Live score

sekolah ternak

puskesmas sumberrejo

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

benihtoto

advanced building ltd

7 brenovation

whatsapp marketing yusoftware

Projects | LJR28 Realty

Featured Trips & Itineraries - Gulliver Trips

Import & Export of premium Beverages

limonuk

Alert Care Ltd

Professional Service for Your Assets

Best Drop and Scratch Protection

The Best Valentine’s Gifts 2026

Комплексные поставки промышленного сырья

Барс - Каталог прицепов

ZBM Collections

IT SOLUTIONS & SERVICES

TEKNAS

ormastoto

venus beauty spa

near to me

Korupsi dan Arah Menuju Despotisme - SP NEWS GLOBAL INDONESIA

SP NEWS GLOBAL INDONESIA

Berita Seputar Global Indonesia

Nasional

Korupsi dan Arah Menuju Despotisme

Korupsi masih menjadi topik kemarahan masyarakat. Frustasi tumbuh seiring lemahnya pemberantasan korupsi ketika kasus besar seperti kasus Harvey Moise – yang merugikan negara hingga Rp 300 triliun – dianggap tidak mencerminkan keadilan. Hukumannya hanya enam tahun.

Read More : Cek Lokasi Bencana di Sukabumi, Pimpinan DPR Minta Ada Penataan di Desa Mekarsari

Fenomena ini menyoroti sebuah paradoks yang meresahkan: para koruptor besar tampaknya tidak tersentuh, seperti setan yang sulit ditangkap, sementara para koruptor kecil mempunyai ilusi keberhasilan dalam memberantas korupsi. Mereka menjadi kambing hitam yang harus dijaga.

Fenomena ini mengungkapkan dua pola besar dan menonjol. Pertama, pejabat yang memiliki indikasi kuat terlibat korupsi sering kali berhasil bersembunyi di bawah naungan pemerintah dan menikmati hukuman karena kedekatannya dengan lingkaran kekuasaan.

Kedua, oposisi politik seringkali menjadi sasaran kriminalisasi, dimana tuduhan korupsi digunakan sebagai alat untuk membungkam kritik.

Dalam konteks ini, korupsi telah melampaui sekedar penyakit administratif dan telah menjadi alat strategis bagi elit untuk mempertahankan hegemoni kekuasaannya. Hal ini bukan hanya persoalan moral, namun merupakan ancaman serius terhadap landasan demokrasi.

Korupsi tidak berhenti pada dampak materiil saja, melainkan meluas hingga pembengkokan konstitusi, undang-undang, dan undang-undang.

Niccolò Machiavelli dengan tepat menunjukkan dalam wacananya bahwa keberhasilan penerapan konstitusi sangat bergantung pada tingkat korupsi di negara tersebut.

Semakin besar korupsinya, semakin lemah supremasi hukumnya. Persepsi ini sesuai dengan kenyataan di Indonesia, dimana korupsi materiil dan korupsi konstitusional saling mendukung.

Contoh terkini adalah UU Pajak. 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, yang jelas memberikan keuntungan bagi Gibran Recbombing Raqqa.

Read More : SP NEWS GLOBAL Dito Ariotedjo: Kita Sudah Jamin Keamanan Timnas Bahrain di Indonesia

Masyarakat menilai hal ini tidak hanya merupakan pelanggaran etika politik, namun juga merupakan bukti bahwa undang-undang dapat disesuaikan dengan kebutuhan penguasa.

Jika konstitusi terus mudah diubah, kepercayaan masyarakat terhadap lembaga negara akan terkikis.

Membengkokkan hukum bukan hanya soal ketaatan, tapi menggerogoti integritas yang mendasari legitimasi negara.

Dalam jangka panjang, hal ini dapat memicu ketidakstabilan sistem, dimana masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap hukum dan membiarkan pelanggaran terjadi, sehingga menciptakan lingkaran setan korupsi yang sulit dihentikan.

Apalagi, korupsi yang menggerogoti konstitusi mencerminkan adanya perubahan nilai di kalangan elite politik. Hukum bukan lagi alat keadilan, tapi alat tawar menawar kekuasaan.

Prinsip supremasi hukum digantikan oleh supremasi kekerasan, dimana keputusan diambil untuk kepentingan politik jangka pendek.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *