Live score

sekolah ternak

puskesmas sumberrejo

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

benihtoto

advanced building ltd

7 brenovation

whatsapp marketing yusoftware

Kakinada Institute of Engineering and Technology

Projects | LJR28 Realty

Featured Trips & Itineraries - Gulliver Trips

Import & Export of premium Beverages

limonuk

Alert Care Ltd

Professional Service for Your Assets

Best Drop and Scratch Protection

The Best Valentine’s Gifts 2026

Комплексные поставки промышленного сырья

Барс - Каталог прицепов

ZBM Collections

IT SOLUTIONS & SERVICES

TEKNAS

ormastoto

venus beauty spa

near to me

wegen india

fucan - Your Ultimate Sports Hub

Balaji School of Sports Science - Sri Balaji University, Pune

tradedial

Mizoram Ground Water Authority

Whoogle Expo

Video Viral Oknum Ojol Mengamuk Saat Ditegur karena Lawan Arah - SP NEWS GLOBAL INDONESIA

SP NEWS GLOBAL INDONESIA

Berita Seputar Global Indonesia

Sports

Video Viral Oknum Ojol Mengamuk Saat Ditegur karena Lawan Arah

JAKARTA, KOMPAS.com – Sebuah video viral di media sosial memperlihatkan seorang pengemudi ojek online (ojol) marah kepada seorang pengemudi mobil setelah diperingatkan karena melanggar arah lalu lintas.

Read More : Rashford Masuk Daftar Jual, Man United Kesulitan Temukan Pembeli

Dalam video yang diunggah akun Instagram Jakarta Keras, kejadian bermula saat ada mobil yang mengejar sepeda motor Ojol yang melaju dari arah berlawanan di dekat tikungan dan menyuruhnya berbalik.

Baca juga: Awas Kemacetan, Ini 3 Titik Rekonstruksi di Tol Jakarta-Sigambek

Sopir ojek tidak menyetujui tindakan pengemudi mobil tersebut. Kemudian seorang sopir taksi yang mengendarai sepeda motor mengejar mobil tersebut dan terjadilah pertengkaran di antara mereka.

Jusri Bulubuhu, pendiri Jakarta Defensive Driving Consulting (JDTC), menilai hal tersebut mencerminkan menurunnya kualitas sumber daya manusia (SDM) di Indonesia.

Aksi protes ini menjadi pembelajaran buruk bagi masyarakat. Pelanggaran jika menjadi budaya akan menjadi gangguan dan hambatan bagi Indonesia, kata Jasri kepada Kompas.com, Senin (14/10/2024).

“Masyarakat bisa belajar dari kesalahan, tapi ini pada level yang berbeda. Perilaku buruk yang dilakukan berulang-ulang akan menimbulkan stigma negatif,” imbuhnya.

Baca Juga: Spek Pep Mang Digunakan Jokowi-Prabovo untuk Cek Pasukan Mako Primobil

Jusri juga menyoroti minimnya rasa malu di kalangan pelanggar lalu lintas saat ini.

“Kami melihat perilaku menyimpang ini sudah menjadi budaya. Pelanggaran-pelanggaran ini tidak hanya terlihat di lalu lintas jalan raya, tapi di semua aspek kehidupan, misalnya ada guru yang menegur siswa tapi ditentang, atau praktik korupsi,” ujarnya. .

Read More : SP NEWS GLOBAL MotoGP Mandalika 2024, Luca Marini: Seperti Balapan di Rumah Sendiri…

Menurut Jusri, saat ini pelanggaran lalu lintas kerap dilakukan secara berkelompok sehingga masyarakat yang tidak mau melanggar ikut terlibat.

“Kejahatan angkutan massal ini menjadi pelajaran buruk bagi anak-anak, dimana yang salah tetap benar, dan yang benar tetap salah,” ujarnya.

Baca Juga: Inchcape Pastikan Penjualan Mobil Listrik Pintar Terus Berlanjut di Indonesia

Meski demikian, Jusri juga menegaskan bagaimana seharusnya sanksi bagi pelanggar lalu lintas di jalan raya. Sekalipun mobilnya baik-baik saja, cara menghukumnya yang tidak tepat dianggap tidak adil.

“Benar dan salah itu bukan tugas kita, itu tugas polisi, hakim, kalau melihat ada yang berbuat salah sebaiknya dihindari, lebih baik dihindari,” coba pengemudi mobil dalam kasus ini. . “Beri dia pelajaran, supaya kalau berbuat kesalahan tidak apa-apa.” Tapi tukang ojek itu tidak setuju, kata Jusri.

“Jadi ketika kita melihat pelanggaran, kita catat dan viralkan, jangan langsung dikutuk. Tindakan seperti itu sungguh berbahaya karena bisa menimbulkan konflik,” tutupnya. Dengarkan berita terkini dan berita pilihan kami di ponsel Anda. Pilih saluran berita favorit Anda untuk mengakses saluran WhatsApp Kompas.com: https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan Anda telah menginstal WhatsApp.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *