Artikel Menguak Mitos Seputar Menopause yang Perlu Wanita Tahu pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Bagi sebagian wanita, menopause dapat dilihat sebagai fase kehidupan yang memicu kecemasan.
Hal ini tidak lepas dari beberapa mitos yang berkembang di masyarakat, seperti adanya gejala ekstrim yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Artikel kali ini akan mengulas tentang mitos-mitos seputar menopause dan hal-hal yang perlu diketahui wanita.
Baca Juga: Manfaat Vitamin D untuk Wanita Menopause 5 Mitos Menopause
Laporan Yankes Kementerian Kesehatan, berikut beberapa mitos dan fakta seputar menstruasi yang perlu diketahui wanita: Menopause menyebabkan gejala yang parah
Tidak semua wanita mengalami gejala menopause seperti hot flashes, insomnia, infeksi saluran kemih, dan keringat malam.
Tingkat keparahan gejala dapat bervariasi tergantung pada genetika, kesehatan, dan gaya hidup. Menopause membuat wanita tidak bisa berhubungan seks
Perubahan hormonal ternyata bisa mempengaruhi gairah seks. Fluktuasi hormonal juga menyebabkan kekeringan pada vagina, sehingga wanita mungkin mengalami nyeri saat berhubungan.
Namun, wanita bisa menjalin hubungan intim dengan pasangannya. Anda dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis dan mencari solusi medis seperti terapi hormon.
Pastikan juga untuk membangun komunikasi yang baik dengan pasangan. Jangan lupa komunikasikan segala keluh kesah Anda pada pasangan.
Baca juga: Apa Saja Gejala Menopause? Begini penjelasannya…menopause menyebabkan depresi
Beberapa wanita mungkin mengalami perubahan suasana hati akibat perubahan hormonal seperti rasa cemas yang berlebihan, mudah tersinggung, gugup, dan stres. Namun tidak semua wanita mengalami depresi.
Untuk mencegah depresi atau masalah mental lainnya, Anda bisa menerapkan pola hidup sehat sejak dini melalui olahraga, pola makan bergizi seimbang, dan manajemen stres. Menopause menurunkan kualitas hidup
Menopause tidak selalu menurunkan kualitas hidup. Banyak wanita menjalani kehidupan yang aktif dan produktif pada fase ini. Mental dan fisik akan berperan penting untuk mewujudkannya ke arah yang positif.
Dengan mengetahui mitos dan fakta seputar menopause, wanita bisa tetap tenang menghadapi fase alami tersebut. Dengarkan berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponsel Anda. Pilih saluran berita favorit Anda untuk mengakses saluran WhatsApp Kompas.com: https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan Anda telah menginstal aplikasi WhatsApp.
Artikel Menguak Mitos Seputar Menopause yang Perlu Wanita Tahu pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Artikel Perbedaan Menstruasi Normal dengan Endometriosis Menurut Ahli pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Seperti dilansir Healthline, jaringan ini bisa tumbuh di berbagai tempat, seperti ovarium, saluran tuba, dinding luar rahim, dan organ lain, seperti usus dan kandung kemih. Gejala umum endometriosis adalah kram menstruasi yang berat dan pendarahan hebat.
Namun penyakit ini seringkali terlambat didiagnosis karena banyak orang yang menganggap kram menstruasi dan pendarahan hebat adalah hal yang normal. Padahal, menstruasi normal berbeda dengan endometriosis.
Baca Juga: Mengenali Gejala Endometriosis yang Sering Diabaikan, Apa Saja?
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekolog Febrian Andhika Adiyana, Sp.OG menjelaskan perbedaan menstruasi normal dan endometriosis dapat dilihat dari durasi, intensitas, dan lokasinya.
Dr. Febrian kepada Kompas.com, Senin (4/11/2024).
Menurut Endometriosis, PMS dan kram menstruasi lebih parah dan persisten pada penderita endometriosis. Keluhan ini bisa membuat wanita lemas bahkan tidak sadarkan diri.
Andhika kemudian menjelaskan, bagi penderita endometriosis, kram menstruasi tidak hanya terlokalisasi di sekitar perut, tapi juga bisa menjalar ke area lain seperti punggung atau punggung bawah.
Selain itu, endometriosis dapat menyebabkan menstruasi tidak teratur, seperti bercak di luar periode menstruasi atau pendarahan hebat yang tidak dapat diprediksi.
Gejala endometriosis lainnya bisa berupa nyeri saat buang air besar, buang air kecil, atau berhubungan badan, kata dokter spesialis mata yang berpraktik di RS PKU Mohammadia Sukhoharjo.
Baca juga: Apa Itu Endometriosis dan Dampaknya Terhadap Kehamilan Apakah Endometriosis Bisa Disembuhkan Sepenuhnya?
Menurut dr Febrian, endometriosis tidak bisa disembuhkan sepenuhnya. Masalah yang mempengaruhi organ reproduksi wanita ini mungkin muncul kembali bahkan setelah pengobatan.
“Endometriosis merupakan kondisi yang sulit diobati sepenuhnya karena dapat muncul kembali setelah pengobatan. Namun gejalanya dapat dikurangi dengan beberapa pilihan pengobatan,” ujarnya.
Perawatan yang mungkin dilakukan untuk endometriosis termasuk obat-obatan, seperti pil KB, progestin, atau agonis GnRH untuk mencegah berkembangnya endometriosis.
Kemudian untuk pembedahan, dokter lulusan Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta ini mengatakan, bisa dilakukan melalui laparoskopi untuk mengangkat jaringan endometriosis pada kasus yang lebih parah.
Metode lain yang dapat digunakan untuk mencoba agar pasien dapat beraktivitas normal adalah terapi nyeri, perubahan gaya hidup, dan pola makan atau makan yang dapat mengurangi peradangan dan nyeri.
Baca Juga: Gaya Hidup Tidak Sehat Tingkatkan Risiko Kanker Endometrium?
Menurut dokter Andhika, kemungkinan hamil masih ada, namun memerlukan pendekatan khusus dan terapi yang tepat sesuai dengan tingkat keparahan endometriosisnya.
“Pada kasus endometriosis sedang hingga berat, dapat dilakukan laparoskopi untuk menghilangkan lesi endometriosis tersebut. Tujuannya untuk memperbaiki kondisi sekitar organ reproduksi, sehingga meningkatkan peluang terjadinya kehamilan,” ujarnya.
Sedangkan pada kasus endometriosis yang parah, bayi tabung bisa dicoba.
Andhika menjelaskan, bayi tabung bisa dilakukan dengan cara membuat embrio di luar tubuh, kemudian ditanamkan ke dalam rahim. Tujuan dari prosedur ini adalah untuk mengurangi dampak lingkungan sekitar rahim yang terganggu akibat endometriosis. Dengarkan berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponsel Anda. Pilih saluran berita favorit Anda untuk mengakses saluran WhatsApp Kompas.com: https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan Anda telah menginstal WhatsApp.
Artikel Perbedaan Menstruasi Normal dengan Endometriosis Menurut Ahli pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Artikel Deteksi Kanker Payudara, Lakukan “Sadari” Setiap Siklus Menstruasi pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>“Ini dilakukan satu bulan, setiap bulan setelah haid, sekitar hari ke 7-10 haid, payudara kanan dan kirinya sendiri diperiksa. Nah, ini minimal yang harus dilakukan seorang wanita,” kata konsultan bedah onkologi spesialis dari Rumah Sakit. Universitas Indonesia, Dr. Dr. Diani Kartini Sp.B Subsp Onk (K), seperti ditulis Antara, beberapa waktu lalu.
Baca juga: Pentingnya SADARI dan SADANIS untuk Deteksi Dini Kanker Payudara
Diani mengatakan, kewaspadaan dilakukan sekitar hari ke 7-10 menstruasi dengan memeriksa adanya benjolan di sekitar payudara atau mengamati perubahan bentuk payudara.
Ia mengatakan, pada siklus ini payudara membengkak dan terasa tidak nyaman, sehingga wanita sebaiknya mengenal payudaranya untuk mengamati perubahannya dan dengan mudah mengetahui apakah ada sesuatu yang berbeda.
“Misalnya bulan ini saat pemeriksaan mandiri terlihat putingnya tidak keluar, tapi kemudian seiring berjalannya bulan, bisa jadi misalnya di bulan keenam putingnya sudah masuk. Jadi harus hati-hati,” kata dokter yang juga praktik di RS Cipto Mangunkusumo itu.
Baca juga: Siapa yang Berisiko Terkena Kanker Payudara? Inilah faktor risiko…
Jika Anda merasakan adanya benjolan saat pemeriksaan payudara, Diani menyarankan segera menemui dokter untuk dilakukan pemeriksaan fisik atau penunjang.
Dokter yang berpengalaman akan dapat membedakan benjolan jinak atau ganas pada pemeriksaan fisik.
Sedangkan bila diperlukan pemeriksaan penunjang, dokter akan mengarahkan pemeriksaan melalui USG payudara, mamografi, atau MRI sesuai dengan usia pasien.
“Dari hasil mamografi, USG atau MRI akan terlihat jelas benjolan apa yang dirasakan wanita tersebut. Kalau ternyata itu kista, tumornya bisa tumor jinak atau tumor ganas. tentunya memberikan informasi apa langkah selanjutnya yang harus dilakukan,” ujarnya. Dengarkan berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponsel Anda. Pilih saluran berita favorit Anda untuk mengakses saluran WhatsApp Kompas.com: https://www.whatsapp .com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D.
Artikel Deteksi Kanker Payudara, Lakukan “Sadari” Setiap Siklus Menstruasi pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Artikel NEWS INDONESIA Apa Efek Olahraga Saat Haid? Berikut Penjelasannya… pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>Padahal, olahraga bisa menjadi salah satu cara efektif untuk meredakan rasa tidak nyaman saat menstruasi.
Artikel ini membahas tentang efek olahraga saat menstruasi dan jenis olahraga yang bisa dilakukan dengan aman.
Baca selengkapnya: Mengurangi ketidaknyamanan setelah berolahraga: untuk kualitas hidup yang lebih baik Apa efek olahraga saat menstruasi?
Beberapa orang beranggapan bahwa olahraga tidak dianjurkan saat menstruasi. Dari sudut pandang medis, olahraga dapat meringankan gejala pada wanita.
Pasalnya, olahraga dapat merangsang produksi hormon endorfin sebagai pereda nyeri alami dan meningkatkan mood.
Untuk lebih jelasnya berikut manfaat olahraga saat menstruasi: Mengurangi rasa sakit
Salah satu manfaat terbesar dari olahraga adalah meredakan kram dan nyeri haid.
Sebuah tinjauan tahun 2019 menemukan bahwa olahraga 45-60 menit tiga kali seminggu dapat mengurangi intensitas kram menstruasi.
Selain melepaskan endorfin, olahraga meningkatkan beta-dorphin dalam darah, yang menekan rasa sakit saat menstruasi. Meredakan kembung dan nyeri dada
Olahraga teratur dapat meningkatkan sirkulasi darah dan menurunkan kadar aldosteron, hormon yang menyebabkan retensi air.
Peradangan pada tubuh, seperti kembung dan nyeri payudara, bisa dikurangi dengan berolahraga.
Baca selengkapnya: Rutin berolahraga untuk mencegah serangan jantung saat bekerja
Tingkat hormon progesteron dan estrogen paling rendah pada wanita. Kondisi ini menyebabkan rasa lelah dan kurang berenergi.
Melalui olahraga, masyarakat dapat mengontrol energi dalam tubuh agar bersemangat dan tidak mudah lelah. Meningkatkan suasana hati
Di akhir menstruasi, kadar estrogen turun sehingga menimbulkan perasaan sedih, marah, cemas, atau depresi.
Untungnya, aktivitas fisik dapat membantu meningkatkan mood Anda dengan melepaskan endorfin dan neurotransmiter seperti endorfin yang menimbulkan perasaan bahagia.
Artikel NEWS INDONESIA Apa Efek Olahraga Saat Haid? Berikut Penjelasannya… pertama kali tampil pada SP NEWS GLOBAL INDONESIA.
]]>