Live score

sekolah ternak

puskesmas sumberrejo

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

benihtoto

advanced building ltd

7 brenovation

whatsapp marketing yusoftware

Projects | LJR28 Realty

Featured Trips & Itineraries - Gulliver Trips

Import & Export of premium Beverages

limonuk

Alert Care Ltd

Professional Service for Your Assets

Best Drop and Scratch Protection

The Best Valentine’s Gifts 2026

Комплексные поставки промышленного сырья

Барс - Каталог прицепов

ZBM Collections

IT SOLUTIONS & SERVICES

TEKNAS

ormastoto

venus beauty spa

near to me

7 Rekomendasi WHO Soal Pemberian MPASI pada Bayi - SP NEWS GLOBAL INDONESIA

SP NEWS GLOBAL INDONESIA

Berita Seputar Global Indonesia

Kesehatan

7 Rekomendasi WHO Soal Pemberian MPASI pada Bayi

KOMPAS.com – Terdapat 7 rekomendasi global Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang praktik pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) pada bayi.

Read More : Berapa Kadar Gula Darah Orang dengan Hiperglikemia?

Demikian dilansir Penasihat Regional UNICEF untuk Asia Timur dan Pasifik Alyssa Preece, seperti ditulis Antara.

Pertama, kata Alyssa, inti pemberian MPASI adalah menyusui. Oleh karena itu, selain pemberian MPASI, pemberian ASI juga harus dilanjutkan hingga anak berusia dua tahun atau lebih untuk memenuhi kebutuhan energi dan nutrisi anak.

“Hal ini didasarkan pada bukti bahwa ASI terus menyediakan energi yang dibutuhkan bayi selama dua tahun kehidupannya,” kata Alyssa.

Baca Juga: Para Ahli Mengatakan Beberapa Situasi Di Mana Bayi Dapat Mendapatkan Manfaat Dari Menyusui

Kedua, bayi yang mendapat ASI sudah bisa mengonsumsi susu formula dan susu hewani pada usia 6-11 bulan. Namun pada usia 12-23 bulan, susu hewani saja yang boleh diberikan, sedangkan susu formula atau susu bayi tidak dianjurkan.

Ketiga, bayi yang mendapat ASI sebaiknya diperkenalkan MPASI pada usia 180 hari atau 6 bulan. Alyssa mengatakan, menunda MPASI dapat menghambat tumbuh kembang anak.

“Keterlambatan (pemberian) MPASI bisa berbahaya, sehingga disarankan pengiriman MPASI enam bulan sekali,” kata Alisa.

Keempat, anak usia 6-23 bulan sebaiknya mendapat MPASI dalam bentuk lain. Ia fokus pada 3 jenis makanan sebagai sumber energi dan nutrisi, makanan hewani seperti daging, ikan atau telur yang diberikan setiap hari.

Lalu ada buah-buahan dan sayur-sayuran yang diberikan setiap hari serta kacang-kacangan yang dikonsumsi sebanyak-banyaknya, apalagi jika sumber makanan hewani pada pola makan anak rendah.

Kelima, Alyssa mengingatkan kita untuk tidak mengonsumsi makanan dan minuman tidak sehat yang tinggi gula, garam, dan lemak trans.

Read More : Kasus Kanker Paru Meningkat pada Non-perokok, Diduga Akibat Polusi Udara

Baca juga: Apakah ASI Mengurangi Risiko Kanker Payudara? Di bawah ini adalah penjelasan profesional

Alyssa mengatakan konsumsi makanan dan minuman tidak sehat meningkatkan risiko malnutrisi, kelebihan berat badan, dan pola makan tidak sehat.

“Ada bukti bahwa produk-produk tersebut terkait dengan kekurangan gizi, kelebihan berat badan, dan dapat menimbulkan preferensi rasa yang berujung pada kebiasaan makan tidak sehat dalam jangka panjang,” jelasnya.

Keenam, apabila kebutuhan gizi anak tidak tercukupi melalui makanan padat, maka anak usia 6-23 bulan dapat memperolehnya dari makanan pendamping ASI atau makanan padat.

“Mengonsumsi makanan pendamping ASI berbahan dasar biji-bijian dan makanan yang difortifikasi dapat meningkatkan indikator status zat besi, termasuk meningkatkan kemampuan mental dan motorik dibandingkan tidak mengonsumsinya,” kata Elisa.

Ketujuh, pemberian makan pada anak usia 6-23 bulan harus dilakukan secara bertanggung jawab, yaitu dengan menerapkan praktik pemberian makan yang mendorong anak untuk makan secara mandiri.

“Hal ini untuk merespons kebutuhan fisik dan perkembangan yang dapat mendorong pengaturan diri dalam pangan dan mendukung fungsi kognitif perkembangan emosional dan sosial,” ujarnya. Dengarkan pilihan berita dan berita kami langsung ke ponsel Anda. Pilih saluran berita favorit Anda untuk mengakses saluran WhatsApp Kompas.com: https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan Anda telah menginstal aplikasi WhatsApp.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *