Artikel Waspada Batuk Rejan pada Anak, Jika Tidak Ditangani Bisa Sebabkan Kematian pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>“Anak-anak juga bisa terkena pertusis, dan orang tua harus mewaspadai batuk ini. Karena pertusis bisa menyebabkan kematian pada anak,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang, dr. Dini Anggraeni, Tangerang, Jumat (1/3/2024), seperti ditulis Antara.
Baca selengkapnya: Dokter menjelaskan gejala umum pilek yang awalnya tampak seperti pilek
Ia mengatakan, pertusis atau batuk rejan merupakan penyakit infeksi paru-paru yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis.
Penyakit ini ditandai dengan ciri khas batuk dan napas panjang dan tinggi.
Gejalanya antara lain pilek, pilek, bersin, mata merah, dan demam. Definisi operasional dugaan pertusis biasanya adalah orang yang mengalami batuk terus-menerus yang berlangsung minimal 2 minggu, batuk dada disertai napas berat, atau muntah-muntah setelah batuk, atau muntah-muntah tanpa alasan yang wajar.
Baca juga: Apa Itu Batuk Rejan? Berikut penjelasannya…
Ia mengatakan, jika payudara tidak ditangani bisa menimbulkan masalah, terutama pada anak kecil dan usia di bawah dua tahun.
Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi antara lain dehidrasi, sesak napas, penurunan berat badan, pneumonia (infeksi paru-paru), kejang, gangguan ginjal, dan kekurangan oksigen ke otak.
Untuk pencegahan, banyak hal yang bisa dilakukan dengan menerapkan protokol hidup bersih dan sehat (PHBS) dan kesehatan yang baik, serta menyelenggarakan vaksinasi lengkap DPT-HB-Hib pada bayi dan anak kurang dari dua tahun.
“Jika ada anak atau warga yang mengalami gejala batuk khas pertusis, harap lapor ke puskesmas terdekat agar mendapat perawatan dan pengobatan intensif,” ujarnya sambil mendengarkan berita terkini dan telepon genggam pilihan kita. Saluran favorit Kompas untuk mendapatkan berita Anda: https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D Pastikan Anda telah menginstal WhatsApp.
Artikel Waspada Batuk Rejan pada Anak, Jika Tidak Ditangani Bisa Sebabkan Kematian pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Artikel Batuk Rejan Itu Seperti Apa? Berikut Penjelasannya… pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Batuk rejan yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis dapat menyebabkan sesak napas parah setelah batuk, terutama pada anak-anak.
Kasus baru-baru ini yang menunjukkan gejala misterius mirip batuk rejan telah dilaporkan di Singapura, sehingga mendorong para profesional kesehatan untuk waspada.
Baca juga: Apakah Anak Pilek dan Flu Perlu Antibiotik? Kata dokter… Jadi apa itu batuk?
Batuk rejan merupakan infeksi bakteri pada saluran pernapasan yang ditandai dengan batuk terus-menerus hingga membuat sulit bernapas.
Batuk adalah istilah yang dihasilkan oleh batuk yang keras atau pernafasan yang keras. Infeksi ini bisa berlangsung berminggu-minggu hingga berbulan-bulan jika tidak segera diobati.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, batuk rejan dapat menyerang bayi di bawah satu tahun dan menyebabkan pneumonia, kerusakan otak, dan bahkan kematian.
Batuk biasanya berkembang dalam tiga tahap sehingga menimbulkan berbagai gejala dan keluhan, seperti: Tahap pertama
Pada tahap ini, gejala batuk adalah pilek, pilek, demam ringan, dan batuk ringan.
Tahap ini berlangsung 1-2 minggu dan biasanya tidak separah pertusis. Fase batuk paroksismal
Ini adalah kondisi batuk parah yang sering terdengar seperti “rejan” atau mengi.
Pada tahap batuk paroksismal, muntah biasanya diawali dengan batuk. Tahap ini berlangsung 2-6 minggu atau lebih.
Baca juga: Apa Gejala Batuk di Malam Hari? Inilah 5… Fase Pemulihan
Batuk biasanya mereda pada tahap ini, namun bisa kambuh kembali jika terkena bahan iritan seperti udara dingin atau debu.
Gejala biasanya lebih parah pada bayi, karena tidak mengeluarkan suara dan berhenti bernapas dalam waktu lama (apnea).
Penyebab batuk dan cara penularannya
Penyebab utama batuk rejan adalah bakteri Bordetella pertussis.
Bakteri ini merusak saluran pernapasan bagian bawah, menyebabkan peradangan dan menghasilkan racun yang mengganggu pembersihan lendir. Akibatnya, orang yang sakit mengalami batuk parah yang berlangsung lama.
Artikel Batuk Rejan Itu Seperti Apa? Berikut Penjelasannya… pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Artikel Dokter Jelaskan Gejala Khas Batuk Rejan yang Awalnya Mirip Flu Biasa pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Batuk rejan seringkali diawali dengan gejala yang mirip dengan flu biasa, seperti pilek, demam ringan, dan bersin.
Namun seiring berjalannya waktu, batuk ini menimbulkan gejala yang khas, lebih parah, dan bertahan lama.
Baca juga: Apa Itu Batuk Rejan? Berikut penjelasannya…
Pakar penyakit dalam dari Universitas Indonesia prof. Dr dr Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH menjelaskan, batuk rejan memiliki dua fase utama yaitu catarrhal dan paroxysmal yang masing-masing memiliki ciri berbeda.
“Pada tahap awal atau fase catarrhal, gejalanya biasanya berlangsung 1-2 minggu, antara lain demam ringan, pilek, hidung tersumbat, mata berair, dan batuk ringan, terutama pada malam hari,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com. , Senin (23/12/2024).
Namun jika pengobatan tidak segera dimulai, batuk rejan akan memasuki stadium lanjut atau fase paroksismal yang berlangsung selama 1-6 minggu.
Prof. Ari mengatakan, pada fase ini gejalanya bisa bertambah parah dengan ciri khas berupa batuk kuat terus menerus disertai suara “rejan” saat menarik napas dalam.
Gejala lainnya antara lain nyeri dada saat batuk, kelelahan, muntah setelah batuk, dan kesulitan bernapas. Pada kasus yang parah, wajah korban bisa tampak kemerahan atau kebiruan saat batuk,” tambah dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.
Dengan memahami tahapan dan tanda-tanda khas batuk rejan, diharapkan masyarakat dapat segera mencari pertolongan medis untuk mencegah komplikasi serius.
Baca juga: Apa Gejala Batuk Malam Hari? Berikut daftar 5… Bagaimana cara mencegah batuk rejan?
Prof. Ari mengingatkan masyarakat untuk selalu mengonsumsi buah dan sayur untuk memperkuat pertahanan imun tubuh agar tidak mudah terserang penyakit, termasuk batuk rejan.
Lebih lanjut, Prof. Ari menganjurkan untuk mengonsumsi vitamin yang mengandung multivitamin dan mineral.
Bagi yang ingin berlibur, Prof. Ari menyarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter dan menyiapkan pakaian hangat, seperti jaket untuk bepergian ke tempat dingin. Dengarkan berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponsel Anda. Pilih saluran berita favorit Anda untuk mengakses saluran WhatsApp Kompas.com: https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan Anda telah menginstal aplikasi WhatsApp.
Artikel Dokter Jelaskan Gejala Khas Batuk Rejan yang Awalnya Mirip Flu Biasa pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Artikel Apakah Bunga Telang Bisa Mengobati Batuk? Ini Penjelasannya… pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Karena sifat antiseptik dan anti inflamasinya, bunga ini telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional untuk membersihkan lendir, mengurangi iritasi saluran pernafasan, dan meredakan gejala batuk akibat flu, alergi, atau bronkitis
Lalu bagaimana bunga telang membantu batuk? Berikut ulasannya.
Baca Juga: Apakah Bunga Butterfly Pea Baik untuk Mata? Begini Penjelasan Dokter… Apakah Bunga Kacang Kupu-Kupu Bisa Mengobati Batuk?
Seperti dilansir Drax, bunga tilangi mengandung senyawa aktif seperti asam p-coumarin dan delphinidin glukosida yang memiliki sifat antiseptik dan anti inflamasi.
Zat ini membantu melawan infeksi akibat batuk sekaligus mengurangi peradangan pada saluran pernapasan.
Selain itu, bunga telang juga memiliki efek detoksifikasi, yaitu membantu hati membersihkan diri dari racun.
Ekstrak bunga telang telah terbukti dalam banyak penelitian dapat membersihkan lendir dari paru-paru dan saluran udara, sehingga efektif untuk batuk, bronkitis, dan bahkan penyakit seperti asma dan alergi.
Bunga telang juga dapat meredakan batuk yang disebabkan oleh bahan kimia iritan seperti sulfur dioksida dan asam sitrat.
Studi juga menunjukkan bahwa bunga telang dapat meningkatkan kesehatan sistem kekebalan tubuh dan melindungi terhadap iritasi pencernaan.
Keterkaitan antara pencernaan yang sehat dan sistem kekebalan tubuh yang kuat juga berkontribusi terhadap kemampuan tubuh dalam melawan infeksi yang kerap menyebabkan batuk.
Baca Juga: Siapa yang Tidak Boleh Minum Teh Bunga Kupu-Kupu? Berikut 8… Cara memanfaatkan bunga telang untuk meredakan batuk.
Bunga kacang kupu-kupu biasa digunakan sebagai teh dan mudah dibuat.
Anda bisa merebus bunga telang kering dalam air panas selama 5-10 menit hingga warnanya hilang.
Anda bisa menambahkan sesendok madu atau jus lemon untuk menambah manfaat dan rasanya.
Teh atau rebusan bunga telang dapat diminum 1-2 kali sehari untuk meredakan gejala batuk.
Namun jika batuk berlangsung lama atau disertai gejala serius seperti kesulitan bernapas, penting untuk segera berkonsultasi ke dokter.
Selain meredakan batuk, berikut daftar manfaat bunga telang yang sayang untuk dilewatkan: Meningkatkan daya ingat. Kandungan antioksidan membantu melindungi sel-sel otak dari kerusakan, sehingga baik untuk menjaga kesehatan kulit. Senyawa flavonoid pada bunga telangi membantu mencegah penuaan dini dan melindungi kulit dari stres oksidatif. Meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Kandungan nutrisinya membantu tubuh melawan infeksi dan meningkatkan stamina. Bunga telang memiliki efek detoksifikasi, membantu mengendalikan sembelit dan menjaga kesehatan usus. Mengurangi stres dan menenangkan pikiran. Teh kacang kupu-kupu sering digunakan sebagai minuman relaksasi karena efeknya yang menenangkan.
Meskipun bunga telang memiliki berbagai manfaat kesehatan melalui penelitian dan tradisi medis, penggunaan bunga telang sebagai obat harus dilakukan dengan hati-hati.
Sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau ahli kesehatan sebelum menggunakan bunga telang, terutama jika Anda memiliki kondisi medis tertentu atau sedang mengonsumsi obat lain. Untuk mengakses saluran WhatsApp: https: //www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D Pastikan Anda instal WhatsApp.
Artikel Apakah Bunga Telang Bisa Mengobati Batuk? Ini Penjelasannya… pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Artikel Dokter: Jangan Remehkan Penyakit Musiman Seperti Batuk Pilek pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Meski sangat sederhana, gejala penyakit musiman ini tidak boleh dianggap remeh.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Occupational and Environmental Medicine menunjukkan bahwa flu dapat menurunkan produktivitas karyawan hingga 67 persen-74 persen.
Baca juga: Obat Apa yang Harus Diberikan pada Anak Flu Singapura? Demikian kata dokter
Sementara itu, studi penelitian medis terbaru menemukan bahwa batuk dan pilek menyebabkan penurunan produktivitas sebesar 26,4 persen.
Perubahan suhu yang ekstrim antara hujan dan panas dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, sehingga membuat orang lebih rentan terhadap penyakit virus dan bakteri. persiapkan liburan,” kata Direktur Medis Halodoc Dr. Monica Cynthia Dewi, dalam rilis yang diperoleh KOMPAS.com.
Baca juga: Apa yang Harus Dilakukan Jika Anak Anda Terkena Flu Singapura?
Monica menyarankan masyarakat untuk segera mencari pertolongan medis jika:
– Gejala tidak membaik dalam 2-3 hari meskipun sudah minum obat biasa – Demam tinggi lebih dari 2 hari – Kesulitan bernapas atau nyeri dada mirip bekerja atau merencanakan liburan.
Selain itu, Monica juga memberikan tips lain yang dapat digunakan para karyawan agar tetap sehat meski harus menyelesaikan pekerjaan, sembari mempersiapkan liburan hingga akhir tahun: 1. Jaga daya tahan tubuh Makan makanan yang bergizi, istirahat yang cukup , dan minum suplemen vitamin 2. Manfaatkan layanan kesehatan digital untuk mendapatkan pengobatan lebih cepat dari dokter spesialis3. Lakukan tindakan pencegahan seperti suntikan vitamin C atau suntikan cairan. Dengarkan berita terkini dan pilihan berita kami langsung di ponsel Anda. Pilih saluran media favorit Anda untuk mengakses Saluran WhatsApp Kompas.com: https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan Anda telah menginstal aplikasi WhatsApp.
Artikel Dokter: Jangan Remehkan Penyakit Musiman Seperti Batuk Pilek pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Artikel Batuk Tidak Berhenti, Apa Penyebabnya? pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Diberitakan Health.com, batuk justru melegakan saluran pernapasan. Beberapa penyebab umum batuk yang tidak terkendali adalah flu biasa, rinitis alergi, asma, dan Covid-19.
Baca juga: Apa Gejala Batuk di Malam Hari? Di bawah ini adalah 5 daftar…
Batuk yang tidak kunjung berhenti bisa jadi disebabkan oleh seseorang mengalami batuk parah atau batuk kronis. apa bedanya Penyebab batuk akut
Batuk akut muncul secara tiba-tiba dan biasanya hilang setelah 3 minggu. Seseorang mungkin mengalami batuk parah akibat infeksi, seperti pilek, Covid-19, flu, atau sinusitis. Rinitis alergi
Rinitis alergi atau alergi musiman merupakan reaksi terhadap alergen. Alergen yang umum termasuk debu, bulu hewan peliharaan, dan serbuk sari.
Sistem kekebalan bereaksi berlebihan terhadap zat tidak berbahaya ini dan melepaskan bahan kimia yang disebut histamin.
Reaksi ini menimbulkan gejala seperti batuk dan bersin. Orang dengan rinitis alergi mungkin mengalami hidung berair atau tersumbat, sakit tenggorokan, dan mata berair.
Baca Juga: Minum air jahe bisa meredakan batuk? Berikut penjelasannya… Covid-19
Covid-19 merupakan penyakit pernafasan yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2. Gejala umumnya meliputi batuk, demam, sakit tenggorokan, dan sesak napas. Beberapa orang mengidap Covid-19 tanpa gejala. Satu-satunya cara untuk memastikan COVID-19 adalah dengan melakukan tes. FLU
Influenza atau influenza merupakan penyakit pernafasan yang disebabkan oleh virus influenza. Gejalanya meliputi batuk, nyeri badan, demam, dan hidung berair atau tersumbat. Anak-anak lebih mungkin mengalami diare dan muntah dibandingkan orang dewasa. radang paru-paru
Batuk terkadang bisa menjadi pertanda penyakit yang lebih serius. Pneumonia dapat terjadi ketika infeksi bakteri, virus, atau jamur menyebar ke paru-paru. Infeksi ini menyebabkan kantung udara terisi nanah sehingga membuat sulit bernapas. Batuk mungkin mengeluarkan lendir berwarna hijau atau kuning, atau mengandung darah.
Baca juga: Mengapa Tenggorokan Sakit Saat Batuk? Berikut penjelasannya… infeksi saluran pernapasan atas (ISPA)
Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) menyerang saluran pernafasan bagian atas. Beberapa penyakit ISPA yang paling umum adalah flu biasa dan sinusitis. Salah satu dari sekian banyak virus dapat menyebabkan flu yang menular.
Penderitanya mungkin mengalami batuk ringan terus-menerus disertai pilek. Batuk
Seseorang bisa terkena batuk rejan (whooping batuk), meskipun ia kebal. Efektivitas vaksin menurun seiring berjalannya waktu. Maag merupakan penyakit pernafasan yang sangat menular yang disebabkan oleh bakteri. Dua minggu setelah timbulnya batuk, batuk itu menular.
Antibiotik memperpendek durasi infeksi dan mencegah penyebaran bakteri ke orang lain. Infeksi dapat menyebabkan penyakit parah dan mungkin berakibat fatal, terutama pada bayi dan anak kecil. Penyebab batuk kronis
Batuk kronis berlangsung lebih dari 8 minggu. Penderita batuk kronis mungkin mengalami batuk yang tidak terkendali akibat penyakit kronis, seperti penyakit asam lambung, asma, dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).
Artikel Batuk Tidak Berhenti, Apa Penyebabnya? pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>