa Junti, Kabupaten Indramayu. Desa tersebut baru-baru ini memasang pembangkit listrik tenaga surya (PLS) berkapasitas 7,7 kilowatt peak (kWp) yang membantu menggerakkan pompa air pertanian.
Baca juga: BPBD Kabupaten Pasuruan Gunakan Pompa Air untuk Redakan Banjir
Kehadiran PLS menyediakan energi listrik bersih yang meningkatkan produktivitas pertanian, memungkinkan petani melakukan panen dua kali setahun dan menambah produk baru seperti hasil panen kedua. Hasilnya, pendapatan petani meningkat menjadi Rp3,84 miliar setiap tahunnya. Terima kasih kepada masyarakat dan pemerintah setempat
Saat itu, Rusyad Nurdin, Camat Juntinyuat, mengapresiasi program tersebut.
“Kami berkolaborasi dengan Pertamina Gas agar bisa menyambung hidup dari pangan dan meningkatkan hasil panen para petani. “Kami berharap program ini dapat terus berkelanjutan dan memberikan dampak yang lebih luas,” imbuhnya.
Selain DEB, Pertamina juga berkomitmen untuk mengkomunikasikan transisi energi dan penggunaan energi terbarukan melalui program Sekolah Mandiri Energi (SEB).
Baca juga: PLN akan menambah 100 gigawatt listrik dari energi terbarukan
Sasaran program ini adalah sekolah-sekolah Adiwiyata di sekitar wilayah operasional Pertamina, dengan menambah fasilitas energi terbarukan, memberikan pendidikan kurikulum khusus, dan pelatihan praktik untuk meningkatkan kesadaran energi bersih di kalangan siswa dan guru.
Saat ini terdapat 11 SEB yang aktif dan akan segera ditambah 12 SEB lainnya.
Selaku pimpinan salah satu sekolah program SEB, Kepala SMA Negeri 8 Denpasar I Wayan Subuat menyampaikan terima kasih atas kehadiran Pertamina di sekolah tersebut untuk memberikan edukasi kepada siswa dan guru tentang transformasi energi dan energi. penggunaan pembersihan. kekuatan.
Artikel Kado HUT Ke-67 untuk Masyarakat, Pertamina Perluas Program Desa Energi Berdikari pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Artikel Pertamina Jadikan Biofuel sebagai Salah Satu Kunci Akselerasi Transisi Energi pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Eddy Soeparno mengatakan Indonesia memiliki banyak sekali potensi dan sumber biofuel. Program B35 yang diterapkan Pertamina merupakan bukti nyata upaya penurunan emisi.
“Indonesia juga punya banyak sumber biofuel. Sekarang kita pakai B35, biodiesel 35, dari CPO. Kita punya sumber dari tebu, singkong, yang bisa dijadikan bahan bakar nabati,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (14/11). . /19). 2024).
Sementara itu, Pertamina sendiri kini telah memiliki Sustainability Aviation Fuel (SAF), termasuk dari minyak jelantah.
Baca juga: Percepat Transisi Energi, Pertamina Fokus Tingkatkan Kapasitas Pembangkit Panas Bumi
Terbaru, Indonesia mampu memadukan 5% bahan bakar penerbangan berkelanjutan, dan hal ini telah berhasil diuji pada penerbangan sekitar dua tahun lalu dan akan terus ditingkatkan.
Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) John Anis menjelaskan PNRE merupakan pionir bisnis rendah karbon di grup Pertamina yang tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi energi baru dan terbarukan. (EBT), tetapi juga Pengembangan biofuel.
“Karena kita masih membutuhkan bahan bakar fosil, tapi lebih bersih, dan pada saat yang sama kita perlu beralih ke bisnis rendah karbon. Jadi kita maksimalkan bisnis tradisional sambil mengembangkan bisnis rendah karbon.”
PNRE, lanjut John, memiliki peta jalan pengembangan bioetanol pada tahun 2031 untuk mendukung dekarbonisasi di sektor transportasi.
“Pada tahun 2034, diperkirakan kebutuhan biofuel dapat mencapai 51 juta liter,” ujarnya.
Baca juga: Pertamina Patra Niaga Jamin Tindakan Tegas di SPBU Nakal Yogyakarta
Pertamina NRE saat ini bekerja sama dengan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) membangun pabrik bioetanol di Banyuwangi dengan kapasitas produksi 30 ribu kiloliter (KL) per tahun.
“Untuk bioetanol, kami berambisi untuk meningkatkan kapasitas produksi, salah satunya dengan mengaktifkan kembali pabrik di Banyuwangi, Glenmore, dengan menggunakan molasses sebagai bahan baku bioetanol tanpa mengganggu produksi gula,” kata John.
John menambahkan, dalam bisnis karbon, PNRE telah menjadi pemain utama perdagangan kredit karbon di Indonesia dengan menguasai 93% pangsa pasar.
“Kredit karbon Pertamina NRE tidak hanya berasal dari pembangkit listrik rendah karbon, tetapi juga dari solusi berbasis alam (NBS),” imbuhnya.
Baca Juga: Idul Fitri 2025, Resta Pendopo Km 456A Ada SPBU Pertamina
Sejak merintis perdagangan karbon dalam pertukaran karbon tahun lalu, kini telah terjual 864 ribu ton kredit karbon CO2. Atas inisiatif Bank Nasional Rumania, Pertamina menggandeng mitra strategis.
“Dalam rangka mempercepat transisi energi dan mencapai target 75 GW listrik berbasis EBT dalam 15 tahun ke depan, perlu dilakukan kerja sama untuk menjadikan investasi dan pengembangan EBT lebih agresif di Indonesia dan lebih mudah diakses dengan harga yang terjangkau bagi masyarakat. publik. jelas Yohanes. Dengarkan berita terkini dan pilihan berita kami langsung di ponsel Anda. Pilih saluran berita favorit Anda untuk mengakses Saluran WhatsApp Kompas.com: https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan mereka telah menginstal aplikasi WhatsApp.
Artikel Pertamina Jadikan Biofuel sebagai Salah Satu Kunci Akselerasi Transisi Energi pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Artikel Pertamina Tegaskan Komitmen Transisi Energi Berkelanjutan Lewat Inisiatif Zero Routine Flaring pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Pertamina menjadi satu-satunya perusahaan Indonesia yang bergabung dalam proyek yang merupakan bagian dari upaya perusahaan mendukung transisi energi.
Melalui komitmen tersebut, Pertamina bertekad mencapai net zero emisi (NZE) pada tahun 2060 atau lebih awal.
Misi ZRF menyerukan kepada pemerintah dan perusahaan minyak dan gas di seluruh dunia untuk mengakhiri pembakaran lahan pada tahun 2030. Hal ini akan dicapai melalui perubahan peraturan, pengembangan teknologi dan kerja sama ekonomi.
Baca juga: Teknologi PEF, Inovasi Sterilisasi Makanan Dinilai Ramah Lingkungan
Direktur Utama (CEO) PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Julfi Hadi menegaskan, sebagai perusahaan energi nasional, Pertamina berkomitmen memenuhi kebutuhan energi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Menurutnya, pengurangan pembakaran gas alam secara rutin merupakan bagian penting dalam pengurangan emisi dan mencapai tujuan pengurangan karbon global.
“Pertamina sangat bangga dapat mendukung Inisiatif ZRF yang dicanangkan Bank Dunia. Ini merupakan langkah nyata penurunan emisi dan mendukung upaya global memerangi perubahan iklim,” kata Julfi dalam surat kabar yang diterima Kompas.com, Selasa. . (12.11.2024).
Komitmen Pertamina juga sejalan dengan Nationally Defeded Contributions (NDCs) Indonesia yang mendukung Perjanjian Paris pada COP 21 untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK).
Baca juga: Eropa mengalami penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 8,3% pada tahun 2023 Kredit dari Bank Dunia
Sementara itu, Direktur Utama Bank Dunia Demetrios Papathanasiou memuji Pertamina dan menyebut perusahaannya sebagai mitra penting di Asia Tenggara.
“Pertamina adalah salah satu perusahaan minyak dan gas terbesar di Asia Tenggara, yang memproduksi lebih dari satu juta barel per hari dan merupakan kontributor utama perekonomian Indonesia. Komitmen Pertamina untuk memproduksi minyak dan gas tanpa membakar gas adalah hal yang luar biasa,” ujarnya.
Demetrios menambahkan, dalam beberapa tahun terakhir, Pertamina telah menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam mengurangi pembakaran gas.
Baca Juga: Bangun Lhokseumawe Small Dubai, Azhari andalkan dana Andaman Sea Gas
“Kami sangat senang bisa bekerja sama dengan Pertamina untuk mengurangi kebakaran di seluruh dunia dan kami yakin kemitraan ini akan membantu kami mencapai tujuan nol emisi dalam beberapa tahun ke depan,” ujarnya. Pertamina siap menjadi pionir transisi energi berkelanjutan
Dengan dukungan berbagai pihak, Pertamina menyatakan siap menjadi pionir transisi energi di Indonesia dan Asia Tenggara.
Sebagai perusahaan yang mendukung tujuan NZE 2060, Pertamina terus menggalakkan program-program yang membantu pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Baca Juga: Kurangi Pengangguran Lewat Lembaga Kemerdekaan, Dompet Dhuafa Raih SDG Action Award
Seluruh proses tersebut juga berkontribusi terhadap penerapan prinsip-prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) di seluruh bisnis dan operasi Pertamina. Dengarkan berita dan cerita terpenting yang kami pilih langsung di ponsel Anda. Pilih saluran pilihan Anda untuk bergabung dengan saluran WhatsApp Kompas.com: https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan Anda telah menginstal aplikasi WhatsApp.
Artikel Pertamina Tegaskan Komitmen Transisi Energi Berkelanjutan Lewat Inisiatif Zero Routine Flaring pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>