Live score

sekolah ternak

puskesmas sumberrejo

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

benihtoto

advanced building ltd

7 brenovation

whatsapp marketing yusoftware

Kakinada Institute of Engineering and Technology

Projects | LJR28 Realty

Featured Trips & Itineraries - Gulliver Trips

Import & Export of premium Beverages

limonuk

Alert Care Ltd

Professional Service for Your Assets

Best Drop and Scratch Protection

The Best Valentine’s Gifts 2026

Комплексные поставки промышленного сырья

Барс - Каталог прицепов

ZBM Collections

IT SOLUTIONS & SERVICES

TEKNAS

ormastoto

venus beauty spa

near to me

wegen india

fucan - Your Ultimate Sports Hub

Balaji School of Sports Science - Sri Balaji University, Pune

tradedial

Mizoram Ground Water Authority

Whoogle Expo

Labirin Kebijakan BPJS Kesehatan dan Dilema Pelayanan Medis - SP NEWS GLOBAL INDONESIA

SP NEWS GLOBAL INDONESIA

Berita Seputar Global Indonesia

Kesehatan

Labirin Kebijakan BPJS Kesehatan dan Dilema Pelayanan Medis

Pada tahun pertama kali diluncurkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan pada tahun 2014, masyarakat Indonesia menyambutnya dengan penuh harap.

Read More : Diabetes pada Anak Meningkat: Pentingnya Deteksi Dini dan Pencegahan

Program ini disebut-sebut merupakan langkah penting menuju pencapaian cakupan kesehatan universal sehingga seluruh warga negara bisa mendapatkan layanan kesehatan yang memadai.

Namun sepuluh tahun kemudian, apakah BPJS benar-benar mencapai tujuannya?

Kenyataannya, banyak rumah sakit dan pasien kini terperosok dalam kebijakan yang seringkali bertentangan.

Baca juga: Rumah Sakit Multilateral, BPJS dan Penipuan

Di satu sisi, BPJS mengklaim efisiensi dan penghematan biaya operasional. Di sisi lain, kebijakan yang diterapkan seringkali mengabaikan kebutuhan medis pasien yang sebenarnya dan membebani rumah sakit.

Mari kita lihat situasi pasien yang menjalani hemodialisis (HD). Banyak yang menderita penyakit jantung atau penyakit penyerta lainnya yang memerlukan pemantauan medis secara rutin.

Namun kebijakan BPJS membatasi kunjungan rawat jalan hanya sebulan sekali. Pasien HE yang dipantau dua kali seminggu akan ditolak jika mencoba menemui ahli jantung di bulan yang sama.

Apakah kebijakan ini efektif? Mungkin, di atas kertas ya. Namun dalam praktiknya, pasien yang tidak mendapat nasihat medis dapat menghadapi masalah serius.

Rumah sakit seringkali berada dalam dilema: menolak klaim atau mematuhi kebijakan dan perawatan pasien yang membahayakan keselamatan pasien.

Read More : NEWS INDONESIA Rhinitis

Cerita lain datang dari seorang pasien dengan gangguan pernapasan akut. Dalam kasus ini, prosedur standar memerlukan tes gas arteri (AGD) untuk menentukan tingkat keparahan.

Namun jika pasien memenuhi kriteria saturasi oksigen <91 persen, permohonan BPJS bisa ditolak jika hasil AGD dinilai kurang memadai.

Baca Juga: Bom Waktu Kekurangan Keuangan BPJS Kesehatan

Menariknya, pedoman medis yang diakui secara internasional menekankan bahwa keputusan harus dibuat berdasarkan kombinasi gejala klinis dan bukan hanya parameter laboratorium tunggal. Namun sayangnya, manajemen sering kali mempunyai kekuasaan lebih besar dibandingkan keputusan medis. Rumah sakit berada di bawah tekanan.

Bukan hanya pasien, rumah sakit juga menghadapi beban yang semakin berat. Lambatnya sistem penyelesaian klaim membuat banyak rumah sakit, terutama rumah sakit swasta, kesulitan mempertahankan kelangsungan usahanya.

Beberapa rumah sakit harus meminjam uang untuk menutupi biaya perawatan pasien BPJS sambil menunggu pembayaran.

Masalahnya tidak berakhir di situ. Standar baru seperti Ruang Rawat Inap Standar (KRIS) mengharuskan rumah sakit melakukan renovasi besar-besaran untuk memenuhi 12 persyaratan yang ditetapkan.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *