SP NEWS GLOBAL INDONESIA

Berita Seputar Global Indonesia

Kesehatan

Beda Gejala Hipertiroid dan Hipotiroid

sp-globalindo.co.id – Penyakit tiroid adalah istilah umum untuk suatu kondisi medis di mana kelenjar tiroid menghasilkan hormon dalam jumlah yang tidak merata. Kondisi ini dapat menyerang orang-orang dari segala usia.

Tiroid adalah kelenjar kupu-kupu kecil di bagian depan leher manusia. Organ ini merupakan bagian dari sistem endokrin dan mengontrol fungsi penting tubuh dengan memproduksi hormon tiroksin seperti tiroksin (T4) dan triiodothyronine (T3).

Penyakit tiroid ada dua jenis, yaitu hipotiroidisme (tiroid kurang aktif) dan hipertiroidisme (tiroid terlalu aktif). Gejala kedua jenis penyakit tiroid ini bertolak belakang, karena hipertiroidisme mempercepat metabolisme, sedangkan hipotiroidisme memperlambatnya.

Gejala hipotiroidisme meliputi; detak jantung lebih lambat dari normal, mudah lelah, berat badan bertambah, rasa lelah, kulit kering, mood buruk dan menstruasi berat.

Sedangkan hipertiroidisme memiliki gejala; Jantung berdebar cepat, sulit tidur, berat badan bertambah, terasa panas, kulit memerah, mudah tersinggung, gelisah, atau gangguan siklus menstruasi.

Kedua jenis penyakit tiroid ini dapat menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid, namun hipertiroidisme adalah yang paling umum.

Baca juga: Indra Bruggman: Gemetar, Takut Bicara dengannya, Ungkap Bagaimana Keadaannya Sebelum Tahu Dia Menderita Hipertiroidisme.

Untuk menentukan pengobatan yang tepat, diperlukan diagnosis yang benar. Pemeriksaan yang dilakukan dokter meliputi pemeriksaan apakah kelenjar tiroid membesar, pemeriksaan fisik, pemeriksaan darah, dan pemeriksaan pencitraan bila diperlukan.

“Sangat penting untuk dipahami bahwa kelainan tiroid seringkali tidak menunjukkan gejala yang spesifik, sehingga pemeriksaan dan deteksi dini sangat penting. Melalui pengobatan yang tepat, pasien dapat terhindar dari komplikasi yang serius,” kata dr. Rochsismando, Sp.PD, RS Bethsaida, Gading. Serpong,Tangerang.

Pengobatan utama hipotiroidisme adalah obat pengganti hormon tiroid.

Ada beberapa pilihan pengobatan untuk hipertiroidisme, termasuk obat untuk memblokir produksi hormon, terapi radiasi, dan pembedahan.

Menurut Dr. Rochsismando, bagi orang yang takut akan pembedahan, pengobatan ablasi frekuensi radio kini menjadi pilihan untuk memperkecil ukuran dan menghilangkan massa tiroid.

Baca juga: Bayi baru lahir perlu pemeriksaan untuk mencegah keterbelakangan mental

Ablasi frekuensi radio (RFA) memerlukan anestesi lokal, kemudian dokter memasukkan elektroda ke leher menggunakan USG hingga mencapai tumor di kelenjar tiroid. Generator listrik kemudian akan diubah untuk menyalurkan energi panas ke struktur tumor.

Secara umum, prosedur RFA hanya memakan waktu 30 menit hingga 1 jam dengan keuntungan utama adalah tidak keluarnya cairan dari sayatan bedah. Biayanya relatif lebih murah dibandingkan dengan tangan.

Penyakit tiroid dapat mempengaruhi kesehatan dan fungsi banyak organ dalam tubuh. Jika pasien telah mengikuti rencana pengobatan lengkap untuk mengendalikan penyakitnya, penyakit umum biasanya tidak berbahaya.

Namun kelainan tiroid yang tidak diobati dapat menimbulkan sejumlah komplikasi, antara lain stroke, gangguan irama jantung, gangguan mood, gangguan kesuburan, dan osteoporosis. Dengarkan berita terkini dan bacaan kami langsung di ponsel Anda. Pilih saluran berita favorit Anda untuk mengakses saluran whatsapp sp-globalindo.co.id: https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D Pastikan aplikasi WhatsApp sudah terinstal.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *