Live score

sekolah ternak

puskesmas sumberrejo

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

benihtoto

advanced building ltd

7 brenovation

whatsapp marketing yusoftware

Kakinada Institute of Engineering and Technology

Projects | LJR28 Realty

Featured Trips & Itineraries - Gulliver Trips

Import & Export of premium Beverages

limonuk

Alert Care Ltd

Professional Service for Your Assets

Best Drop and Scratch Protection

The Best Valentine’s Gifts 2026

Комплексные поставки промышленного сырья

Барс - Каталог прицепов

ZBM Collections

IT SOLUTIONS & SERVICES

TEKNAS

ormastoto

GLOBAL NEWS Apa yang Terjadi jika Anak Kekurangan Protein? - SP NEWS GLOBAL INDONESIA

SP NEWS GLOBAL INDONESIA

Berita Seputar Global Indonesia

Kesehatan

GLOBAL NEWS Apa yang Terjadi jika Anak Kekurangan Protein?

KOMPAS.com – Protein berperan penting dalam pembentukan jaringan, sel, otot, dan sistem kekebalan tubuh. Inilah sebabnya mengapa anak perlu mengonsumsi lebih banyak protein untuk membantu tumbuh kembangnya.

Read More : Siapa Saja yang Tidak Boleh Minum Rebusan Daun Salam? Ini 6 Daftarnya…

Protein dapat ditemukan pada berbagai jenis makanan, seperti ikan salmon, susu, keju, yogurt, daging, telur, dan kacang-kacangan.

Baca Juga: Olahan Ayam Dahlia Posyandu untuk Tingkatkan Asupan Protein Anak Lantas, bagaimana jika anak kekurangan protein?

Dr., ahli gizi medis dari Universitas Indonesia. Luciana B. Sutanto, MS, SPGK(K) mengatakan kekurangan protein dapat menghambat tumbuh kembang anak.

Kekurangan protein mengakibatkan gangguan kesehatan, terhambatnya tumbuh kembang, bahkan depresi, kata Luciana, dilansir Antara.

Selain menghambat pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak, kekurangan protein juga dapat menghambat daya tahan tubuh anak sehingga membuat anak lebih rentan terserang penyakit, ujarnya.

Oleh karena itu, anak sebaiknya mendapatkan protein dari sumber protein hewani dan nabati sesuai kebutuhannya.

“Untuk anak-anak, anjuran asupan protein nabati adalah 10 persen protein on the plate untuk anak kecil atau 35 persen asupan protein hewani dan nabati untuk anak kecil,” kata Luciana.

Ia juga menekankan pentingnya mengonsumsi sumber protein hewani dan nabati yang seimbang.

Read More : Sakit Tenggorakan Lama Sembuh, Bisa Jadi Tanda Peringatan Kanker

Baca juga: Bisakah Gagap Dicegah dengan Makan Ikan? Berikut penjelasan dokter…

Louisiana mengatakan, program makan siang gratis yang dicanangkan pemerintah untuk anak sekolah seharusnya dalam pelaksanaannya fokus pada pemenuhan kebutuhan gizi anak, termasuk kebutuhan protein.

Program makan siang gratis yang dicanangkan pemerintah diharapkan dapat menjadi bagian dari solusi mengatasi permasalahan konsumsi protein penduduk Indonesia yang masih rendah dibandingkan negara-negara Asia lainnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada Maret 2023, rata-rata konsumsi protein hewani dan nabati masyarakat Indonesia masih sebesar 62,3 gram per hari.

Sebagai perbandingan, asupan protein harian masyarakat Kamboja 63,3 gram, Thailand 66,5 gram, Filipina 73,1 gram, Myanmar 78,3 gram, Malaysia 89,1 gram, Vietnam 94,4 gram. Dengarkan berita terbaik dan pilihan berita kami langsung ke ponsel Anda. Pilih saluran berita favorit Anda untuk bergabung dengan saluran WhatsApp Kompas.com: https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan Anda telah menginstal aplikasi WhatsApp.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *